October, 2010 Archive

Oct 17

Saya pernah membeli LCD GTC dengan harga hanya 600 ribu rupiah saja, dimana ? Di Glodok, tapi belakangan LCD itu rusak, setelah saya analisa ternyata Inverternya yang masalah, demi menghemat waktu dan biaya saya coba bongkar untuk ambil inverternya, ternyata ada dua hal yang saya ketahui, pertama Inverternya hangus, dan kedua ternyata inverternya bukan asli Inverter untuk LCD GTC, tapi rakitan sendiri yang komponennya boleh nyomot dari komponen Monitor lain… pantes aja harganya murah.. emang Glodok tuh bisa aja.

Ada lagi cerita teman saya, dia pernah dapat BlackBerry yang pinnya cantik yaitu sama dengan namanya, misalnya d0n1y3n yang awalnya PIN itu adalah D4FF4258, jadinya mudah banget menghapal PIN nya

Memang Memasuki Glodok, Jakarta, memang seperti memasuki dunia yang penuh akal bulus. Di kawasan Pecinan itu tak hanya ada berderet-deret barang elektronik berbagai merek. Di lorong-lorong sempit di Glodok juga tersimpan akal-akal pintar.

Coba kita FlashBack ke belakang. Waktu itu, Fren menggebrak pasar dengan ponsel murah yang berdesain lembut. Ponsel itu dikunci sehingga hanya bisa memakai jaringan Fren, yang tarifnya semahal tarif GSM.

Dari sudut-sudut gelap di pertokoan Glodok itulah kemudian mengalir akal bulus. Kunci ponsel Fren ini dibuka. Ponsel bisa dipakai untuk jaringan lain, seperti Esia, yang bertarif lebih murah.

Peminatnya membludak. Glodok pun tiba-tiba kebanjiran bisnis unlock ponsel. Ponsel apa saja bisa dibuka kuncinya, tak terkecuali ponsel mahal sekelas iPhone, PDA, atau BlackBerry.

Tapi ada hal yang minus adalah Glodok cuma berhenti pada kepingan bisnis membuka ponsel atau membuat DVD bajakan. Mereka seperti tak pernah mau berjalan lebih jauh, yakni menuju hulu akal usil: KREATIF.

Pedagang-pedagang di Glodok sepertinya sudah cukup puas dengan hanya menjadi pedagang. Amat jarang pedagang-pedagang di sana punya keberanian mengumpulkan kepingan-kepingan akal usil lalu merajutnya sehingga menjadi sebuah penemuan yang hebat.

Mengapa Glodok tak bisa menjadi Taiwan? Taiwan pada mulanya ditopang oleh sekumpulan para penjiplak. Mereka meniru produk apa saja, dari sandal, radio, sepeda motor, hingga komputer. Tapi para pedagang di negeri seupil itu tak puas hanya jadi peniru. Mereka juga ingin menjadi penemu.

Orang-orang pintar seperti Stan Shih mendirikan Acer. Lalu ada Nyonya Cher Wang, yang merintis pabrik komputer genggam (PDA) HTC. Mereka dulu bukan siapa-siapa. Dulu mereka hanya menjadi penjahit untuk komputer atau PDA buatan Amerika Serikat, seperti Hewlett Packard atau Dell.

Yang terjadi kemudian adalah sekelompok peniru dan penjahit komputer dari Taiwan ini bangkit. Lalu industri prosesor dan komputer di Taiwan tumbuh bak cendawan di musim hujan. Ada ASUS, Gigabyte, MSI, Axioo, dan sederet nama yang mungkin tak terlalu dikenal oleh pembeli komputer di sini.


Lihatlah Taiwanjuga Cinakini. Merekalah raja komputer sesungguhnya di dunia ini. Dari 10 merek besar komputer di dunia, delapan di antaranya berasal dari Taiwan. Bahkan perusahaan seperti Acer pun mencaplok perusahaan komputer Amerika, seperti Getaway. IBM juga takluk kepada perusahaan tetangga Taiwan, Lenovo dari Cina daratan.

Sayangnya, pedagang-pedagang Glodok tidak seperti pedagang Taiwan. Keusilan mereka mandek pada level pedagang. Bukan penemu.

Tapi Mungkin kita tak sepenuhnya menyalahkan mereka, karena ini juga karena Pemerintah Kita tidak seperti Pemerintah Taiwan, DI sana Pemerintah sangat mendukung dan memberi kemudahan bagi para pebisnis kreatif tersebut. Sedangkan Pemerintah disini kita tahu sama tahu bisa cuma menyusahkan saja, yang ujung-ujungnya minta Jatah Preman dari bagian hasil pebisnis Kreatif di Glodok.

Nasib Nasib….

Oct 15

Dulu saya pernah bekerja di perusahaan Internet ternama, Mweb, bekerja di perusahaan Internet saat memang merupakan impian banyak orang kala itu, tapi badai Rontoknya perusahaan DotCom ikut menggulung Mweb di Indonesia hingga tak tersisa.

Dari situlah saya sadar bahwa bisnis dotcom sangat dinamis dan kerap seperti gelembung sabun yang cepat besar dan cepat pula pecah. Mau bukti lagi ? yang paling jelas adalah Yahoo!, Google, Facebook dan Twitter. Era 1998-an adalah zaman keemasan Yahoo!. Dia adalah dotcom nomor satu. Iklan banner membanjir. Satu orang super sales Yahoo!, seperti Ariel Singh, bisa mengandeng perusahaan Procter and Gamble (P&G) untuk mengucurkan jutaan dolar untuk iklan banner.

yhsg1Paul Graham, salah satu karyawan senior Yahoo saat itu menganjurkan David Filo, salah satu pendiri Yahoo! untuk mengakuisisi Google yang kala itu masih bayi. Filo waktu itu menolak. Alasannya, Kami sudah besar dengan iklan banner, mengapa kami perlu iklan baris Google Adsense. Alasan Filo, saat itu bisnis mesin pencari cuma 6 persen dari total pengunjung Yahoo! dan Yahoo! setiap bulan pengunjung Yahoo! bertambah 10 persen.

Filo tak menyadari bahwa pengunjung mesin pencari itu jauh lebih berharga ketimbang pengunjung portal Yahoo! Para pemasang iklan seperti P&G saat itu tutup mata soal segmentasi dan target dari iklannyanya. Itu dulu, kini semua berubah.

Sekarang pemasang iklan benar-benar mengukur target audiennya. Jadi, mesin pencari adalah cara ampuh untuk membidik konsumen yang tepat. Saat orang mencari modem di Google, di sebelahnya ada iklan baris modem. Itulah yang membuat pengunjung mesin pencari lebih dari pengunjung portal biasa. Jauh lebih tepat sasaran.

Google pun membuat goncang dunia. Dia tumbuh menjadi raksasa bahkan tak terkejar lagi oleh Yahoo! yang cuma mengandalkan iklan banner. Saham Google mencorong hingga tembus ke harga premium, US$ 150 per lembar saham. Google menjadi impian tempat kerja bagi para programer. Mereka juga berekspansi membeli YouTube, biro iklan internet DoubleClick, melahirkan Google Earth. Badannya jadi tambun. Jumlah karyawannya membengkak menjadi 19,835 ribu di seluruh dunia.

g1Tapi, cerita belum selesai. Sejak awal Januari 2010 peta kekuasaan internet telah berubah. Facebook, tiba-tiba menyalip Google. Jumlah pengunjungnya lebih banyak. Orang-orang pun tersentak. Twitter juga mencuri dalam lipatan. Era sosial media mulai menggerus popularitas Google. Demokrasi informasi membuat semua orang menjadi sumber informasi, tidak cuma Google yang punya informasi.

Dulu, orang yang hendak membeli sepatu atau modem akan pergi ke Google dan mencari tahu sepatu apa yang dia beli. Sekarang, mereka akan pergi ke Facebook atau Twitter dan bertanya kepada temannya, Sepatu atau modem jenis apa yang bagus untuk dibeli? Jadi, masihkah orang butuh mesin pencari?

Pesta mesin pencari sudah usai, begitu Fortune menulis. Google bukan lagi perusahan yang hot. kata Marc Benioff, CEO Salesforce.com. Harga saham dia terus menurun sejak Januari.

Google mulai kehilangan amunisi pencari uang. Ok, Google memang punya amunisi baru Android. Ponsel berbasis software bikinan Google ini mulai mencuri pasar di berbagai wilayah. Menurut Google, setiap hari ada 160 ribu ponsel Android. Sayang, Google belum bisa menjadikan Android sebagai mesin uang karena Android selama ini gratis. Produsen ponsel manapun boleh memakainya. Bandingkan, dengan iPhone bikinan Apple yang telah mendatangkan duit US$ 15 miliar bagi Steve Jobs.

facebook8_2Pesta Google mungkin sudah usai. Walau, ada juga yang masih optimis. Yang pasti, balon perusahaan ini sedang mengempis. Betapa mudahnya, perusahaan ini mengembang dan mengempis.

Oct 12

salmankhanTAK ada sekat suku bangsa, ruang, apala gi teritorial. Baik yang ada di ujung Samudra Atlantik hingga pedalaman Hutan Amazon, semua diajari Salman Khan lewat sekolah dunia maya miliknya secara cuma-cuma.

Bagi sebagian orang, matematika memang sudah seperti momok yang sulit dimengerti, apalagi dikuasai. Perasaan yang sama dialami pula oleh seorang bocah Korea berusia 11 tahun.

Tapi, siapa sangka pelajaran yang selalu membuatnya stres tersebut berbalik menjadi pelajaran favoritnya setelah ia membuka situs buatan SalmAn Khan, www.khanacademy.org.

Tidak hanya anak dari Korea, sepasang orang tua di California, AS, tampak tak kuasa meluapkan rasa senang atas kemajuan yang dilakukan anak mereka dalam pelajaran aljabar.

“Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih,” ucapnya di situs yang dikelola seorang pria yang baru menginjak usia 33 tahun.

Salman Khan, sang pendiri sekolah virtual Khan Academy, mungkin tak pernah mengira situs yang diawali dari sekadar rasa ingin membantu sepupunya yang kesulitan di pelajaran matematika secara jarak jauh ternyata mampu membantu setidaknya 200 ribu muridnya di seluruh penjuru dunia.

Bahkan belum lama ini, penguasa dunia komputer Bill Gates secara terang-terangan mengakui Sal–panggilan akrab Salman Khan–sebagai guru favoritnya sepanjang masa. “Mengagumkan, aku sudah mencobanya bersama anakku,” ucapnya kepada CNN baru baru ini.

Pria yang mengantongi sederet gelar akademis tersebut seharusnya bisa dengan mudah bekerja di perusahaan kelas dunia mana pun. Tetapi Sal lebih suka mengembangkan sekolah online-nya yang dimulai sejak 2006 tersebut.

Ide mengajar di dunia maya ini muncul begitu saja saat Sal merasa lelah dan bosan mengulang-ulang materi ajarnya di antara kerabat dan temanteman keluarganya. Video pertama yang ia buat adalah pelajaran mengonversi gram untuk kilogram yang sebenarnya ditujukan bagi sepupunya.

Sal pun menaruh video tersebut di Youtube agar dapat diakses semua orang.

Tak butuh waktu lama bagi Sal untuk menyadari kebermanfaatan videonya. Sal pun mulai keranjingan membuat video pengajaran sebanyak mungkin.

Bahkan ia meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan sekelas MVC Modal Ventura serta arsi tek teknis di Scient Corporation ataupun jabatannya sebagai Senior Manager Product Oracle Corporation.
Teknologi sederhana Lebih dari 18 ribu video tutorial yang diciptakan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat berdarah India itu telah dilihat setidaknya 70 ribu kali setiap harinya secara gratis. Hebatnya, semua itu dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, hingga menjadi guru sekaligus.

Padahal, video yang dibuat Sal hanya menggunakan teknologi yang sederhana. Ia hanya menggunakan perangkat lunak Microsoft Paint berteknologi rendah untuk membuat sketsa, dengan latar belakang hitam dan garis-garis berwarna cerah dan persamaan ketika ia bekerja melalui penjelasannya.

“Saya tidak bisa membayang kan penggunaan waktu yang lebih baik dari (membuat video tutorial) ini. Dengan hanya sebuah komputer dan mouse pena-tablet, seseorang dapat mendidik dunia! Bahkan lebih baik. Isi akan bertahan lama.
Saat cucu-cucu saya dan Anda besar, mereka bisa belajar dari video yang sama,” papar Sal.

Daya tarik video berdurasi 10-15 menit tersebut ada pada metodenya. Sal tidak membuat orang merasa sedang menyaksikan seseorang yang sedang mengajar di depan kelas.

Video yang dibuat Sal membuat murid-muridnya merasa ia sedang berada di sisi mereka bersama-sama menyelesaikan soal-soal di kertas kerja.

“Jika Anda menonton seorang pria menyelesaikan persoalan (sambil) berpikir keras, saya pikir orang akan menyadari bahwa hal itu lebih berharga dan tidak menakutkan,” jelas Sal.

Video yang mungkin dirasa konvensional ini layaknya virus yang telah disebar begitu cepatnya di seluruh dunia. Google bahkan telah menawarkan US$2 juta sepanjang 2 tahun terakhir untuk biaya pengembangan sekolah virtual.

“Orang ini luar biasa. Sangat mengagumkan, mengingat begitu besar hal yang telah dilakukannya dengan sumber daya yang sangat sedikit,” ungkap Bill Gates.

Caranya sendiri Sal, kelahiran New Orleans, Louisiana, AS, dengan orang tua imigran India dan Bangladesh, ini mengaku sekitar lebih dari 600 subjek pelajaran yang ia buat sama sekali bukanlah berasal dari teori dalam buku.
Pelajaran yang ditampilkan, imbuhnya, adalah interpretasi yang dibuatnya dengan caranya sendiri.

“Saya mengajarkan cara yang saya pun ingin diajari seperti itu, manusia yang terpesona oleh dunia. Yang saya ajarkan bukan yang tertulis dalam buku teks dari birokrasi pendidikan,” jelasnya.

Sal tak berpikir dua kali menyebarkan video ini ke seluruh dunia secara gratis termasuk daerah perdesaan di Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Peraih Tech Award Tahun 2009 untuk kategori pendidik an tersebut mengaku tidak pernah berniat mengapitalisasi apa yang sudah ia buat dengan menjual karyanya tersebut.
“Saya telah memiliki istri yang cantik, anak lucu, dua Honda, dan sebuah rumah yang layak.
Itu cukup,” ungkap Sal.

Ia cukup bersyukur, apa yang dilakukannya mendapat perhatian dari beberapa orang. Karenanya, Sal tak pernah kekurangan dana untuk mengembangkan materi ajarnya.

Bahkan Sal punya mimpi, jika kelak punya uang US$1 juta dolar, ia akan mengembangkan sebuah peranti lunak yang dapat membuat problem set serta membuat terjemahan yang lebih luas. “Agar semua orang benar-benar bisa menikmati,” ujarnya.

Sumber techawards.org

Oct 05

Baru baru Norton merilis laporan berjudul Norton Cybercrime Report: The Human Impact, yang menceritakan Kejahatan Dunia Maya. Untuk Indonesia Saat ini kejahatan cyber di Indonesia telah menyerang setidaknya 86% pengguna internet. Angka tersebut didapatkan dari hasil survei secara daring yang dilakukan salah satu firma riset The Leading Edge atas nama Symantec Corporation pada April 2010.

Contoh kecil yang paling sering adalah, pembajakan Account Facebook yang kemudian di salahgunakan untuk menipu salah satu temannya. Satu dari dua (45%) korban kejahatan cyber di Indonesia tidak pernah menyelesaikan secara tuntas kejahatan cyber yang mereka alami. Ini salah satu penyebab sulitnya membongkar kejahatan dunia maya.

Sebagai responden ialah 499 orang dewasa di Indonesia, dengan proporsi gender lakilaki:perempuan ialah 6:4.

Lantas apa saja yang di sebut CyberCrime, yaitu yang paling sering adalah penipuan kartu kredit, hacking, pelecehan, pencurian identitas, penipuan termasuk penipuan lotre atau lowongan pekerjaan, ajakan melakukan hubungan seksual, phishing yang semuanya dilakukan secara daring, serta penyebaran virus atau malware. Untuk menindak kejahatan tersebut, ternyata butuh Biaya mahal yang akan membeludak akibat tingginya ongkos yang diperlukan untuk menindak pelaku kejahatan cyber, baik dari segi waktu dan finansial.

Dari survei tersebut, jika dirata-ratakan, waktu yang diperlukan korban di Indonesia untuk memperoleh penyelesaian kasusnya adalah 36 hari dengan biaya yang dihabiskan rata rata sebesar Rp11.558.945 (US$1,265).

cybercrimeJadi, ya memang sangat wajar jika korban enggan melaporkan kerugian mereka. Para penjahat cyber sangat cerdik membuat kejahatan di dunia maya terlihat sepele. Yang ada, sebagian besar korban akan merasa akan ditertawakan penegak hukum jika mereka melaporkannya, Apalagi regulasi juga tidak mendukung.

Hampir tak ada polisi yang mau mengurusi kehilangan uang Rp ribu20-Rp30 ribu dalam penipuan di dunia maya.

Pakar krimonologi UI, Erlangga Masdiana, merujuk kasus kejahatan internet di Indonesia pada 2004. Waktu itu, jumlah penyelesaian kasus kejahatan cyber sangat minim, meski Indonesia memiliki kasus kejahatan internet tertinggi di dunia.
“Penyebabnya mulai keterbatasan pemahaman cybercrime di aparat penegak hukum, minimnya dana pelatihan bagi pene gak hukum, tidak adanya laboratorium forensik komputer, citra lembaga peradilan yang buruk, sampai rendahnya tingkat kesadaran untuk melaporkan kejahatan tersebut,” paparnya.

Erlangga menekankan perlunya meningkatkan keahlian penegak hukum di bidang kejahatan cyber, bukan semata regulasi.
Mendunia Tak hanya di Indonesia, kejahatan cyber telah menjadi ancaman mendunia yang serius. Menurut data dari FBI, penjahat cyber saat ini berhasil menghasilkan uang lebih banyak daripada pengedar narkoba. Mereka menghasilkan sekitar US$720 ribu per tahunnya.

Angka tersebut memungkinkan untuk diraih, mengingat cara operasi para penjahat cyber tersebut layaknya organisasi profesional. FBI memperkirakan adanya penerapan pola dan manajemen ala perusahaan modern dalam organisasi kejahatan cyber yang membuatnya lebih produktif.

Misalnya pekan lalu, ketika kejahatan internet dengan kerugian jutaan dolar berhasil dibongkar di AS dan Inggris.

Kejaksaan federal di New York, menyatakan memiliki sejumlah bukti yang mengkaitkan 60 orang dengan penarikan rekening-rekening bank di Amerika Serikat senilai US$3 juta. Para pelaku yang sebagian besar warga Rusia dan Eropa Timur tersebut diduga menggunakan virus Zeus Trojan untuk memasuki dan membobol rekening-rekening perorangan dan perusahaan di Amerika Serikat. Para peretas tersebut kemudian mentransfer `uang curian’ ke rekening-rekening bank yang dibuat komplotan mereka. Uang itu kemudian ditarik secara tunai untuk dibawa kembali ke Eropa.

“Mouse dan keyboard bisa jauh lebih efektif daripada senjata dan masker,” ucap pejabat kejaksaan AS, Preet Bharara.

Di pekan yang sama, Inggris berhasil melacak US$49,5 juta yang raib dari beberapa rekening bank di Inggris. Polisi London Raya mengatakan setidaknya 19 orang diduga menggunakan virus komputer untuk menjiplak kata kunci dan data pribadi lain. Dengan modus pencucuian uang yang mirip di AS, para peretas tersebut mentransfer jutaan dolar ke sebuah rekening palsu. Proteksi Menurut Regional Consumer Product Marketing Manager of Symantec Asia Pacific David Hall, salah satu cara terbaik menghindarkan diri menjadi korban kejahatan di dunia maya adalah dengan melakukan proteksi selama kita beraktivitas di dunia maya. Proteksi tersebut, dapat menyulitkan penjahat dunia maya melakukan aksinya, misalnya menggunakan Software Antivirus atau Sekuriti Internet, walau itu gak menjamin 100 Persen.

Sumber http://community.norton.com/t5/Ask-Maria…

Oct 02

twitter_100817115852-300x216Sewaktu Twitter mulai sering disebut sebut difacebook, banyak Teman-teman facebook yang latah bergabung dengan Twitter, lantas setelah join malah tanya, “Apa menariknya Twitter?” Gak salah bagi seorang newbie Twitter. Mereka yang tergagap gagap dengan Twitter adalah orang-orang yang biasa memakai Facebook. Di Twitter, pesan yang ditulis cuma 140 huruf. Pemilik akun juga tak bisa menampilkan tautan atau link berita secara langsung. Jadi kelihatan Garing banget.

Kalau kita Flash Back Tiga tahun yang lalu, Twitter bukan sesuatu yang penting bagi orang di luar San Francisco. Sekarang Twitter adalah impian bagi para marketer, orang-orang yang ingin memasarkan produk mereka. Bayangkan, layanan pemasaran gratis dengan audiens mencapai hampir 145 juta orang. Koran atau TV mana dengan layanan seperti itu?

Sekarang ini Twitter telah banyak membantu dunia bisnis. Sebuah toko roti di New York menggunakan Twitter untuk memberi tahu kepada pelanggannya bahwa roti baru mereka telah matang. Dell menggunakan Twitter untuk mengabarkan ada diskon penjualan komputernya.

times-twitterAda lagi perusahaan yang menggabungkan layanan pelanggan dan pemasaran sekaligus.
Contohnya saat seseorang berkata, “Saya sedang di pesawat JetBlue.” Perusahaan tersebut langsung meresponsnya, “Anda sebaiknya mencoba sajian baru kami, kacang almond asap.”

Kini dunia bisnis di Indonesia pun mulai memakai Twitter. Merek-merek besar, seperti Toyota, Coca-Cola, Acer, Microsoft, dan Nokia, kepincut oleh trik ini.

Twitter bahkan telah melahirkan bisnis baru.
Para whizzer. Sebutan lain mereka adalah para pembisik di dunia Twitter. Tepatnya mereka adalah perayu di dunia Twitter. Mereka adalah orang yang berperan mengangkat (memberitakan) halhal positif tentang suatu produk di blog, Twitter, atau Facebook. Makanya jangan heran jika Twitter sekarang juga banjir pesan sponsor.

Untuk melontarkan senjata pemasaran, Anda tak harus menyewa whizzer. Selain itu, kata Biz Stone, salah satu pendiri Twitter, “Anda tak perlu memiliki jutaan pengikut atau follower.” Dengan 3.000 pengikut pun Anda bisa memasarkan produk Anda. Para pengikut Anda itu biasanya sangat loyal dengan merek Anda. Kalau Anda membagikan informasi yang menarik, misalnya bocoran produk baru, mereka akan dengan tulus ikhlas menyebarkan kebaikan produk Anda. Bisa dibayangkan audiens yang disasar pun bisa lebih luas.

Tak ada data pasti berapa jumlah pengguna Twitter di Indonesia. Namun, riset Semiocats Juni 2010 menunjukkan, Indonesia menyumbang 12 persen kicauan Twitter. Setiap hari ada sekitar 90 juta pesan Twitter di dunia. Sebanyak 12 persen atau 10 juta pesan berasal dari Indonesia. Ini bisa jadi senjata pemasaran yang ampuh.

Jadi, buat pemasar kayak kita ini kenapa tak melirik Twitter sebagai marketing tool? Pernahkah Anda menghitung berapa audiens yang dapat Anda rengkuh bila bisa merayu artis atau para selebritas Twitter, seperti penulis buku Raditya Dika (@radityadika)?
Penulis buku Kambing Jantan dan Marmut Merah Jambu ini memiliki 464.556 pengikut di Twitter.
Dengan audiens sebesar itu, setiap curhatnya bisa menjadi cepat tresebar…

Catatan Kaki Teknologi Informasi