Facebook vs Kaskus

27 Dec 2013

Versus

Film Social Network sudah 3 kali saya tonton, Film ini bagus karena menurut saya diangkat dari kisah nyata bagaimana Mark Zuckenberg seorang Geek dengan hanya membuat Startup Situs Jejaring Sosial berhasil menjadi Milyuner di usia 27 tahun.

Kemudian ketika lagi jalan ke Gramedia, ada Sebuah buku yang berjudul “Ken dan Kaskus” langsung saya beli, (maklum saya juga Kaskuser). Buku ini menceritakan tentang Perjalanan Ken Lawadinata dan Andrew Darwis mendirikan Startup Forum Sosial Kaskus menjadi Sebuah Situs Portal Internet yang paling berhasil di Indonesia. Tetapi membaca dengan teliti buku ini, membuat saya berpikir bahwa Iklim di Jakarta dan Iklim di Silicon Valley memang berbeda, karena walaupun para Entrepreuner Digital Indonesia sama pintarnya dengan Entrepreuner Digital Amerika tetapi keberhasilan nya akan berbeda. Di Amerika Lingkungan, kultur ekosistem dan kondisi masyarakatnya sangat mendukung bagi terciptanya perusahaan perusahaan Internet besar, sedangkan di Indonesia butuh kerja keras yang sangat panjang buat mendirikan Perusahaan Internet Besar.

Karena itu arikel ini saya beri topik perbandingan antara Facebook dan Kaskus

Facebook di buat oleh Mark Zuckenberg di tahun 2004 yang semula untuk situs Rating Foto anak anak Kampus Harvard, Facebook dengan cepat meraih minat karena gaya hidup masyarakat disana sudah akrab dengan Internet.

Kaskus dibuat pada akhir 1999 oleh Andrew yang semula untuk forum diskusi bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika, tapi perkembangannya lambat tapi pasti hingga tahun 2008 anggotanya baru mencapai ratusan ribu saja.

Ketika Facebook kemudian meraih anggota hampir 1 juta orang, Mark dengan mudah mendapatkan suntikan modal sampai jutaan dolar. Sementara Kaskus jangankan mendapat dana jutaan dolar, ketika Kaskus mulai serius digarap oleh Ken dan Andrew di Jakarta tahun 2008 membuat orang yakin bahwa Industri Portal Internet punya masa depan saja banyak menemui kendala.

Mark dengan mudah mendapatkan iklan karena penggunanya sangat banyak, bisnisnya sudah berbentuk, harga iklan pun tinggi. Sementara Ken dan Andrew hanya bisa mendapatkan sedikit uang dari iklan, itu pun harus di cari dengan susah payah.

Lalu ketika Facebook kian berkembang, Mark merasa kewalahan karena proyek sudah semakin banyak. Ia pun merekrut para profesional. Dengan mudah dia bisa mendapatkan para profesional yang kompeten di bidang ini. Orang-orang di bidang Startup Internet pun masuk karena ekosistem industri Startup Internet di sana sudah terbentuk. Sementara Ken dan Andrew, jangankan mendapatkan ahli di dunia Startup Internet, orang orang terdekat yang mendukungnya pun bahkan baru mulai belajar apa itu bisnis Internet.

Dibandingkan Facebook yang mendapat suntikan dana investasi dari Para Investor Silicon Valley yang dimana merupakan juga mentoring dalam mengembangkan Facebook, sedangkan Kaskus dimana Ken pun harus berhutang dengan ayahnya sendiri yang kebetulan juga seorang pengusaha, coba bayangkan jika Pendiri kaskus itu adalah berasal dari keluarga Menengah ke Bawah, mau cari modal dari mana!

Jadi kalau saja Mark itu mendirikan Facebook di Jakarta, saya yakin mungkin sekarang ini Facebook masih belum sebesar sekarang.

Mungkin kalau di Silicon Valley agak terlalu jauh dari Jakarta. Kita bandingkan saja dengan tetangga kita yaitu tentang Startup e-commerce di Singapura. Karena kita akan lihat bahwa sistem logistiknya baik karena jalanan Singapura yang lancar dan sistem transportasi yang bagus. Pembayaran online bukanlah masalah karena kebanyakan orang di negara ini menggunakan kartu kredit atau PayPal. Dan mungkin di Singapura, Anda akan melayani banyak smartphone, karena iPhone sangat popular di sini. Semua hal tersebut hampir serupa dengan Amerika. Tapi di tempat lain, Indonesia misalnya, semuanya bagai bumi dan langit.

Di Indonesia, sistem e-payment belum siap. Logistik tidak bagus. Ditambah lagi dengan masalah bahasa. Jadi kalau ada Startup Internet yang terlalu Amerika Minded lalu berbisnis di Indonesia ibaratnya seperti seseorang menyelam di lautan yang berisi ikan hiu ganas.

Tapi belajar dari Kaskus walaupun di Indonesia ada masalah infrastruktur. Tapi kesempatan juga mulai muncul di sana. Jika Anda ingin mendirikan perusahaan baik itu perusahaan e-commerce atau sistem e-payment, Anda akan segera mendapatkan banyak uang. Butuh kolaborasi dan penyelesaian masalah. Seperti yang dilakukan Zalora untuk mensiasati sistem e-payment yang belum banyak digunakan, dimana orang Indonesia lebih suka dengan COD, maka dilakukan kolaborasi Zalora dengan Go-Jek (sebuah startup yang mengatur ojek di Indonesia ) sebagai mitra logistiknya.

Sebagai perbandingan India, negara yang memiliki jumlah teknisi komputer terbanyak di Asia, melatih lebih dari 1,5 juta teknisi tahun lalu. Angka tersebut memang besar, tapi seperti yang dilansir Economic Times, kebanyakan dari mereka belum direkrut oleh siapapun. Di tempat lain, Singapura malah berhadapan dengan masalah kekurangan teknisi, padahal ada sangat banyak uang yang siap diinvestasikan di negara itu. Masalah ketidakseimbangan ini tersebar di berbagai tempat di Asia.

Meskipun masih belum banyak Investor Indonesia yang peduli akan Startup teknologi, tetapi Indonesia masih mampu menghasilkan perusahaan-perusahaan Startup teknologi seperti yang sudah sering kita lihat. Di bidang e-Commerce Market Place C2C ada TokoBagus dan Kaskus, dimana pembeli ingin melihat barang yang dijual terlebih dahulu sebelum benar-benar membelinya, ada di News Online seperti Detik.com, lalu layanan payment gateway alternatif seperti Indomog yang menjual voucher game secara offline di berbagai tempat seperti warnet, minimarket, cafe, dan bahkan universitas. Aplikasi untuk berbagi foto seperti PicMix, dan masih banyak lagi yang lain.

Tapi perusahaan-perusahaan tersebut hanya bergerak di dunianya sendiri menjadi terisolasi dan menjadi anomali bahkan di lingkungan startup lokalnya sendiri. Di Silicon Valley, cerita mengenai CEO Instagram ternyata adalah teman baik dari CEO Quora atau CEO Salesforce yang dulunya bekerja untuk CEO Apple adalah sesuatu yang sangat lumrah. Raksasa berinteraksi dan berurusan dengan raksasa. Di Indonesia, startup terpisah sangat jauh, dan dunia startup Jakarta masih sangat baru dan kecil sehingga interaksi yang sama sangat jarang terjadi.

Tetapi di masa mendatang dengan kehadiran para Startup Lokal diharapkan menjadi perintis bagi terbentuknya Eko Sistem Startup Teknologi di kota kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Jogja menyerupai Singapura atau mungkin berharap seperti Silicon Vallley.


TAGS kaskus zalora gojek


-

Author

Follow Me