May, 2011 Archive

May 29

joomla

Ketika situs Polri dan Situs Lemhannas berhasil di deface oleh Hacker, berita ramai juga diberitakan di Media. Saya juga ada teman PNS yang bekerja di pemda untuk mengupdate Web Site Pemda tersebut yang ternyata kerap di hack, penyebabnya adalah karena kebanyakan Website di pemerintahan memakai CMS Joomla, yang repotnya ternyata ada vuln pada Reset Password Admin.

Karena itu tergeraklah saya untuk mencari panduan buku cara mengamankan Web yang sudah terlanjur memakai Joomla sebagai CMS nya.

Jadi pada Buku Joomla! Web Security ini akan memandu anda langkah demi langkah membuat perlindungan yang betul betul aman. Meliputi

Tool yang diperlukan untuk melindungi Web

Cara melakukan pemulihan jika Web Terkena Hack

Pengaturan ke amanan SSL

Membahas versi Joomla@ 1.0 sampai 1.5

Nah jika memang berminat Bisa DI Download Bukunya Di Sini

Language : English
Paperback : 264 pages [ 235mm x 191mm ]
Release Date : October 2008
ISBN : 1847194885
ISBN 13 : 978-1-847194-88-6
Author(s) : Tom Canavan

Download Di sini

Malas Download? Klik ini

May 23

cats-crop1

Dulu, setiap orang di seluruh dunia akan menemukan hasil yang sama ketika melakukan pencarian kata kunci Egypt (Mesir) di mesin pencari Google. Namun, kini hasil pencarian untuk kata kunci yang sama bagi setiap pengguna internet cenderung berbeda.

Satu pengguna bisa saja menemukan rentetan berita mengenai para demonstran dan gejolak politik di negara tersebut beberapa waktu lalu. Sebaliknya, pengguna lain justru mendapatkan beragam informasi wisata ke Negeri Firaun itu.

Perbedaan hasil pencarian itu merupakan konsekuensi dari bergulirnya era personalisasi di internet. Saat Anda melakukan pencarian, Google akan menganalisis data demografis, usia, serta rincian lainnya untuk menyajikan informasi yang sesuai dengan selera dan kebutuhan Anda.

Penulis buku The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You, Eli Periser, menyatakan tak hanya Google yang menyajikan personalisasi bagi penggunanya, situs-situs besar lain seperti Facebook dan Aol pun secara diam-diam melakukan hal serupa.

“Dua teman saya menggoogling BP saat terjadinya tumpahan minyak. Keduanya memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Namun, yang satu mendapat hasil mengenai dampak-dampak lingkungan dari tumpahan itu, sedangkan yang lain mendapatkan informasi terkait peluang investasi,” ujarnya seperti dikutip CNN.
com.

Facebook, contohnya, memutuskan informasi apa yang akan disajikan di News Feed penggunanya berdasarkan kebiasaan. Seperti hal-hal apa saja yang paling sering mendorong seseorang untuk mengeklik tombol `like’.

Adapun Google memiliki data yang lebih komprehensif mengenai penggunanya, setelah sepuluh tahun berkiprah di dunia maya dengan berbagai layanannya, mulai dari mesin pencari, e-mail, hingga peta.

Periser bahkan menuding perluasan layanan maupun fitur Google merupakan salah satu upaya Google untuk menarik semakin banyak informasi tentang penggunanya.

Di satu sisi, kostumisasi dapat mempermudah pengguna karena menyajikan informasi yang paling relevan dengan selera dan kebutuhannya.

“Namun di sisi lain, tentu ini juga akan mempermudah para pemasang iklan untuk melihat produk-produk apa saja yang berpotensi besar Anda beli karena mereka mengenal selera dan kebutuhan Anda,” jelasnya.
Isolasi Hal itu, menurut Periser, memicu kekhawatiran internet kian terpolarisasi dan sarat dengan kepentingan berbagai industri lantaran fitur maupun teknologi yang digunakan para pemain besar di dunia maya itu.

“Pada akhirnya, personalisasi hanya akan memicu munculnya gelembung-gelembung yang dapat mengisolasi pengguna dari informasi maupun wawasan baru yang tidak sesuai dengan selera dan minat mereka pada umumnya.

Lebih lanjut, Periser pengatakan, personalisasi bermanfaat bagi konsumen untuk mene mukan produk yang sesuai dengan selera mereka, tapi berbahaya bagi masyarakat.

Bagaimanapun, lanjutnya, publik berhak untuk mengakses dan mendapatkan informasi yang sama di mana pun mereka.

“Demokrasi memerlukan publik yang bisa melihat semua jenis informasi dan yang bisa keluar dari ruang yang dibatasi oleh selera dan kebutuhan mereka,” tuturnya.

Ia menilai, sudah saatnya situs-situs besar tersebut menyadari efek berkelanjutan dari fitur personalisasi dan berhenti berlindung di balik alibi bahwa mereka hanya memberikan apa yang pengguna inginkan. Segmentasi pengguna seharusnya tidak berlaku di dunia maya yang tanpa sekat ruang dan waktu.

May 23

cats-crop

Selama bertahun-tahun, banyak pemilik komputer Mac menertawakan kepanikan pengguna Windows dalam mengatasi berbagai virus, Trojan, rootkit, dan malware lainnya yang menyerang PC mereka.

Namun, belum lama ini, para pengguna Mac dikejutkan dengan serangan terhadap sistem operasi mereka.
Penyebabnya ialah sebuah program keamanan palsu untuk komputer tersebut yang bernama Mac Defender, Mac Security, atau Mac Protector. Program tersebut dikabarkan mulai beredar awal bulan ini. Jumlah korban aplikasi tersebut dikabarkan terus meningkat signifikan.

Berdasarkan informasi dari produsen program keamanan Mac, Intego, Mac Defender mengincar pengguna platform tersebut melalui mekanisme search engine optimization poisoning attacks. Belakangan, metode penyusupan itu memang banyak digunakan para cracker. Pengguna yang mengeklik hasil pencarian tersebut akan digiring ke sebuah situs yang menampilkan layar dan hasil pemindaian malware palsu. Situs tersebut kemudian akan menyatakan komputer pengguna telah terinfeksi virus tertentu.

Untuk menangkal virus tersebut, pengguna akan ditawari untuk membeli program antivirus Mac Defender.
Dengan mengisi sejumlah data sekaligus nomor kartu kreditnya untuk mendapatkan lisensi antivirus itu.

Namun kenyataannya, tidak ada program antivirus yang akan didapatkan pengguna. Mereka hanya memberikan nomor kartu kreditnya secara sukarela kepada para penjahat dunia maya melalui malware tersebut.

Lantaran kasus serangan program keamanan palsu ini sudah dinilai begitu meresahkan, sejumlah pakar menilai sudah saatnya para pengembang peranti lunak keamanan komputer merilis antivirus untuk sistem operasi Mac.

Produsen program keamanan komputer Sophos telah merilis produk software antivirus khusus dengan tidak memungut biaya lisensi bagi para konsumen rumah tangga.

May 17

Facebook dan Twitter, dua kata yang sangat populer saat ini dalam bisnis dotcom, persepsi orang tentang suksesnya kedua dotcom itu pasti akan terpaku pada Bosnya, yaitu Mark Zuckerberg dan Jack Dorsey. Tetapi kalau mau jujur siapakah orang yang sangat berjasa pada mereka sehingga bisa berhasil ? tak banyak yang tau..

Baiklah kita mulai dengan Facebook, yaitu Sean Parker, mantan programmer di Napster. Dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ke sana sini.

Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook? tanyanya. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, (Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!

Beberapa hari setelah ejekannya itu, Sean Parker benar-benar mendatangkan US$ 500 ribu (Rp 4,5 miliar) ke Facebook. Peter Thiel, pendiri situs pembayaran lelang nomor satu di online, PayPal, sudi menjadi investor situs jejaring sosial tersebut, meski saat itu sudah ada Friendster atau MySpace. Thiel rela uang Rp 4,5 miliar itu ditukar dengan 10 persen saham Facebook!

Mungkin kalau di Indonesia orang akan bilang, Thiel sudah sinting. Perusahan kemarin sore itu terlalu pede dengan harga sahamnya. Padahal, saat itu Facebook belum banyak dikenal oleh warga Amerika sendiri. Tapi, Thiel adalah salah satu Raja Midas di bisnis dotcom. Dia investor yang kalem, bertangan dingin, dan bukan orang yang suka campur tangan. Dia tahu, Facebook bisa menjadi raksasa bila diserahkan kepada orang gila seperti Zuckerberg. Itu yang dia lakukan saat membesarkan PayPal. Benar, suntikan Thiel inilah yang kemudian membuat Facebook menggelembung.

Para penyihir seperti Sean Parker dan Peter Thiel di Amerika Serikat jumlahnya ribuan. Mereka adalah orang-orang yang memburu dotcom (perusahaan online) yang baru tumbuh (start up), lalu menggerojoknya dengan dolar sehingga perusahaan itu mengkilap. Setelah itu, mereka akan memetik keuntungan saat nilai saham perusahaan tersebut melambung atau diakuisisi raksasa Internet lainnya.

Nah bagaimana dengan Twitter, Evan Williams adalah salah satu contoh penyihir dotcom. Dia berhasil membesarkan Blogger lewat perusahaannya, Pyra Labs, dan menjualnya kepada Google. Punya sekarung duit, Evan keluar dari Google setahun kemudian dan mendirikan Odeo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang rekaman audio di Internet (podcasting). Di perusahaan ini, bisnis Evan tak terlalu menonjol. Namanya baru melejit lagi setelah membesarkan Twitter bersama pendirinya, Jack Dorsey. Twitter sekarang jumlah anggotanya sudah 200 juta orang atau sepertiga dari jumlah anggota Facebook. Saya adalah lelaki beruntung. Dalam 12 tahun ini ada dua proyek besar yang berhasil, kata Williams. Saya berhasil karena didukung orang-orang brilian.

Di Amerika Serikat, orang-orang seperti Evan Williams, Sean Parker, dan Peter Thiel inilah yang membuat dunia dotcom hidup. Kreativitas liar para programmer disambar oleh tangan-tangan bisnis andal, hasilnya adalah ledakan-ledakan dotcom baru, seperti Facebook, Twitter, Blogger, dan YouTube.

Orang-orang seperti Evan William atau Sean Parker itulah yang langka di Indonesia. Faktor entrepreneurship di Indonesia selalu terbentur dalam hal urusan modal. Sangat sulit bagi pejuang-pejuang IT di Indonesia yang punya jiwa kreatif untuk bisa mengimplementasikan hasil karyanya menjadi sebuah bisnis yang akan mendatangkan uang. Belum banyaknya Venture Capital (semacam perusahaan pemodal sekaligus inkubator bisnis) yang bersedia menanggung resiko besar untuk para mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ingin menjajal ide kreatifnya untuk dibisniskan. Ini di perparah dengan sedikit yang mau atau mengerti skema investasi di bidang DotCom.

Padahal Untuk seperti lahirnya Dotcom seperti Facebook dan Twitter Kita butuh orang seeprti Evan William dan Sean Parker. Selama ini tak banyak kisah akuisisi dotcom di negeri ini yang sukses. Pada awal 2000-an ada akuisisi Satu.net dan Astaga.com. Tapi, nama itu kini sudah terkubur. Kini, kita melihat akuisisi bayi-bayi dotcom seperti Koprol oleh Yahoo! atau Kaskus oleh grup Djarum. Mudah-mudahan saja tangan para pemodal itu sedingin Peter Thiel. Indonesia memimpikan Raja-raja Midas dotcom.

May 09

SMS akan musnah ?, apa iya, isu kepunahan SMS dimulai saat pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengklaim era e-mail telah berakhir seiring dengan peluncuran layanan pesan instan di situs jejaring sosial itu, November 2010.

Pernyataan Mark ini mungkin ada hubungannya ketika Maret lalu, Facebook mengakuisisi vendor peranti lunak mobile messaging Beluga untuk menawarkan alternatif bertukar pesan yang lebih murah ketimbang menggunakan layanan SMS.

Kabarnya, Facebook akan memanfaatkan 500 juta basis pelanggannya di seluruh dunia sebagai tuas pemasaran untuk produk baru tersebut. Jejaring sosial raksasa itu juga akan menyediakan platform Beluga pada tiap jenis handset untuk layanan messaging dan memotong jaringan SMS milik operator.

Tetapi memang kalau di amati ramalan Bos Facebook ada benarnya, karena terlihat penggunaan SMS terus makin turun di kalangan anak muda dan penggerak utamanya adalah BlackBerry.

Analis dari perangkat mobile Nomura, Richard Windsor bilang,

“Ketika kegiatan SMS mulai menurun, saya pikir angka itu akan terus mengalami penurunan hingga mencapai nol,” kata dia seperti dikutip tabloid Inggris The Daily Mail, barubaru ini.

Ya, perlahan tapi pasti, layanan instant messenger (IM) dan media sosial mulai menggeser keberadaan layanan SMS dalam fungsi pengiriman pesan teks.

Maraknya penggunaan ponsel pintar dan media sosial tak pelak telah mengubah pola komunikasi masyarakat, salah satunya dalam menyampaikan informasi berbentuk teks. Kini, fitur-fitur IM yang terdapat di smartphone dan media sosial kian menjadi andalan penggunanya dalam bertukar pesan.

Di situs microblogging Twitter, misalnya.
Ketika pemilik sebuah akun menyampaikan unek-uneknya dalam 140 karakter, biasanya tak berapa lama, salah satu atau bahkan beberapa follower-nya akan merespons. Setelah itu, obrolan pun berlanjut dalam bentuk pesan berbalas.

Komunikasi antarindividu atau kelompok juga kian terakomodasi dengan adanya fitur chat di situs jejaring sosial Facebook atau layanan pesan instan pada ponsel pintar, seperti BlackBerry Messenger (BBM) di ponsel besutan Research in Motion (RIM) itu.

The Daily Mail juga melansir kini penggunaan pesan instan dari ponsel pintar dan situs media sosial semakin tinggi di kalangan anak muda. Penyebabnya, makin banyak remaja dan mahasiswa yang menggunakan BlackBerry karena fitur BBM gratisnya.
Punah Di Inggris, penjualan ponsel pintar yang dulu hanya populer di ruang rapat perusahaan itu meningkat enam kali lipat dalam setahun terakhir. Jumlah konsumen terbesar berasal dari kalangan masyarakat berusia 16 hingga 24 tahun.

Sebuah studi yang didanai penyedia broadband di Inggris, TalkTalk, menemukan hanya 51% orang Inggris usia remaja dan awal 20-an tahun yang mengatakan e-mail sebagai pilihan pertama dalam berkomunikasi. Sisanya lebih memilih menggunakan fitur pesan instan ponsel dan media sosial.

Para pakar industri telekomunikasi mengkhawatirkan, jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia dewasa mereka, bukan tidak mungkin layanan SMS yang sempat populer di masa-masa awal keberadaan ponsel akan semakin tergusur, bahkan punah, hanya dalam satu generasi.

Para pakar tersebut juga meramalkan jumlah pesan teks yang dikirim di Inggris dalam dua tahun ke depan akan turun sebesar 20%. Konsultan komunikasi Mobile Youth memastikan penurunan penggunaan SMS disebabkan naiknya penggunaan IM.

“Kami melihat penggunaan SMS turun di kalangan anak muda dan penggerak utamanya adalah BlackBerry.
Hal itu karena mereka mendapatkan BlackBerry warisan orang tua mereka.
Mereka pun kemudian mulai bermain dan mengeksplorasi teknologinya,” ujar Managing Director Mobile Youth, Graham Browns.

Tak hanya itu, sebuah laporan juga mencatat layanan IM juga diduga bakal menggusur bahkan berpotensi memusnahkan fungsi e-mail di masa mendatang.

Menurut para ahli, penurunan penggunaan SMS dan e-mail tidak hanya dipicu oleh maraknya fitur IM dan media sosial, tapi juga karena keterbelakangan teknologi yang dimiliki keduanya. SMS dan e-mail dinilai tidak lagi memberi kenyamanan bagi penggunanya karena terlalu lambat dan ketinggalan zaman.

“E-mail memakan waktu 20 tahun untuk berkembang menjadi fenomena dalam bertukar pesan. Tapi hanya dalam waktu setengahnya, teknologi ini akan ditinggalkan dan mati,” kata ujar peneliti dari University of Kent, Inggris, Profesor David Zeitlyn.
Satu untuk semua Lalu apa yang membuat fitur pesan instan di ponsel pintar dan media sosial begitu digemari? Para ahli itu meyakini sebagian besar masyarakat lebih menyukai konsep pesan satu untuk semua. Ha nya tinggal menulis satu pesan, semua kontak pun bisa membacanya.

Konsep itulah yang dipopulerkan BlackBerry Messenger lewat fitur broadcast message dan BlackBerry Group, Facebook lewat message thread-nya, dan Twitter lewat fasilitas microblogging-nya. Lebih daripada itu, seluruh fungsi tersebut bisa dilakukan dengan cepat dan mudah di mana pun, hanya melalui satu teknologi modern.

Selain itu, layanan pesan singkat tersebut memiliki lebih banyak keuntungan daripada SMS. Salah satunya pengguna tidak perlu menghabiskan pulsa karena layanan itu bisa dinikmati secara gratis asalkan sudah berlangganan paket data dari operator telekomunikasinya.

Jadi mungkin SMS 20 tahun akan makin jarang orang yang berSMS ria.. Kita Lihat saja.

May 01

android

Terhitung sejak dirilis Google pada 2008, sistem operasi Android telah diprediksi akan menguasai pasar pada 2012 mendatang. Namun, data Canalys pada Januari 2011 menunjukkan kedigdayaan itu datang lebih cepat.

Pada kuartal keempat 2010, Android menjadi pemimpin di pasar kategori smartphone, meninggalkan ponsel-ponsel berbasis sistem operasi Apple dan BlackBerry di belakang. Pengapalan ponsel berbasis Android mencapai 32.9 juta, sedangkan pesaing terdekatnya platform Symbian dari Nokia turun menjadi 31 juta di dunia.

“Android mengungguli Apple dan BlackBerry. Amerika dan Eropa telah dikuasai Android. Tinggal Asia dan Afrika yang datanya belum tercatat,” kata Lucky
Sebastian, penasihat Komunitas ID-Android Lalu, apa yang membuat Android kian populer? Menurut Lucky, salah satu rahasianya adalah aplikasi-aplikasi
besutan Google yang menawan.

Misalnya, Voice Search yang memungkinkan pengguna mencari kueri dengan suara, Google Translate yang bisa menerjemahkan percakapan secara real time, dan Google Goggles yang bisa menampilkan informasi berdasarkan foto.
“Ada juga Google Street View, Google Maps, dan lainnya yang memudahkan pengguna mencari informasi,” tambahnya.
Bagi yang belum pernah mengutak-atik ponsel Android, aplikasi-aplikasi ini akan terdengar biasa saja. Google Translate atau Google Maps, misalnya, bisa diunduh atau diakses lewat browser di ponsel pintar manapun.

Namun, pandangan itu akan berubah jika Anda mencobanya. Ponsel berbasis monster hijau ini akan menyajikan pengalaman yang jauh berbeda. Google Translate, misalnya, memiliki fitur yang lebih dari sekadar menerjemahkan tulisan. Aplikasi tersebut bisa menerjemahkan suara secara langsung.

Bentuknya pun akan menjadi sebuah percakapan dua bahasa yang menarik. Selain itu, sistem operasi Android selalu berkembang. Sejak kemunculannya dua tahun lalu, Google telah mengeluarkan enam versi, mulai Android 1.5 Cupcake hingga platform khusus tablet 3.0 Honeycomb. “Ponsel yang memiliki plat form Android kian banyak dan bervariasi. Ini memudahkan pengguna memilih sesuai kebutuhan dan keuangan mereka,” kata Lucky.
Tiap harinya, ia menambahkan, ada sekitar 350 ribu aktivasi ponsel Android di dunia. Jika dihitung per bulan, angkanya bisa mencapai 10 juta. Terakhir, fitur yang paling esensial dan tak mungkin membuat pengguna bosan adalah akses ke Android Market.
Android Market menawarkan banyak aplikasi yang bisa diun duh secara gratis.

Beberapa developer lokal pun turut mengembangkan aplikasi ber basis Android ini. Misalnya, ada Komutta (aplikasi khusus busway) dan Cinemator (yang menyediakan informasi seputar film yang tayang di bioskop).
“Ada banyak kemudahan bagi developer untuk mengem bangkan aplikasi berbasis An droid. Biaya murah, menjang kau banyak orang, dan tidak perlu susah bikin dari awal,” lanjut Lucky.

Makin ramai Pasar ponsel Tanah Air se makin ramai dengan serbuan Android. Samsung, misalnya, lewat Galaxy Series menghadirkan 6 jenis ponsel Android dengan kebutuhan dan segmen yang berbeda.

Pada segmen early adopter, ada Galaxy Mini, Fit, dan Gio yang tampil lebih ringkas. Sementara itu, pada kelas pro fesional ada Galaxy Ace dan Pro yang menawarkan kualitas layar, kamera, dan spesifikasi lebih. Terakhir, d i k e l a s p re mium
hadir Galaxy S. “Di Indonesia, Android diperkenalkan pada Februari 2010 lalu. Setahun kemudian, pasarnya telah tumbuh menjadi sebesar delapan persen,” ujar Fabian Kayatmo, Product Market ing Senior Manager HHP Bussines Departement Samsung.
Selain varian yang beragam, Galaxy Series memiliki Samsung Apps yang menambah kekayaan aplikasi di dalamnya.
Samsung saat ini memang sedang gencar memperkenalkan produk berbasis monster hijau itu. Sementara, Bada, sistem operasi milik Samsung, malah seperti dianaktirikan.
“Pasarnya memang tak sebanyak Android. Akan tetapi, kita punya komitmen untuk terus mengembangkan Bada karena kita bisa berkreasi seutuhnya dalam sistem tersebut,” lanjutnya.
Baru-baru ini, produk lokal Ivio mengeluarkan ponsel berbasis Android.
Uniknya, ponsel Icon Pro (DE 88) yang diluncurkan Senin (25/04) memiliki kemampuan dual on GSM dan CDMA.
Ponsel pintar ini menggunakan Android OS v.2.2 Froyo dan memiliki layar sentuh capacitive Multi-Gesture. Ukuran layarnya cukup besar, yakni 3,5 inci (8,89 cm) dengan kamera 5 MP dan 0.3 MP. Harganya bersaing.

Mereka membanderolnya murah saja, Rp2,4 juta.
“Kami memang punya keunggulan dalam hal ponsel dual on. Ini adalah ponsel berbasis Android pertama yang memiliki dua SIM Card,” ujar Sam Ali, CEO IVIO International Ltd.

HTC, vendor ponsel premium dari Taiwan, pun tak kalah saing. Hadir dengan nuansa hitam yang elegan, HTC Desire S dengan sistem operasi terbaru Android 2.3 Gingerbread menjadi pilihan tepat bagi pecinta gadget.

android2

HTC Desire S memiliki ukuran layar 3,7 inci dengan resolusi 480 x 800 pixel. Performanya cukup prima dengan dukungan memori internal 1.1 GB, RAM 768 MB dan Qualcomm, Snapdragon MSM8255 berkecepatan 1GHz. Kapasitas baterai juga tergolong menjanjikan. Ponsel bisa bertahan selama 430 jam pada mode standby dan waktu bicara hingga 590 menit. Gimana tertarik untuk mencoba Android ?

Catatan Kaki Teknologi Informasi