Bangunan berwujud rumah besar di kompleks perumahan di kawasan Jakarta Barat itu tak berplang. Penanda aktivitas hanyalah sederet mobil dan motor yang diparkir di pinggir jalan dan halaman rumah serta papan bertuliskan Groupon yang terpampang di ruang depan.
Rumah dua lantai itu memang menjadi markas bagi sekumpulan anak muda yang bekerja di bawah pimpinan Ferry Tenka dan Jason Lamuda sebagai pemilik saham PT Lamuda Tenka. Nama perusahaan tersebut mungkin kurang dikenal. Tapi, bagaimana dengan nama
Disdus.com. Menurut Jason, salah seorang pendiri, basis usaha yang mereka jalani ialah bisnis periklanan menggunakan strategi promosi nonkonvensional yang diklaim lebih efektif menggaet pelanggan.
Ini bukan portal diskon, melainkan cara advertise yang baru. Biasanya, satu merchant itu harus bayar di muka terlebih dahulu untuk beriklan di majalah, koran, dan lainnya, tapi belum tentu efektif. Nah, kita pakai strategi promosi yang menarik sehingga masyarakat bisa datang dan kita pikir promo diskon itu yang efektif, jelas Jason saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Perusahaan asal Amerika Serikat, Groupon, menginspirasi mereka untuk menekuni bisnis tersebut. Dua anak muda itu melihat peluang besar dari usaha yang telah ditekuni Groupon sebelumnya di Negeri Paman Sam jika diterapkan di Indonesia.
Apalagi, sahut Jason, orang Indonesia sangat hijau saat melihat promo bertuliskan diskon. Mereka memanfaatkan sarana internet mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia setiap tahun bertambah pesat.
Selain itu, mereka memanfaatkan kegaptekan para pebisnis dalam bidang teknologi informasi untuk menghasilkan profit bagi Disdus.com. Caranya, memberikan layanan desain promo hingga mempromosikannya dalam situs mereka.
Bisnis itu akhirnya resmi dimulai sejak Agustus 2011. Awalnya, ini challenging banget. Banyak bisnis lokal gaptek di dunia online. Kebanyakan dari mereka tak percaya dengan pasang voucer di dunia online.
Mereka juga ragu apakah strategi itu bisa efektif atau enggak. Untungnya, kita didukung oleh founder Kaskus. Mereka awalnya banyak memberi advice hingga memfasilitasi, tutur lelaki kelahiran Jakarta, 30 September 1986, itu.
Mereka berdua sebenarnya tak memiliki basis pendidikan teknologi informasi resmi. Jason, misalnya. Ia sarjana bidang keuangan dari Colombia University, Amerika Serikat. Namun, ia telah lama tertarik dengan bidang komputer sehingga ia belajar secara autodidak.
Minat yang besar, berpadu dengan latar belakang pendidikan, akhirnya membuat mereka nekat membuka perusahaan. Pada awal usaha berjalan, mereka hanya merekrut dua karyawan yang ahli di bidang IT untuk membantu mereka menjalankan program. Ruang kerja mereka pun hanya terletak di sebuah apartemen.
Dulu itu, kami enggak punya jaringan sama sekali. Hanya modal nekat. Kami datangi perusahaan satu per satu, door to door. Presentasikan tentang apa yang kami lakukan ke manajernya, celoteh Jason.
Kenekatan mereka membuahkan hasil. Usaha yang dijalankan kini bahkan memiliki seratus pekerja yang tersebar di
Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Mereka merekrut anak-anak muda seusia mereka untuk bergabung dalam perusahaan tersebut. Hal itu kemudian sangat tampak dalam kedinamisan kantor.
Di Akuisisi oleh Groupon.com
Awal Januari 2011 Jason Lamuda mendapat e-mail dari Groupon.com yang mengabarkan ketertarikan raksasa portal diskon yang telah beroperasi di 52 negara itu, ia sempat tak percaya. Pun, ia mengaku hanya berupaya membuat lamannya sebagus mungkin. Tawaran akuisisi pun datang, dianggapnya sebagai bonus yang menjanjikan masa depan nan cerah.
Akhirnya sejak April 2011, Disdus.com resmi diakuisisi Groupon. Komposisi kepemilikan saham pun berubah. Pemegang saham mayoritas adalah perusahaan asal Amerika.
Seberapa besar yang tersisa, Jason enggan mengungkapkannya dengan alasan masih dalam masa transisi. Namun, ia menegaskan bahwa tak ada rasa kehilangan atas keputusan tersebut.
Ia bahkan menilai pelepasan sebagian saham itu sebagai cara meningkatkan kapasitas dengan belajar kepada ahlinya. Meski mereka mayoritas, kita masih menjalankan sendiri usaha ini. Mereka malah membantu kita kalau kita ada kesulitan.
Yang membedakan sekarang adalah ada bos yang harus dilapori soal perkembangan usaha. Itu saja, cetusnya. Mereka pun masih menggunakan nama Disdus.com meski akuisisi sudah berlangsung.
Tapi, hal itu tak akan lama karena mereka akan berganti nama menjadi Groupon.co.id. Mereka juga diserahi posisi country manager dengan tugas untuk mengontrol urusan perusahaan tersebut di Indonesia.
Visi kita adalah untuk mengembangkan e-commerce di Indonesia. Kita melihat masih sedikit orang yang menggunakan fasilitas ini di sini. Contohnya, dari tiga kota yang kita tangani, Jakarta masih menempati posisi nomor satu dalam transaksi online. Mungkin karena jumlah penduduknya juga yang paling besar, sahutnya.
Persaingan
Cara tersebut rupanya juga diikuti oleh pesaingnya, yakni berakuisisi dengan perusahaan yang lebih matang. Namun, ia melihat hal tersebut sebagai persaingan yang sehat. Semakin banyaknya perusahaan yang terlibat, ia optimistis, akan makin mengembangkan pasar bisnis online di Indonesia. Soalnya, yang pakai internet hanya 10% sampai 15%. Jadi, jauh lebih menguntungkan jika lebih banyak yang menekuni bidang ini, tukasnya.
Jason sadar rintisannya masih membutuhkan banyak perbaikan. Terutama menyangkut pelayanan bagi pelanggan. Keluhan utama mereka terhadap layanan ini ialah kewajiban mencetak voucer saat menggunakannya di tempat yang dituju.
Akibatnya, sekitar 20% hingga 30% dari total pemesanan dibatalkan di tengah jalan. Hal itu tentu berdampak pada kepercayaan klien. Konsumen selalu bertanya seberapa aman dan gampang untuk transaksi online. Saya melihat teknis pembayaran sekarang masih menghambat perkembangan e-commerce, ujarnya.
Ke depan ia berencana untuk memudahkan konsumen dengan menyediakan fasilitas phone banking. Selain itu, fasilitas pembayaran juga ditambah dengan membolehkan konsumen membayar dengan kartu kredit. Namun, tentu perlu kerja keras untuk mengedukasi kalangan pebisnis untuk memanfaatkan fasilitas ini.
Kiat untuk para Start Up Online
Berikut kiat Jason saat merintis dan kini membesarkan bisnisnya.
Bukan untuk diakuisisi
Walaupun mengaku terinspirasi dari laman Groupon, Jason mengaku tak serta merta
mengopi. Ia melakukan penyesuaian dan modifi kasi, salah satunya pada metode pembayaran dan menghilangkan jumlah minimum pembelian voucer.
Pesan saya buat para start up, jangan pernah mendedikasikan situs mereka untuk diakuisisi. Saya sendiri belajar banyak setelah diakuisisi, tapi motivasinya dulu memberikan yang terbaik untuk konsumen, kata Jason.
Kesetiaan pada minat dan konsistensi mengambangkan bisnis sesuai kata hati, di mata Jason, tentu akan jauh lebih optimal jika dibandingkan dengan start up (sebutan populer bisnis rintisan berbasis teknologi informasi) yang belum-belum sudah mengadang-gadang akan mendapat kucuran dana.
Belajar perlu, dana juga perlu
Diakuisisi pemain senior di dunia maya bukan cuma berbuah kucuran dana, melainkan juga pengalaman belajar. Baik dana maupun panduan pada aspek manajemen yang diberikan Groupon, menurut Jason, sama menariknya.
Mereka sudah sangat besar, kita jadi belajar banyak termasuk soal menjalin kemitraan dengan Yahoo Indonesia, Kaskus dan sempat juga dengan Multiply Indonesia, kata Jason.
Komposisi SDM
Kini, setelah mempunyai 100 karyawan fulltime, Disdus.com mendistribusikan 50% sumber daya manusianya di divisi marketing dan 5% pada pengembangan teknis. Namun, tentu saja, setiap start up juga laman lainnya punya prioritasnya masing-masing.
Jika isi atau konten yang jadi fokus, tentu komposisinya bisa berubah. Sekarang kita telah punya kantor di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Ke depan akan buka di Medan dan Yogyakarta, ujar Jason.
Bergabung dalam inkubator
Kendati Jason mengaku memulai bisnisnya berdua dengan mitra kerjanya, buat para pengelola start up, ia menyarankan agar bermitra dengan inkubator yang menyediakan para senior sebagai mentor. Saya sekarang menjadi mentor voluntary untuk beberapa start up yang tergabung dalam East Venture, akan sangat bagus konsisten pada passion dan coaching dari yang sudah lebih lama bergabung di bisnis ini. Ingat lo, dulu Facebook itu juga disebut start up, kata Jason.
Jadi buat para Start UP Indonesia tetap semangat






