Terhitung sejak dirilis Google pada 2008, sistem operasi Android telah diprediksi akan menguasai pasar pada 2012 mendatang. Namun, data Canalys pada Januari 2011 menunjukkan kedigdayaan itu datang lebih cepat.
Pada kuartal keempat 2010, Android menjadi pemimpin di pasar kategori smartphone, meninggalkan ponsel-ponsel berbasis sistem operasi Apple dan BlackBerry di belakang. Pengapalan ponsel berbasis Android mencapai 32.9 juta, sedangkan pesaing terdekatnya platform Symbian dari Nokia turun menjadi 31 juta di dunia.
“Android mengungguli Apple dan BlackBerry. Amerika dan Eropa telah dikuasai Android. Tinggal Asia dan Afrika yang datanya belum tercatat,” kata Lucky
Sebastian, penasihat Komunitas ID-Android Lalu, apa yang membuat Android kian populer? Menurut Lucky, salah satu rahasianya adalah aplikasi-aplikasi
besutan Google yang menawan.
Misalnya, Voice Search yang memungkinkan pengguna mencari kueri dengan suara, Google Translate yang bisa menerjemahkan percakapan secara real time, dan Google Goggles yang bisa menampilkan informasi berdasarkan foto.
“Ada juga Google Street View, Google Maps, dan lainnya yang memudahkan pengguna mencari informasi,” tambahnya.
Bagi yang belum pernah mengutak-atik ponsel Android, aplikasi-aplikasi ini akan terdengar biasa saja. Google Translate atau Google Maps, misalnya, bisa diunduh atau diakses lewat browser di ponsel pintar manapun.
Namun, pandangan itu akan berubah jika Anda mencobanya. Ponsel berbasis monster hijau ini akan menyajikan pengalaman yang jauh berbeda. Google Translate, misalnya, memiliki fitur yang lebih dari sekadar menerjemahkan tulisan. Aplikasi tersebut bisa menerjemahkan suara secara langsung.
Bentuknya pun akan menjadi sebuah percakapan dua bahasa yang menarik. Selain itu, sistem operasi Android selalu berkembang. Sejak kemunculannya dua tahun lalu, Google telah mengeluarkan enam versi, mulai Android 1.5 Cupcake hingga platform khusus tablet 3.0 Honeycomb. “Ponsel yang memiliki plat form Android kian banyak dan bervariasi. Ini memudahkan pengguna memilih sesuai kebutuhan dan keuangan mereka,” kata Lucky.
Tiap harinya, ia menambahkan, ada sekitar 350 ribu aktivasi ponsel Android di dunia. Jika dihitung per bulan, angkanya bisa mencapai 10 juta. Terakhir, fitur yang paling esensial dan tak mungkin membuat pengguna bosan adalah akses ke Android Market.
Android Market menawarkan banyak aplikasi yang bisa diun duh secara gratis.
Beberapa developer lokal pun turut mengembangkan aplikasi ber basis Android ini. Misalnya, ada Komutta (aplikasi khusus busway) dan Cinemator (yang menyediakan informasi seputar film yang tayang di bioskop).
“Ada banyak kemudahan bagi developer untuk mengem bangkan aplikasi berbasis An droid. Biaya murah, menjang kau banyak orang, dan tidak perlu susah bikin dari awal,” lanjut Lucky.
Makin ramai Pasar ponsel Tanah Air se makin ramai dengan serbuan Android. Samsung, misalnya, lewat Galaxy Series menghadirkan 6 jenis ponsel Android dengan kebutuhan dan segmen yang berbeda.
Pada segmen early adopter, ada Galaxy Mini, Fit, dan Gio yang tampil lebih ringkas. Sementara itu, pada kelas pro fesional ada Galaxy Ace dan Pro yang menawarkan kualitas layar, kamera, dan spesifikasi lebih. Terakhir, d i k e l a s p re mium
hadir Galaxy S. “Di Indonesia, Android diperkenalkan pada Februari 2010 lalu. Setahun kemudian, pasarnya telah tumbuh menjadi sebesar delapan persen,” ujar Fabian Kayatmo, Product Market ing Senior Manager HHP Bussines Departement Samsung.
Selain varian yang beragam, Galaxy Series memiliki Samsung Apps yang menambah kekayaan aplikasi di dalamnya.
Samsung saat ini memang sedang gencar memperkenalkan produk berbasis monster hijau itu. Sementara, Bada, sistem operasi milik Samsung, malah seperti dianaktirikan.
“Pasarnya memang tak sebanyak Android. Akan tetapi, kita punya komitmen untuk terus mengembangkan Bada karena kita bisa berkreasi seutuhnya dalam sistem tersebut,” lanjutnya.
Baru-baru ini, produk lokal Ivio mengeluarkan ponsel berbasis Android.
Uniknya, ponsel Icon Pro (DE 88) yang diluncurkan Senin (25/04) memiliki kemampuan dual on GSM dan CDMA.
Ponsel pintar ini menggunakan Android OS v.2.2 Froyo dan memiliki layar sentuh capacitive Multi-Gesture. Ukuran layarnya cukup besar, yakni 3,5 inci (8,89 cm) dengan kamera 5 MP dan 0.3 MP. Harganya bersaing.
Mereka membanderolnya murah saja, Rp2,4 juta.
“Kami memang punya keunggulan dalam hal ponsel dual on. Ini adalah ponsel berbasis Android pertama yang memiliki dua SIM Card,” ujar Sam Ali, CEO IVIO International Ltd.
HTC, vendor ponsel premium dari Taiwan, pun tak kalah saing. Hadir dengan nuansa hitam yang elegan, HTC Desire S dengan sistem operasi terbaru Android 2.3 Gingerbread menjadi pilihan tepat bagi pecinta gadget.
HTC Desire S memiliki ukuran layar 3,7 inci dengan resolusi 480 x 800 pixel. Performanya cukup prima dengan dukungan memori internal 1.1 GB, RAM 768 MB dan Qualcomm, Snapdragon MSM8255 berkecepatan 1GHz. Kapasitas baterai juga tergolong menjanjikan. Ponsel bisa bertahan selama 430 jam pada mode standby dan waktu bicara hingga 590 menit. Gimana tertarik untuk mencoba Android ?








BlackBerry tak mau kalah. Ia terus memperkuat posisinya di peranti nomor satu dalam soal pengiriman surat elektronik. Lalu pelan-pelan ia juga mengejar iPhone dengan membeli paten-paten layar sentuh. Lihatlah evolusi BlackBerry. Pada 2004, kita masih melihat BlackBerry yang tak lebih indah daripada kalkulator tukang sayur. Untuk menggerakkan kursor, mereka memakai roda gerigi seperti pengatur volume radio.
Lompatan evolusi serupa dilakukan produsen ponsel lokal Nexian. Meski langkahnya tak sedahsyat BlackBerry, Nexian juga terus mencari zona patahan bisnis ponsel yang belum digarap kompetitor. Dulu, Nexia identik dengan ponsel berharga miring. Kini, Nexian mencoba melompat lebih jauh. Mereka ingin menjadi ponsel lokal pertama yang memakai Android. Mereka juga mengincar ponsel khusus untuk perempuan. Dan gebrakan terakhir adalah menggandeng raja game dunia Electronic Art (EA) untuk membuat ponsel murah yang kaya akan game. Dengan harga Rp 500 ribuan, kini Anda bisa mendapatkan ponsel dengan tombol QWERTY serta 30 game EA. Penggunanya bisa bermain game setelah dipotong pulsa Rp 1.000 per hari.







