April, 2009 Archive

Apr 30

inilah kisah kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken atau KFC yang telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.

Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Dia lahir pada 9 September 1890 di Henryville, Indiana, namun baru mulai aktif dalam mewaralabakan bisnis ayamnya di usia 65 tahun. Di usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia sudah mulai menunjukkan kebolehannya.

Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah, sehingga ia meninggalkan rumah tempat tinggalnya untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Indiana. Selepas itu, ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

Pertama, sebagai tukang parkir di usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan ke Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.

Di usia 40 tahun, Kolonel ini mulai memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin. Kolonel Sanders belum punya restoran pada saat itu. Ia menyajikan makanannya di ruang makan di bengkel tersebut. Karena semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran bisa menampung 142 orang.

Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi negara bagian Cuisine. Dan pada tahun 1939, keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines Adventures in Good Eating.

Di awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel ini akhirnya menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.

Dikarenakan memiliki rasa percaya diri kuat akan kualitas ayam gorengnya, Kolonel membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi negara bagian ini dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual.

Pada 1964, Kolonel Sanders sudah memiliki lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu juga ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y Brown Jr, (kelak menjadi Gubernur Kentucky). Pada tahun 1976, sebuah survey independen menempatkan Kolonel Sanders sebagai peringkat kedua dari deretan selebriti yang terkenal di dunia.

Di bawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh pesat yang kemudian menjadi perusahaan terbuka pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3.500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan ini beroperasi hampir di seluruh dunia. Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari RJ Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco Inc oleh PepsiCo Inc, seharga kurang lebih 840 juta dolar.

Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya KFC, Taco Bell dan Pizza Hut menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans Inc. Pada Mei 2002, perusahaan ini mengumumkan persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.

KFC berkembang pesat. Kini, lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel ini dinikmati setiap tahunnya, bukan hanya di Amerika Utara, bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia. Tapi Kolonel Sanders tidak lagi bisa menyaksikannya. Pada 1980, di usia 90 tahun, ia terserang leukemia. Ia meninggal seusai melakukan perjalanan 250.000 mil dalam satu tahun kunjungannya ke restoran KFC di seluruh dunia.
Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat usia senja. Kolonel Sanders, pendiri KFC.

Sekarang udah banyak aja nh cabangnya d berbagai tempat d sekitar kita ini. And yg bisa gw bilang ayamnya uenak bgt dah, apalagi twisternya. Tapi yg penting dr kisah dia ini, dia mmg benar2 berusaha dr yg g ada apa2nya hingga bsa sukses. Walaupun itu hanya bsa d rasakannya saat tua hasilnya tapi kegigihannya mmg benar2 menghasilkan sesuatu yg hebat. So walopun kita ini belum sukses sekarang ini maka teruslah berusaha sebaik mungkin sampai titik penghabisan. Dan semoga kegigihan kita itu suatu saat akan membuahkan hasil jg. Jd jangan pntang menyerah, liatlah dulunya Colonel Sanders ini bukanlah sama skali apa2, dan lihatlah apa yg dia hasilkan sekarang ini.

sumber (copy paste dr ini):
http://reallife65.blogspot.com/2009/…l-sanders.html
http://www.kfc.com/about/colonel.asp

Apr 18

Tanggal 9 April 2009, ya, di hari pemilu itu, banyak orang bilang senang bisa memilih? Bingung karena begitu banyak pilihan terbentang di kertas suara? Biasa saja? Atau malah marah karena namanya tak ada dalam DPT? Bagi saya, tidak mengalami empat rasa itu. Yang justru menyelimuti otak saya adalah perasaan menjadi bangsa terbodoh di dunia. Di dunia itu tinggal dua negara yang pemilunya masih memakai sistem mencoblos: Kamerun dan Indonesia, (ngutip dari pernyataan Jusuf Kalla). Jadi Mencontreng sama saja dengan mencoblos. Sama-sama primitif. Saya dan seperti kebanyakan orang kota saat ini apalagi kalangan Praktisi IT, sudah terpola hidup yaitu : Bangun pagi, langsung menyambar BlackBerry atau komputer jinjing, menyalami teman-teman di Facebook, Plurk, dan Twitter. Sarapan pagi sambil membaca detik.com, Digg, epaper kompas di laptop. Saat berangkat menuju tempat pemungutan suara, tak melupakan ponsel dan BlackBerry. Setengah jam menunggu nama dipanggil, kembali tenggelam ke dunia maya, membaca berita pemilu terbaru dan hasil survei yang memenangkan sebuah partai biru.

Jadi bisa dibayangkan orang Kota dengan pola seperti itu harus memilih secara primitif: mencontreng. Berhadapan dengan kertas suara sebesar koran, Dimana mereka ini cuma bisa menyumpah-nyumpah dalam hati. Mengapa tidak memakai pemilu elektronik? . JAdi mereka dan saya merasa dipenjarakan oleh kebodohan kolektif para wakil rakyat yang memilih cara kuno untuk pemilu.

Brasil, negara yang sama miskinnya dengan Indonesia, telah melakukannya sejak dulu. Mereka menyiapkannya selama 15 tahun. India juga idem ditto. Sebanyak 714 juta pemilih dilayani dengan 1,1 alat pemilu elektronik (EVM). Anggaran pemilu pun bisa dihemat menjadi US$ 400 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Bandingkan dengan anggaran pemilu Indonesia yang mencapai Rp 18 triliun.

Bahkan Estonia pada akhir Desember 2008 membolehkan pemilih memberikan suara lewat ponsel. Setahun sebelumnya, negara mungil itu membolehkan orang memilih lewat Internet.

Bayangkan, dengan Internet atau ponsel, sekali klik, data bisa langsung terkumpul di TPS, kecamatan, kabupaten, dan juga ke kantor pusat KPU. Betapa mudahnya. Berapa anggaran yang bisa dihemat KPU? Dengan cara contrengagar kelihatan canggih dan ada cipratan proyekKPU sekarang memilih mencetak kertas suara segede koran. Hasilnya dibawa ke kecamatan, lalu diboyong lagi ke kabupaten. Di sini baru kertas suara dipindai (scan).

Hasilnya berupa gambar yang kemudian dengan teknologi pengenal huruf (optical character recognition), gambar itu menjadi angka-angka. Betapa repotnya.

Bagi praktisi IT jelas sekali bisa menunjukkan kelemahan sistem ini dengan gampang. kalau untuk memasukkan data seperti itu, misalkan butuh waktu lima menit, dalam satu jam baru terkumpul 12 suara. Sehari semalam berarti satu komputer cuma bisa mengolah 288 pemilih. Ya, Tuhan, betapa lambatnya. Di TPS saya saja ada 400 pemilih. Kalau ada 100 juta pemilih, butuh berapa lama? itulah salah satu yang membuat hasil tabulasi Komisi Pemilihan Umum ini lambat sekali, kalah jauh dibandingkan dengan Pemilu 2004, bahkan dengan Pemilu 1999. Pada pemilu sekarang, pada hari keenam (H+6) setelah pemilu baru terkumpul 8,19 juta suara (4,78 persen pemilih). Padahal, pada Pemilu 1999, pada H+6 sudah terkumpul 35,33 juta suara (30,1 persen pemilih). Pada Pemilu 2004, pada H+6 sudah terkumpul 76,5 juta suara (51,7 juta suara).

Padahal anggaran komputer yang dipakai KPU kali ini tak jauh berbeda. Pada Pemilu 2004, dana yang dihabiskan untuk sistem ini Rp 312 miliar, sedangkan sekarang Rp 287,2 miliar.

Jadi duit ratusan miliaran itu dicipratkan ke mana saja, ya? Mending buat buat dana Pinjaman bagi para pengusaha muda…

Catatan Kaki Teknologi Informasi