Saya pernah membeli LCD GTC dengan harga hanya 600 ribu rupiah saja, dimana ? Di Glodok, tapi belakangan LCD itu rusak, setelah saya analisa ternyata Inverternya yang masalah, demi menghemat waktu dan biaya saya coba bongkar untuk ambil inverternya, ternyata ada dua hal yang saya ketahui, pertama Inverternya hangus, dan kedua ternyata inverternya bukan asli Inverter untuk LCD GTC, tapi rakitan sendiri yang komponennya boleh nyomot dari komponen Monitor lain… pantes aja harganya murah.. emang Glodok tuh bisa aja.
Ada lagi cerita teman saya, dia pernah dapat BlackBerry yang pinnya cantik yaitu sama dengan namanya, misalnya d0n1y3n yang awalnya PIN itu adalah D4FF4258, jadinya mudah banget menghapal PIN nya
Memang Memasuki Glodok, Jakarta, memang seperti memasuki dunia yang penuh akal bulus. Di kawasan Pecinan itu tak hanya ada berderet-deret barang elektronik berbagai merek. Di lorong-lorong sempit di Glodok juga tersimpan akal-akal pintar.
Coba kita FlashBack ke belakang. Waktu itu, Fren menggebrak pasar dengan ponsel murah yang berdesain lembut. Ponsel itu dikunci sehingga hanya bisa memakai jaringan Fren, yang tarifnya semahal tarif GSM.
Dari sudut-sudut gelap di pertokoan Glodok itulah kemudian mengalir akal bulus. Kunci ponsel Fren ini dibuka. Ponsel bisa dipakai untuk jaringan lain, seperti Esia, yang bertarif lebih murah.
Peminatnya membludak. Glodok pun tiba-tiba kebanjiran bisnis unlock ponsel. Ponsel apa saja bisa dibuka kuncinya, tak terkecuali ponsel mahal sekelas iPhone, PDA, atau BlackBerry.
Tapi ada hal yang minus adalah Glodok cuma berhenti pada kepingan bisnis membuka ponsel atau membuat DVD bajakan. Mereka seperti tak pernah mau berjalan lebih jauh, yakni menuju hulu akal usil: KREATIF.
Pedagang-pedagang di Glodok sepertinya sudah cukup puas dengan hanya menjadi pedagang. Amat jarang pedagang-pedagang di sana punya keberanian mengumpulkan kepingan-kepingan akal usil lalu merajutnya sehingga menjadi sebuah penemuan yang hebat.
Mengapa Glodok tak bisa menjadi Taiwan? Taiwan pada mulanya ditopang oleh sekumpulan para penjiplak. Mereka meniru produk apa saja, dari sandal, radio, sepeda motor, hingga komputer. Tapi para pedagang di negeri seupil itu tak puas hanya jadi peniru. Mereka juga ingin menjadi penemu.
Orang-orang pintar seperti Stan Shih mendirikan Acer. Lalu ada Nyonya Cher Wang, yang merintis pabrik komputer genggam (PDA) HTC. Mereka dulu bukan siapa-siapa. Dulu mereka hanya menjadi penjahit untuk komputer atau PDA buatan Amerika Serikat, seperti Hewlett Packard atau Dell.
Yang terjadi kemudian adalah sekelompok peniru dan penjahit komputer dari Taiwan ini bangkit. Lalu industri prosesor dan komputer di Taiwan tumbuh bak cendawan di musim hujan. Ada ASUS, Gigabyte, MSI, Axioo, dan sederet nama yang mungkin tak terlalu dikenal oleh pembeli komputer di sini.


Lihatlah Taiwanjuga Cinakini. Merekalah raja komputer sesungguhnya di dunia ini. Dari 10 merek besar komputer di dunia, delapan di antaranya berasal dari Taiwan. Bahkan perusahaan seperti Acer pun mencaplok perusahaan komputer Amerika, seperti Getaway. IBM juga takluk kepada perusahaan tetangga Taiwan, Lenovo dari Cina daratan.
Sayangnya, pedagang-pedagang Glodok tidak seperti pedagang Taiwan. Keusilan mereka mandek pada level pedagang. Bukan penemu.
Tapi Mungkin kita tak sepenuhnya menyalahkan mereka, karena ini juga karena Pemerintah Kita tidak seperti Pemerintah Taiwan, DI sana Pemerintah sangat mendukung dan memberi kemudahan bagi para pebisnis kreatif tersebut. Sedangkan Pemerintah disini kita tahu sama tahu bisa cuma menyusahkan saja, yang ujung-ujungnya minta Jatah Preman dari bagian hasil pebisnis Kreatif di Glodok.
Nasib Nasib….







