Soka, Afrika dan Piala Dunia 2010
Apa yang muncul dalam benak anda kalau saya sebut AFRIKA!, pasti yang muncul adalah bayangan Kelaparan, perang, kekerasan, bencana, kekeringan, dan penyakit mematikan memang telah menjadi panorama sehari-hari di sebagian besar negara di benua ini. Begitu buramnya Afrika, novelis klasik Joseph Conrad bilang sebagai senarai negeri di jantung kegelapan. Penulis Inggris, Bahkan Anton Antonowicz, bilang Afrika adalah sebagai negeri terdekat dari neraka.
Tapi dengan di mulainya pesta Piala Dunia Sepak Bola yang pertama kali dalam sejarah di rayakan di Afrika, hidup tak serta-merta berhenti meski setiap hari ditemukan tubuh-tubuh bergelimpangan karena kelaparan atau perang. Di kamp-kamp pengungsi di Darfur, Sudan, misalnya, anak-anak tampak begitu riang mengejar bola yang tak lebih besar dari bola tenis. Di Nairobi, Kenya, sekelompok pemuda bermain bola setelah membersihkan permukiman kumuh mereka yang baru saja terbakar. Di Mogadishu, Somalia, dua klan yang tengah berperang bahkan sepakat mengisi rehat perang mereka dengan bermain bola plastik bersama.
Mereka bermain dengan bola yang bisa terbuat dari apa saja: karet, plastik, potongan ban bekas, atau bahkan gulungan kain. Tak penting apakah mereka menggunakan bola sekelas Jabulani, yang dikritik banyak negara peserta Piala Dunia, atau bola buatan sendiri. Yang penting, mereka merasa memiliki sesuatu yang pantas dirayakan. Hidup sudah terlalu sulit. Saatnya mereka pergi ke lapangan untuk menggiring, menendang, dan menyundul bola serta bersorak ketika gol tercipta, dan setelah itu meniup trompet plastik vuvuzela.
Dengan membersihkan tanah sisa-sisa perang, mereka sudah bisa menggelar pertandingan. Gawang juga tak harus berjaring. Mantan striker Kongo, Pierre Kalala, mengatakan pemain yang memiliki keterampilan kaki jauh lebih disukai ketimbang para penendang keras. Inilah yang menjelaskan mengapa para pemain di banyak negara Afrika lebih jago menggiring bola ketimbang menembak secara akurat ke gawang.
Soka, atau bola dalam bahasa Amharik (bahasa Etiopia) dan Swahili (bahasa di Afrika Timur), bagi para pemain Afrika, lebih merupakan ritual kegembiraan ketimbang adu strategi.”Di Afrika, saya bermain untuk bersenang-senang. Di Eropa, saya bermain untuk menang,”kata bintang Kamerun, Samuel Eto’o, kepada SoccerLife2, majalah sepak bola Afrika Selatan. Pantaslah jika Roger Milla, bintang legendaris Kamerun, terlalu asyik bermain sepak bola indah ketimbang memenangi pertarungan ketika nyaris mempermalukan Inggris pada perempat final Piala Dunia 1990.
Di tengah sepak bola dunia yang secara fisik, patuh pada skema pelatih, dan mementingkan bisnis, layaklah kita merindukan apa yang dinyanyikan K’naan dalam Wavin’ Flag, sebagai “bersukacita dalam permainan yang indah”. Kita ingin menyaksikan sepak bola kembali merayakan keindahan, kesederhanaan, dan keriangan sebuah permainan.
Di Afrika sekarang, sepak bola adalah alasan mereka punya kaki,Di Afrika, bola atau soka atau mpira adalah alasan bagi anak anak menikmati sisa hidup yang teramat berharga.





