
Pada zaman dahulu waktu generasi Kakek dan Bapak kita masih muda, bisa bekerja di kantoran, bekerja di sebuah institusi atau perusahaan ternama mungkin terkesan sangat bergengsi dan menjadi kelas elit tersendiri, saat itu kalau ada orang yang bekerja sendiri, di rumah tentu akan dicap pemalas dan diremehkan.
Munculnya Internet di era 90 dan maju perkembangan PC kemudian ternyata telah mengubah paradigma kerja kantoran tersebut. Bagi generasi X (lahir antara 1965 - 1977) dan generasi Y lahir antara 1977 - 1990) justru beranggapan semakin banyak dan semakin bergengsi pekerjaan-pekerjaan yang tidak mempunyai pekerjaan eh kantor. Mengapa? Karena pekerjaan di zaman Era Internet ini yang di tuntut bukan absensi kantor-nya melainkan target / hasil / pencapaian objektif. Kecuali di lembaga pemerintahan, absensi tampaknya masih menjadi ukuran pencapaian kerja.
Saya jelas adalah termasuk dalam Generasi X yang telah masuk dalam pusaran kemajuan Internet. Dari antara para pekerja IT sekarang sudah bermunculan para Internet Preuner, di mana pastinya adalah Wira Usaha yang sangat mengandalkan Internet dan dengan mobilitas tinggi, kalaupun mempunyai kantor sering kali meninggalkan kantor-nya bahkan sangat lumrah jika pekerjaannya dikerjakan di rumah atau sambil ngobrol dan minum kopi di caf bersama mitra-mitra-nya.
Bukan hal yang aneh jika kita melihat Internet Preuner dari Generasi X dan Y ini seakan tidak terikat pada satu kantor yang tetap. Pekerjaan kontrakan dan servis yang mengandalkan profesionalitas dan keahlian yang sangat spesifik menjadi sangat dominan diantara para profesional. Tampaknya, keahlian dan kesukaan pada hal-hal yang sangat spesifik menjadi andalan para profesional yang umumnya masih muda antara usia 27-40-an tahun.
Penghasilan tidaklah bisa dianggap kecil, Rp. 5-10 juta merupakan pendapatan kotor minimal diantara profesional ini. Jelas jauh lebih baik daripada fresh graduate yang umumnya Rp. 900.000 / bulan dari pekerjaan tetap di kantoran itu. Memang masih sedikit para profesional yang bekerja betul-betul bebas dan sangat mobile seperti dijelaskan disini, tapi kecenderungan ke arah itu sangat menonjol terutama di rekan-rekan muda usia sekitar 30-an. Menjadi terbaik adalah dambaan dalam suasana kompetisi yang sehat. Pengakuan dilakukan secara langsung oleh komunitas, bahkan bukan hal yang luar biasa jika terekspose oleh media massa karena mereka memang terbaik tanpa mekanisme KKN ala Birokrat Pemerintahan.
Notebook, netbook, iPad dan Smart Phone menjadi peralatan yang sangat lumrah bagi para profesional tersebut. Minimal adanya akses ke Internet yang didukung dengan Smart Phone menjadi ciri khas para Internet Preuner tersebut. Komunikasi yang intens menjadi ciri khas dari para Internet Preuner ini, Kicauan di berbagai Micro Blog yang diselingi oleh banyak Status berseliweran di Jejaring Sosial menjadi bagian integral kehidupan mereka. Bahkan sebagian besar berkas pekerjaan-pun banyak di kirim dalam bentuk attachment di e-mail. Memang kadang sebagian merupakan canda tawa diantara mereka, tapi itulah bagian dari ke akraban kehidupan di dunia tanpa batas yang banyak di nikmati terutama oleh profesional muda maupun mahasiswa / siswa.
Pada tingkat yang lebih serius, jangan kaget jika di Food Court, Bandara, Mall melihat para Internet Preuner asik mengetik pada Notebook atau MacBook atau bekerja secara online pada iPhone, iPad atau BlackBerry.
Yah itulah kantor mereka, itulah gaya bekerja mereka, gaya hidup sebagian profesional muda yang sangat mobile pada hari ini. Bukan mustahil jumlah mereka akan semakin banyak di masa mendatang. Bagi yang belum memahami gaya hidup aneh mereka, biasanya ada keheranan pada sebagian besar orang melihat gaya hidup dunia Wira Usaha Internet yang tidak bertumpu pada konsep lama dalam bekerja yang biasanya bertumpu pada pekerjaan perkantoran / atau menjadi pegawai tetap di sebuah instansi / perusahaan. Ketakutan bahwa tidak ada penghasilan tetap.
Para Internet Preuner yang berhasil ini dikarenakan mereka berhasil membentuk image dan karakter nya dalam masyarakat berbasis Komunitas Internet. Proses pembentukan karakter mereka sejalan dengan proses pembangunan jaringan kemitraan maupun proses pemberdayaan masyarakat / komunitas Internet. Secara sederhana ada tiga kunci keberhasilannya yaitu :
- Fokus dan berdedikasi pada bidang yang di minati, tidak menjadi seseorang yang generalis dan berpindah-pindah bidang.
- Ikhlas dalam membagi pengetahuan dan informasi yang di miliki kepada Komunitas di Internet lewat Blog, Jejaring Sosial dan Mailing List.
- Punya jaringan teman yang berkualitas di Twitter, Facebook, dan namanya terindex pada Halaman terdepan di Google.
Berikut saya hanya tampilkan beberapa contoh saja dari mereka dari sekian banyak yang sebenarnya masih sangat banyak lagi yang belum terekspose dan tidak mungkin anda sendirilah yang akan menyusul..
Jim Geovedi
Jangan tertipu dengan penampilannya. Dia itu seperti anak muda pada umumnya. Tak ada tanda-tanda bahwa dia orang yang subur rekening banknya. Satu-satunya pembeda dia dengan kebanyakan anak muda adalah laptop Apple di balik tasnya. Laptop yang ditempeli aneka stiker kelompok bawah tanah Internet itulah mesin uangnya. Cukup duduk beberapa menit di depan komputer, lalu membiarkan jemarinya menari-nari di atas papan ketik, ia bisa menghasilkan duit ratusan juga hingga miliaran rupiah. Kalau saja ia mau uang receh dan mengorbankan kehormatannya, banyak yang menawarinya menjebol kata sandi surat elektronik Yahoo! atau Gmail dengan bayaran paling murah Rp 10 juta. Tapi buat apa? katanya.
Dari laptop yang warnanya sudah tak kinclong lagi itu, dia menjajakan jasa satpam komputer. Dia menguji keamanan sistem tagihan telepon yang pelanggannya bisa berpuluh-puluh juta, atau sistem komputer milik sebuah bank. Dialah yang memastikan bahwa tak ada lubang sekecil apa pun yang bisa dimasuki oleh para peretas komputer yang bengal atau hacker hitam.
Bank yang mempunya situs Internet Banking adalah salah satu Clientnya. Lelaki itu adalah salah satu keajaiban yang dimiliki Indonesia. Tak banyak jago komputer Indonesia yang bisa berpenghasilan tinggi, apalagi cuma lulusan sebuah SMA kampung. Orang Indonesia yang makan bangku sekolahan tinggi, seperti Harvard atau Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, gajinya pun tak tinggi.
Cosa Arandra
Kalau ada orang menjadi kaya setelah bersusah-payah membangun bisnis bertahun-tahun, itu hal biasa. Tetapi jika mendengar anak muda berkantong tebal dengan cara mudah, jelas menarik untuk ditelusuri.
Cosa Aranda jutawan. Nyaris tak ada yang tahu. Hanya mereka yang rajin keluar masuk situs milik Cosa, panggilannya, yang paham betul. bahkan teman kuliahnya baru bulan lau tahu bahwa orang inilah yang sering dibicarakan di Google AdSense dan Adwords.
Memiliki Penghasilan dari iklan yang masuk di situs milik Google ini awalnya memang mimpi bercampur coba-coba. “Jika ada yang mengatakan berbisnis iklan di Internet mudah menghasilkan uang, itu bohong”, Kata lelaki 25 tahun ini saat ditemui di rumahnya di Surabaya, Rabu (1/8) Berbeda dengan banyak orang yang menganggap bisnis seperti ini bisa dilakukan sambil lalu dengan hasil tak terbatas, COsa justru menganggap pekerjaan ini berat. Sangat berat.
Ketika pertama kali membuat situs yang berawal dari blog pribadi, dia harus jungkir balik menghabiskan waktu 8-10 jam sehari. Selama itu dia tidak keluar kamar. Dan ini terjadi pada bulan-bulan pertama saat membangun www.cosaaranda.com April 2005.
Percobaan demi percobaan dilakukan dengan telaten. Kesulitan utama yang dialami mahasiswa semester akhir jurusan Sistem Informasi Sekolah Tinggi Manajemen Informatikan dan Teknik Komputer (Stikom) surabaya ini adalah melakukan promosi. Karena niat awalnya belajar dan mencoba, Cosa memilih cara gratis lewat search engine. setelah itu, menunggu “dan berdo’a”, kelakarnya.
Penantian itu tak sia-sia. Tiga minggu setelah diluncurkan, ada juga iklan yang datang. semakin banyak pengunjung yang datang ke situsnya, makin besar kemungkinan iklan di klik. Jika pengguna melakukan transaksi, maka publisher, pemilik situs yang sudah bergabung dengan Google Adsense dan surah pula memasang iklan AdSense di situs mereka, mendapat fee. biasanya 20 persen dari harga iklan.
“Bulan pertama saya mendapat 1 dollar AS. wah.. senang sekali. Ternyata laku juga”, kata sulung dari dua bersaudara yang terkesan berhati-hati ketika berbincang.
Satu dolar AS inilah yang memacu Cosa memoles situsnya. Tidak dengan tampilan artistik tetapi dengan isi yang paling dibutuhkan orang. Dia meng up date data setiap hari. Dengan demikian setiap hari pula orang berkunjung karena membutuhkan informasi terkini dan penting.
Sekarang situs ini dikunjungi 800-1.000 pengguna setia hari. Ini membuat perolehan Cosa dimungkinkan makin besar. Ledakan penghasilannya baru di dapat tiga bulan setelah menunggu dan berdoa. Jika Oktober 2005 penghasilannya Rp. 1 dolar AS, akhir juli 2007 dia mendapat kiriman cek 5.000 dolar AS atau lebih dari Rp. 45 juta. Ini baru perolehan lewat Google Adsense. Padahal dia juga memiliki jalur lain, Adwords. Jika semua ditotal, Juli Kemarin Cosa mendapat lebih Rp. 90 juta.
Cosa memang kaya, tetapi belajar dari buku Seven Years To Seven Figures karangan Michael Masterson, kaya menurut Cosa adalah kondisi saat segala kebutuhan terpenuhi, baik yang bersifat sekunder maupun darurat atau mendadak. “Saya tabung uangnya. Saya ingin punya rumah sendiri”, kata lelaki yang mengaku belum punya kekasih ini.
“Saya lebih suka kelas kecil karena semua pertanyaan bisa dijawab dan langsung praktik”, tutur pelahap film apa saja ini yang tidak memungut biaya kecuali untuk membayar pemakaian internet di warnet.
“Di Jogjakarta banyak publisher yang penghasilannya lebih hebat. Saya belum apa-apa. Tetapi kalau ada yang mau mengikuti cara ini, ayo sama-sama belajar”, tuturnya.
Hanifa Ambadar
Pernah mendengar fashionesedaily.com? Bisa jadi, ini adalah blog bertema fashion paling eksis di Indonesia.
Dulu, blog ini tak tersentuh iklan. Karena pendiri sekaligus Editor in Chief-nya,Hanifa Ambadar,memang mengawali fashionesedaily.com sebagai blog yang berisi catatan harian biasa.
Pada 2005, Hani kuliah sambil kerja di Amerika tertarik untuk ngeblog. Ia pun memilih tema soal fashion, bidang yang sangat ia cintai.
Semangatnya makin membara ketika fashion blog, blog yang khusus menguliti dunia fashion, mulai bermunculan di Amerika. Perempuan yang akrab dipanggil Hani ini pun tertarik untuk membuat blog serupa. Maka fashionesedaily. com lahir pada 2007.
Mulanya, postingan Hani hanya sebatas barang-barang yang baru ia beli atau soal tren fashion terbaru. Ternyata, respons positif ia rengkuh, terutama dari teman-temannya di Tanah Air. Tulisan Hani dianggap mampu mewakili tren yang sedang hip dalam sudut pandang personal.
Dari situ, tiba-tiba saya diapproach oleh salah satu operator telepon seluler di Indonesia. Mereka ingin pasang banner iklan diblog saya. Saya mulai sadar bahwa blog ini mulai dilirik orang dan bisa menghasilkan, cerita Hani yang kini punya karyawan 10 orang. Empat di antaranya kontributor dari Boston,New York,Washington DC, dan Singapura.
Mulanya, fashionesedaily.com mencoba membangun brand melalui kerjasama media partner di berbagai acara fashion. Dari sini, brand mereka mulai dikenal. Lama-kelamaan, mereka tak lagi menjual diri, justru banyak pihak yang mulai mengundang serta menawarkan kerja sama.Termasuk diminta menjadi konsultan untuk sebuah radio anak muda terkenal di Jakarta.
Dari situ banner iklan semakin bermunculan. Dulu sistem pembayarannya sekali klik banner, baru kita dapat untung. Sekarang sudah dibayar per bulan,ujar Hani yang enggan memberi bocoran berapa tarif pasang iklan di medianya. Yang jelas, rekan kerja Hani, Affi Assegaf yang duduk sebagai managing editor, rela meninggalkan pekerjaan lamanya demi berkonsentrasi penuh di fashionesedaily.com.
Badroni Yuzirman
Pemilik Manet Busana Muslim dan pendiri Komunitas Tangan Di Atas (TDA) ini banyak menuangkan pengalamannya sebagai seorang entrepreneur di dalam blog pribadinya.
Berbagai tips seputar dunia bisnis ia tulis, karena keinginannya untuk berbagi informasi dengan sesama pebisnis. Tak dinyana, blog yang mulai dibangun pada 2005 ini mendapat respons luar biasa.
Setelah mulai banyak dikenal, kini para pengiklan sampai perusahaan besar berebut agar produk mereka di bahas di blog milik pria yang akrab dipanggil Roni ini. Dari banner saja, satu iklan bisa tiga juta rupiah per bulan. Kalau menulis tentang produk bisa satu juta rupiah, terang pemilik blog roniyuzirman.com ini.
Angka ini tergolong tinggi, karena menurut Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting, perusahaan yang bergerak di bidang integrated internet solution, standar pemasangan banner iklan di blog berkisar Rp 250 ribu sampai Rp1 juta perbulan.
Badroni Yuzirman punya beberapa cara untuk menggamit untung. Karena menulis banyak cerita tentang bisnis, dia kerap diundang sebagai pembicara maupun moderator di berbagai seminar bisnis dan entrepreneurship. Ia juga masih meraih pendapatan dari pemasangan banner iklan dan reviu produk di blognya.
Dan sebenarnya masih banyak lagi yang belum saya sebutkan semua, paling tidak contoh diatas cukup mewakili Wajah Para Internet Preuner Indonesia. Dan kalau ini diceritakan kepada orang tua kita yang mungkin sekarang adalah pensiunan BUMN atau PNS bahwa generasi Para Internet Preuner yang keliatannya adalah anak-anak ber-T-shirt dan jins itu tahu-tahu penghasilannya sudah bernilai jutaan dolar AS. Tentu akan heran sekali dibanding dengan mereka yang dahulunya adalah para pekerja Kantoran yang siang malam bekerja membanting tulang mencari uang, tetapi hanya menikmati pensiunan bulanan saja.