Apr 07

Walikota Munich, Christian Ude mengaku pemerintahannya dapat menghemat anggaran setelah meninggalkan Windows dan beralih ke Linux. Tahun lalu, anggaran yang berhasil dihemat mencapai empat juta Euro.Ude mengklaim departemen IT kota Munich berhasil menghemat sekitar sepertiga dari total anggaran tahun lalu. Tidak hanya sistem operasi Windows yang diganti, tapi aplikasi perkantoran Microsoft Office juga diganti dengan OpenOffice.

Dipaparkan bahwa untuk membeli lisensi Windows dan melakukan perbaharuan sistem agar Windows dapat berjalan optimal dibutuhkan sekitar 15 juta Euro. Angka tersebut masih ditambah 2,8 juta Euro untuk perpanjangan lisensi dalam tiga sampai empat tahun.

Sementara itu, dengan Linux pemerintah kota bisa memanfaatkan komputer yang sudah ada mengingat Linux tidak membutuhkan komputer dengan spesifikasi tinggi. Permintaan bantuan ke help desk juga bisa ditekan dari 70 permintaan bantuan per bulan menjadi 46. Ude juga menekankan bahwa ia telah menyertakan biaya dukungan, pelatihan kembali, dan biaya porting dalam perhitungannya.

Munich merupakan kota besar pertama yang beralih ke Open Source, berbarengan dengan diumumkannya Project LiMux pada 2004. Sekitar 14.000 komputer diganti ‘jeroannya’ dari Windows NT 4.0 dan Microsoft Office menjadi Linux dan OpenOffice.

Migrasi dilakukan bertahap, beberapa departemen mulai menggunakan OpenOffice di Windows, lainnya langsung menggunakan OpenOffice di Linux, tergantung infrastruktur dan kebutuhan pengguna. Jika kebutuhan aplikasi perkantoran hanya pada hal-hal sederhana, tapi butuh sistem untuk menjalankan aplikasi lain yang kompleks, maka untuk tahap awal migrasi dilakukan hanya pada aplikasi perkantoran sementara sistem operasinya tetap Windows.

Keputusan Munich untuk beralih ke Linux sempat menjadi kontroversi mengingat popularitas Microsoft yang masih mendominasi. Proses migrasi juga sempat tertunda sampai tahun 2006 karena pertimbangan paten yang disebut-sebut masih bermasalah di kernel Linux. Hambatan lainnya adalah kekhawatiran yang biasa muncul dalam rencana migrasi sistem, terkait kemampuan para personil mengoperasikan sistem dan aplikasi-aplikasi di Linux.

Bisa jadi, setelah Munich membuktikan keberhasilan migrasinya, akan makin banyak pemerintahan yang melirik Linux sebagai alternatif yang sehat. Yayasan pembuat aplikasi Open Source LibreOffice melaporkan bahwa pemerintah Perancis telah menyepakati peralihan aplikasi dari Microsoft ke Open Source untuk 500.000 komputer. Kantor-kantor pemerintahan lainnya di Eropa juga disebut-sebut tengah mempertimbangkan hal yang sama.

Bagaimana di Indonesia ?

Pemerintah Indonesia sebanarnya telah berkomitmen untuk menggunakan software legal dan open source. Komitmen ini diwujudkan melalui surat edaran MENPAN No: SE / 01/ M.PAN/ 3/ 2009. Surat edaran tersebut mewajibkan instasi pemerintah hingga tingkat kabupaten kota menggunakan software legal dan open source. Di surat tersebut juga menegaskan pelaksanaan penggunaan software legal dan open source paling lambat tanggal 31 Desember 2011.

Tapi sepertinya sampai saat ini masih banyak daerah yang belum melaksanakannya.Engkos Koswara, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Transportasi, Kementerian Riset dan Teknologi bilang “Baru 25 persenan lah (Pemda yang menggunakan open source-red.),” katanya, di sela-sela acara ASEAN Workshop to Draft The Implementation Plans of Commite in Science and Technology (COST) Flagship Programmes di Novotel Bandung, Selasa (3/5/2011).

Angka tersebut, menurut Engkos didapat berdasarkan laporan dari Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara dalam satu kesempatan di awal tahun 2011.

“Saya dapat laporan dari mereka segitu. Awal tahun kita bertemu. Baru beberapa daerah yang benar-benar mengimplementasikannya. Seperti Jembrana (Bali), Kebumen, Sragen, Aceh dan beberapa lainnya. Tapi belum banyak,” bebernya.

Di tempat yang sama, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata saat disinggung hal tersebut mengatakan bahwa kapasitas pihaknya hanya melakukan riset. Untuk implementasi dan sosialisasi itu adalah kewenangan kementerian lainnya.

“Ini kita tidak sendiri. Kita di Ristek hanya melakukan riset, sedangkan untuk implementasi itu yang lead adalah Kementrian PAN. Dan Kominfo lead untuk sosialisasi,” katanya.

Namun Engkos optimistis target seluruh daerah akan migrasi ke sistem operasi open source. Optimisme itu berdasar pada surat edaran yang dikeluarkan oleh Menpan.

“Kalau pakai software berbayar, memang siapa yang mau membayarnya? Dari pemerintah sudah tidak lagi menganggarkan untuk pembelian software. Solusinya ya menggunakan open source,” pungkasnya.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Mar 22

271cd77d77f33d7c7564b119ed870f04_winrar3901Jika di diwindows biasanya bila kita membuka File Kompres bertipe Rar, cukup dengan menggunakan Winrar kita bisa membukanya. Tetapi di Linux kita bisa mengekstrak File tersebut dari Console dengan menggunakan Program Unrar.

Sebelumnya kita install dahulu unrar di console

sudo apt-get install unrar

Setelah unrar terinstall kita mulai bisa mengekstrak file rar dengan perintah

sudo unrar x [filename].rar

Unrar juga mendukung file rar multiple, artinya menyatukan file rar yang terpisah dalam ebberapa bagian file.

Misalkan saya kasih contoh saya

sudo unrar x tyod-part1.rar

Setelah mencoba beberapa kali, saya rasa cara ini lebih efektif dan efisien.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 11

shareDI lingkungan Windows, Server yang digunakan pastinya adalah Windows Server, Fungsi yang paling sering dipakai dalam jaringan Komputer adalah Sharing File di Server yang bisa di akses oleh Client. pada bagian pertama sudah saya jelaskan Ketika Migrasi dilakukan tentunya tidak semua langsung bisa diubah 100% menjadi Linux semua, karena biasanya ada beberapa fungsi dari perusahaan yang sudah/sementara ini terlanjur terikat dengan produk Microsoft atau propietary lainnya.

Jadi yang saya bahas disini bagaimana cara menjembatani Sharing File antara dua OS yang berbeda, Data ada di Windows , tapi mau di akses dengan linux, jawabannya adalah Samba.

Samba Server melakukan sharing data atau program aplikasi secara bersama sama oleh Client atau Server yang berbeda OS.

Untuk bisa agar Client Linux bisa mengakses Data di Windows terlebih dahulu kita menginstall package Samba yaitu

sudo apt-get install samba samba-common samba-common-bin samba-dbg samba-doc samba-doc-pdf

sudo apt-get install smbclient smbfs smbnetfs smb-nat libpam-smbpass

Setelah selesai semua package terinstall maka kita ke langkah selanjutnya, supaya lebih mudah di mengerti saya akan buat skenario Misalnya : Kita ingin membuat sharing folder morningreport yang ada di server windows 2003 ke komputer client linux dengan hostname it2.

Sisi Server

OS : Window Server 2003

Username : morningreport

password : morningreport

Folder Share : MorningReport,

Ip Server : 192.168.1.88

WorkGroup : rskbgroup

Sisi Client

OS Client : Linux Mint

Username : it2

Pada komputer client buka file fstab di /etc/fstab dengan menggunakan perintah nano

nano /etc/fstab

Lalu ketik script di bawah ini

//192.168.1.88/morningreport /home/it2/Desktop/morningreport smbfs username=morningreport, password=morningreport, workgroup=rskbgroup,rw,uid=it2,gid=it2

Jika berhasil maka akan ada Drive baru di Tampilan Desktop Komputer Client Linux yang kalau kita akses maka data sharing di Windows Server bisa terbuka.

Pada kasus kedua adalah jika kita ingin melakukan Sharing data antar sesama Desktop Linux atau antara Linux Server dengan Desktop Linux, tentunya bukan Samba lagi yang kita pakai, tetapi kita pakai NFS untuk melakukannya.

Pada prinsipnya NFS sama dengan Samba tetapi bedanya NFS hanya untuk PlatForm sesama Linux bukan jembatan antara Windows dengan Linux.

Supaya mudah dimengerti kembali saya akan skenario misalnya : Kita ingin melakukan sharing folder dari Linux Server ke lima komputer Linux Client.

Sisi Server

Folder Share : morningreport

IP Server : 192.168.1.5

Username : admin

Sisi Client

Ip Client : 192.168.1.11

Username : it

Ip Client : 192.168.1.12

Username : personalia

Ip Client : 192.168.1.13

Username : logistik

Ip Client : 192.168.1.14

Username : akunting

Ip Client : 192.168.1.15

Username : purchasing

Terlebih dahulu pada server kita install dahulu Package nfs-kernel-server, caranya kita ke console command line.

sudo apt-get install nfs-kernel-server

Lalu kita masukkan konfigurasi pada /etc/exports

sudo nano /etc/exports

Tambahkan konfigurasi Folder yang akan di sharing dan daftar Ip Client seperti ini

/home/admin/morningreport/ 192.168.1.11(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.12(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.13(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.14(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.15(rw,sync)

Setelah itu simpan konfigurasi tersebut, lalu restart service NFS dengan

sudo /etc/init.d/nfs-kernel-server restart

Sekarang kita melakukan konfigurasi pada sisi Client, misalnya kita dari komputer dengan IP 192.168.1.11 dengan user name it.

Install package NFS Client di command Line dengan perintah

sudo apt-get install portmap nfs-common

Lalu kita masukkan konfigurasi pada /etc/fstab

sudo nano /etc/fstab

Tambahkan konfigurasi Folder yang akan di mount dari Sharing Folder Server

192.168.1.5:/home/admin/morningreport /home/it/Desktop/morningreport nfs rw 0 0

Setelah itu simpan konfigurasi tersebut lalu restart Komputernya, maka pada Desktop akan muncul Icon Drive baru yang kalau kita klik akan masuk ke Folder Sharing di server.

Cara ini dilakukan juga pada 4 komputer berikutnya yaitu milik personalia, logistik, akunting dan purchasing.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 11

Migrasi Microsoft Office ke Open Office

Hampir semua pengguna Windows pasti telah biasa menggunakan MS Office, tetapi seiring dengan berubahnya OS Windows menjadi OS Linux maka berpindah juga aplikasi perkantoran dari Microsoft Office ke Open Office bawaan Linux. Mengingat fitur-fitur standar yang ada pada Microsoft Office sudah ada pada Open Office, meskipun ada beberapa perbedaan namun sebenarnya perbedaan tersebut dapat dipelajari.

Tetapi dalam kenyataan di lapangan pelaksanaan migrasi dari Microsoft Office ke Open Office ternyata lebih susah daripada migrasi system operasi itu sendiri (migrasi dari Windows ke Linux). Kendala pertama biasanya karena ketakutan user pertama kali ketika menggunakan Open Office. Takut data tidak terbaca/kacau, takut kesulitan, dan takut harus belajar lagi dari Nol, yang akan berefek pada tingkat produktivitas dan mendapat ?semprotan? dari atasan kalau lagi disuruh mengejar Dead Line mencetak laporan.

Kendala berikutnya harus dijelaskan kepada user ketika migrasi menggunakan Open Office pasti akan ada beberapa data dari Microsoft Office yang terlihat kacau sehingga mau tidak mau user harus melakukan editing ulang. Kekacauan tersebut terjadi karena;

Perbedaan jenis font, hal ini dapat diatasi dengan memasukkan font-font Microsoft Office ke system Linux, solusinya dengan menambahkan font windows pada system.
Cara menambahkan Font windows sebenarnya cukup dari command line

sudo apt-get install ttf-mscorefonts-installer
sudo apt-get install font-manager

Tabel dan gambar, penanganan gambar dan tabel pada Microsoft Office dan OpenOffice memang berbeda. Kemungkinan ketika membuka dokumen doc yang mengandung tabel dan gambar akan terlihat sedikit berantakan di Open Office. Tapi dengan meluangkan sedikit waktu, sebenarnya kita dapat memperbaiki dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format OpenOffice

Menu dan interface yang berbeda. Open Office dan Microsoft Office memiliki perbedaan mendasar pada peletakan menu-menunya. Bagi pengguna yang sudah sangat familiar dengan Ms.Office tentu akan merasa tidak nyaman dengan perubahan tersebut. Dalam hal ini sangat bergantung dengan kemauan (willingnes) dari pengguna untuk mempelajari dan beradaptasi dengan perubahan .

Untuk melihat dari dekat mungkin akan sangat sulit sekali karena pada dasarnya berbagai aplikasi ini sangat mirip satu sama lain. Jadi perbedaan yang ada kemungkinan akan sangat sedikit sekali, beberapa yang ada adalah,

Word Processor

Beberapa cuplikan fitur MSWord yang tidak di nikmati oleh Writer:

  • Grammer checker. Walaupun sebetulnya Writer mempunyai fasilitas plug-in dimana kita dapat memasukan LanguageTool, proyek open source indepeden lainya, sebagai grammer checker.
  • Word Marco. Writer tidak mendukung Word Marco, mungkin karena terlalu riskan karena ini merupakan sumber virus.
  • Animated Text. Word dapat membuat animasi text.

Fitur Writer yang tidak dinikmati oleh MSWord.

  • Membuat file PDF.
  • Kesederhanaan.
  • Membuat HTML untuk Web.
  • Writer Macro. Writer mempunyai Macro sendiri yang mempunyai struktur pohon.
  • Penggunaan Find-and-Replace.
  • Besar File. Besar file ODT yang dibuat menggunakan Writer biasanya lebih kecil daripada Word.

Spreadsheet

Fitur Excel yang tidak dinikmati Calc.

  • Hampir tidak ada. Memang ada laporan bahwa Calc kadang kala tidak berhasil membuat grafik yang persis sama dengan grafik yang dibuat oleh Excel.

Fitur Calc yang tidak dinikmati oleh Excel.

  • Membuat PDF.
  • Interface yang lebih sederhana.

E-Mail Client

Fitur Outlook yang tidak dinikmati oleh Thunderbird

  • Integrasi ke Calender.
  • Cek Spelling & Grammer.

Fitur Thunderbird yang tidak dinikmati oleh Outlook

  • Keyword search.
  • RSS Support.
  • Plain text mail.

Kalender

Fitur Outlook yang tidak dinikmati oleh Sunbird

  • Sharing Kalender. Memang agak rumit proses-nya karena harus mengkonfigurasi Microsoft Exchange.

Melihat sedemikian banyak keuntungan yang dapat di peroleh dari solusi open source yang tidak berbeda terlalu jauh dengan Microsoft. Sebetulnya saat ini mungkin akan jauh lebih baik menggunakan solusi open source daripada Microsoft Office yang harganya mendekati US$300-400.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 06

screenshot-2Driver Printer di Linux

Sekarang kita membahas soal bagaimana menginstall Printer di Linux Desktop, di Windows menginstall Driver Printer tergolong cukup mudah, karena tiap tiap printer punya File Executable untuk menginstall drivernya, tinggal ikuti Kotak Dialognya , Next lalu Next, selesai sudah, ini berbeda sekali jika kita menginstall di Driver Printer Linux.

Sebagai pemula saya sarankan membaca dahulu dokumentasi nya di website www.linuxprinting.org.

kita ambil kasus Printer yang kita HP Laserjet 1020 dan Printer Network HP Laserjet 1566 dengan IP 192.168.1.5, Printer tersebut di Linux menggunakan driver foo2zjs. Kita bisa lihat dokumentasinya di Website foo2zjs.rkkda.com, setelah kita sudah membaca dan memahami barulah kita mulai beraksi.

Pertama yang kita harus memastikan kalau Package Cups telah terinstall, untuk menginstall kita ketik di command line

sudo apt-get install cup cups cupsddk cups-bsd cups-client cups-dbg <enter>

Kemudian pastikan Package Database Printer milik Cups yaitu cups-driver-gutenprint terhapus, karena ini agar tidak bentrok dengan Database foo2zjs yang akan kita install,

sudo apt-get remove Cups-driver-gutenprint <enter>

Kedua kita mulai menginstall Package printer HP yang ternyata sudah ada juga di Package Manager Linux, Perintahnya adalah,

sudo apt-get install hpijs hpijs-ppds hplip hplip-cups hplip-data hplip-dbg hplip-doc <enter>

Sekarang kita beralih ke website foo2zjs.rkkda dan Download driver printer tersebut

wget -O foo2zjs.tar.gz http://foo2zjs.rkkda.com/foo2zjs.tar.gz <enter>

Lalu Ekstrak File Driver jika download telah selesai

tar zxf foo2zjs.tar.gz <enter>

masuk ke direktori file tersebut

cd foo2zjs <enter>

Kemudian Kompile Driver tersebut dan ikuti instruksi di bawah ini

make

Langkah selanjutnya kita ekstrak file .ICM profiles untuk koreksi warna dan firmware. Pilih nomror model untuk printer yang kita mau install

./getweb 1020 # Get HP LaserJet 1020 firmware file

Selanjutnya Install driver, foomatic XML files, dan extra files:

sudo make install
make install

konfigure port USB karena Hp 1020 pastinya pakai kabel USB.

sudo make install-hotplug <enter>
sudo make cups <enter>

Jika tidak ada pesan kesalahan maka berarti driver Printer telah terinstall, apakah sudah selesai? masih ada step berikut nya yaitu ketik

system-config-printer

Akan muncul jendela GUI Printers. Printernya di-nyalain aja pada langkah ini.
atur setting dengan “new printer’ atau “add printer”. ikuti saja step by step dengan klik ‘forward”.
Di step 2 jelas terlihat data printer :
Manufacurer : Hp
Model : Laserjet 1020
Driver : foo2zjs (seperti yang mas tarmin bilang 1020 menggunakan foo2zjs)
Klik aja “forward”
Masuk ke step 3 klik aja “apply”. setelah itu jendela add printer akan tertutup. dan ada ikon printer di Laserjet-1020 di jendela GUI Printer. Klik kanan ikon itu trus pilih propertis. klik “print a test page”. Jika semua langkah langkah di atas sudah benar pastinya akan berhasil. Selamat mencoba

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 06

AdobeAdobe Reader, dan Adobe Flash

Selain MS Office yang merupakan Aplikasi Standar adalagi aplikasi Adobe yang sering digunakan oleh User Windows yaitu Adobe reader, Adobe Flash dan Adobe AIR, saya akan jelaskan satu persatu

Acrobat Reader adalah salah satu perangkat lunak dari keluarga Adobe Acrobat yang dikembangkan oleh Adobe Systems. Acrobat Reader sekarang bernama Adobe Reader. Pengguna Acrobat Reader dapat membaca, memberi notasi, mencari, verifikasi, menandai secara digital dan mencetak data dengan format Portable Document Format atau PDF.Acrobat Reader didesain dengan layout menyerupai kertas konvensional. Adobe Reader telah hadir lebih dari satu dekade dan merupakan aplikasi pembaca data PDF pertama sehingga mudah digunakan.

Adobe Flash (dahulu bernama Macromedia Flash) adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan produk unggulan Adobe Systems. Adobe Flash digunakan untuk membuat gambar vektor maupun animasi gambar tersebut. Berkas yang dihasilkan dari perangkat lunak ini mempunyai file extension .swf dan dapat diputar di penjelajah web yang telah dipasangi Adobe Flash Player. Flash menggunakan bahasa pemrograman bernama ActionScript yang muncul pertama kalinya pada Flash 5.

Sebelum tahun 2005, Flash dirilis oleh Macromedia. Flash 1.0 diluncurkan pada tahun 1996 setelah Macromedia membeli program animasi vektor bernama FutureSplash. Versi terakhir yang diluncurkan di pasaran dengan menggunakan nama Macromedia adalah adalah Macromedia Flash 8. Pada tanggal 3 Desember 2005 Adobe Systems mengakuisisi Macromedia dan seluruh produknya, sehingga nama Macromedia Flash berubah menjadi Adobe Flash.Adobe Flash merupakan sebuah program aplikasi pembuat animasi yang popular untuk saat ini, dimana semua pekerjaan yang berhubungan dengan animasi 2D bahkan 3D pada Flash versi terbaru saat ini, dapat dilakukan dengan mudah melalui program aplikasi ini.

Sedangkan Adobe AIR sendiri adalah singkatan dari Adobe Integration Runtime. Software ini memungkinkan kita untuk membuat aplikasi (yang udah jadi dan siap publish) jadi berbasis web ataupun desktop (pilihan ditangan kita). Aplikasi desktop dari AIR bisa kita buat terhubung dengan internet. Contoh sederhana misalnya ada aplikasi kamus yang diinstall didesktop, tapi bisa ngambil contoh penggunaan kalimatnya dari internet atau sebuah mp3 player (desktop juga) yang bisa nyari lirik lagu secara online.

Untuk menginstall di Linux ternyata cukup mudah cukup ketik saja di command line

sudo apt-get install adobe-flashplugin adobeair adobereader-enu <enter>

maka ketiga aplikasi tersebut sudah terpasang..

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 31

Tentang Wine,

wineYang tersulit dalam proses Migrasi adalah Migrasi Aplikasi ketimbang OS. tetapi berkat Wine, jika ada user yang ingin tetap memakai Aplikasi Windows di Linux maka adalah adalah sebuah program di Linux Mint/Ubuntu yang memungkinkan Anda untuk menjalankan program-program yang berbasis Windows (memiliki extensi .exe atau .msi).

Untuk menginstall Wine terlebih dahulu kita tambahkan repository PPA Wine melalui Terminal. Ini sangat berguna terutama untuk Kubuntu, Xubuntu dan distro turunan Ubuntu lainnya yang tidak memiliki Ubuntu Software Center. Langkah-langkahnya adalah seperti ini:

sudo add-apt-repository ppa:ubuntu-wine/ppa
sudo apt-get update
sudo apt-get install wine1.3

Untuk menginstall program Windows di Ubuntu menggunakan Wine cukup dengan double-klik pada installer nya (.exe atau .msi), selanjutnya menu instalasi akan muncul seperti biasanya. Kalau menu instalasi tidak muncul, coba install dari Terminal.

Copy dulu program yang ingin Anda install ke Desktop, kemudian buka Terminal dan jalankan perintah berikut:

cd ~/Desktop
wine nama_program.exe

Kalau installernya memiliki ekstensi .msi maka:

cd ~/Desktop
wine start nama_program.msi

Menurut pengalaman tidak semua program Windows yang diinstall dengan Wine bisa berjalan mulus dan lancar seperti layaknya di Windows. Beberapa aplikasi membutuhkan trik untuk membuatnya berjalan lancar.

Wine sudah dilengkapi dengan uninstaller yang berguna untuk menghapus program yang diinstall melalui Wine, mirip dengan fitur Add/Remove Programs pada Windows.

Jalankan perintah berikut ini pada Terminal:

wine uninstaller

Saat menu uninstaller sudah muncul, pilihlah aplikasi apa yang ingin Anda hapus.

Menghapus Wine dari Ubuntu

Jika Anda ingin menghapus Wine beserta program-program Windows yang telah terinstal, ikuti langkah berikut ini:

Hapus dulu Wine dari Ubuntu:

sudo apt-get remove wine1.3

Kemudian hapus folder instalasi dari Wine:

rm -rf $HOME/.wine
rm -f $HOME/.config/menus/applications-merged/wine*
rm -rf $HOME/.local/share/applications/wine
rm -f $HOME/.local/share/desktop-directories/wine*
rm -f $HOME/.local/share/icons/????_*.xpm
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 28

Berteman dengan Console Command line di Linux Minth

Kalau di Windows kita kenal ada baris perintah di DOS, command line atau baris perintah, di Linux juga diketikkan di prompt dan diakhiri dengan menekan tombol Enter pada keyboard untuk mengeksekusi perintah tersebut.

Baris perintah merupakan cara yang lebih efisien untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Oleh karena itu pemakai Linux tetap mengandalkan cara ini untuk bekerja. Jadi buat newbie Linux sebenarnya harus mengetahui dan sedikitnya pernah menggunakan perintah baris ini karena suatu saat pengetahuan akan perintah-perintah ini bisa sangat diperlukan. Berikut perintah dasar yang harus dikuasai

cd
Merupakan perintah command untuk berganti posisi direktori

ls
Perintah untuk menampil isi direktori

cp
Perintah command yang digunakan untuk mencopy file / folder

mv
Perintah yang berfungsi untuk memindah atau merename file/folder

rm
Perintah linux yang digunakan untuk menghapus file atau direktori. Contoh : untuk menghapus sebuah folder beserta isinya, kita gunakan perintah rm -rdfv [nama folder]

man
Digunakan untuk melihat manual atau keteranangan dari perintah command lain, contohnya kita ingi tahu penggunaan perintah command rm, maka kita ketikkan man rm

md
Perintah untuk membuat direktori baru

nano / pico / vi
Merupakan perintah eksternal yang digunakan untuk mengedit file

sudo
Perintah command yang digunakan untuk berpindah ke status super user

apt-get
Perintah yang digunakan untuk menginstall, uninstall, reinstall paket-paket yang ada di system linux anda (Distro turunan dari Debian)

apt-cache
Digunakan untuk mengorganisasi daftar paket dalam system linux anda, mencari, menghapus, menambah paket.

/etc/init.d/[nama service]
Manajemen servis dengan cara mengeksekusi file yang terletak di folder /etc/init.d/ contoh : restart servis printer dengan mengetikkan sudo /etc/init.d/cups restart

pkill
Perintah command yang digunakan untuk mematikan aplikasi yang sedang crash. Contoh : mematikan Mozilla Firefox yang sedang crach ketikkan command pkill firefox

Untuk pertama cukup beberapa perintah dasar saja yang harus dikuasai, karena pengetahuan akan perintah-perintah yang lain akan segera bertambah seiring dengan kemajuan kita menguasai sistem operasi Linux.

* apt-get dan apt-cache

Jika ingin menginstall paket (pkgnames) usahakan menggunakan apt-get :

Misal, nama paketnya empathy, berarti perintahnya

sudo apt-get install empathy <enter>

jika ternyata kita agak lupa ejaan nama paketnya cari aja dengan apt-cache :

Misal, kita hanya ingat em aja namanya ketik aja

sudo apt-cache pkgnames em <enter>

maka akan muncul nama paketnya secara lengkap

Selama saya menggunakan perintah Command Line, bukan berarti mulus, kadang ada juga problem-problem yang terjadi, beberapa saya catat yang sering terjadi dan cara menyelesaikannya.

* Problem dengan Sudo

Kadang kita dalam melakukan perintah Sudo sering gagal dan muncul pesan

user1 is not in the Sudoers file

ini artinya karena hak untuk melakukan perintah Sudo belum ada pada user1, cara menambahkan yaitu memasukkan Hak perintah Sudo pada file sudoers

su <enter>
password <enter>
echo ‘user1 ALL=(ALL) ALL’ >> /etc/sudoers <enter>
exit <enter>

maka anda pun bisa melakukan perintah Sudo

* Problem dengan SU

su adalah super user, di windows disebutnya sebagai Administrator dimana punya hak apapun untuk mengubah konfigurasi komputer, tapi terkadang di linux kita suka menemui gagal untuk melakukan login su dan muncul pesan error

su: Authentication Failure

pertama pastikan dahulu apakah password su benar, kalau sudah benar berarti memang ada otentifikasi yang salah, biasanya saya melakukan perintah ini untuk menormalkannya

chmod +s /bin/su <enter>

setelah itu coba lakukan lagi login su.. semoga berhasil

* Icon Minimize, Maximize dan Close hilang.

Kadang tiba tiba icon tersebut hilang dari jendela aplikasi di Desktop, sehingga kita sulit untuk minimize dan maximize juga menutup jendela susah, caranya hanya cukup dari command line

sudo metacity –replace <enter>

lalu restart komputer dengan

sudo reboot <enter>

Maka akhirnya Desktop pun normal kembali.

* Gak bisa Update…

Jika kita sedang melakukan update atau install program melalui Console atau Terminal tiba tiba mendapatkan pesan error “Could not get lock /var/lib/apt/lists/lock”, dan Update pun terhenti. Pesan error ini sering terjadi kalau kita melakukan update dari repositori menggunakan perintah sudo apt-get update.

Cara mengatasi problem seperti ini

jalankan perintah ini di Console

sudo rm /var/lib/apt/lists/lock

atau bisa juga

killall -9 apt-get aptitude

Setelah itu coba lakukan update lagi dengan perintah

sudo apt-get update.

dan update pun kembali lancar dan berhasil..

Menghilangkan KeyRing

Ada kasus begini, waktu pertama saya install Linux di Komputer A misalnya saya masukkan kasih password untuk login yang mudah diingat yaitu “123456″, setelah berjalan beberapa lama saya ingin merubah password login karena ternyata sudah banyak yang tahu, di rubahlah menjadi “abcdef”, tetapi entah kenapa dalam beberapa proses konfigurasi selalu muncul Kotak Dialog KeyRing yang ternyata saya harus memasukkan password yang pertama kali waktu kita install Linux di komputer tersebut, dan makhluk itu bernama KeyRing. Apa itu KeyRing? Ini adalah sebuah aplikasi yang bertugas menyimpan seluruh Kata Sandi yang berada di mesin ubuntu. Contohnya seperti kata sandi bagi koneksi jaringan Nirkabel, data masuk ke dalam sebuah situs internet, kata sandi SSH, dan lain sebagainya. :) Sebenarnya aplikasi ini sangat berguna bagi kebanyakan user yang suka pelupa. Tetapi ketika kita sudah mulai sering merubah password ini tentu menyebalkan karena harus memasukkan password yang lalu lalu itu.

Untuk menghilangkan Keyrings ini sebenarnya cukup mudah yaitu masuk ke Console lalu ketik seperti ini

cd .gnome2/keyrings/ [enter]
sudo rm *.keyring [enter]
sudo reboot [enter]

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 28

Memilih Distro Linux yang tepat untuk Migrasi
Dibandingkan dengan OS Windows, OS Linux memiliki bentuk yang berbeda, karena pada dasarnya bersifat Open Source maka tidak heran banyak sekali beredar versi versi OS Linux yang berbeda, dalam Migrasi ini tentunya harus kita pilih Distro Linux mana yang cocok dipakai untuk user yang sudah terbiasa memakai Windows, jatuh pilihan akhirnya pada Distro Linux Mint merupakan salah satu distribusi Linux yang berbasiskan Debian dan merupakan Turunan Ubuntu.

Inti dari LinuxMint adalah merupakan turunan Ubuntu, sehingga aplikasi yang dapat berjalan di Ubuntu, juga bisa berjalan pada LinuxMint. Walaupun inti dari LinuxMint adalah Ubuntu, LinuxMint hadir dengan tampilan yang berbeda dengan Ubuntu.

Perbandingan dengan Ubuntu, LinuxMint memiliki menu start yang berbeda dengan Ubuntu. Dilengkapi dengan pencarian dan aplikasi favorit, pada edisi Main, LinuxMint sudah terintegrasi dengan codec multimedia yang umum digunakan. Sehingga pengguna dapat langsung memainkan file mp3 dan sudah terintegrasi dengan Java Runtime.

Ada 9 Alasan Kenapa Linux Mint adalah Distro Linux yang tepat untuk Migrasi Windows ke Linux.

  1. Pengoperasian (instalasi dan pemakaian) OS Linux Mint tidaklah terlalu sulit, bahkan sudah semudah OS Windows. Begitu juga dengan aplikasi-aplikasinya, misal aplikasi Open Office di OS Linux Mint bisa digunakan semudah menggunakan Ms Office di OS Windows, silahkan coba.
  2. Hampir atau bahkan semua software yang saya butuhkan terpenuhi mulai dari audio/video player, office, internet, games, graphic, programming, dsb. Bagi User yang awalnya ragu dalam hal ini, tapi setelah mereka tahu bahwa semua software yang di butuhkan ada di OS Linux Mint maka pastinya menjadi semakin mantap meninggalkan OS Windows.
  3. Tidak lagi pusing memikirkan keamanan data, tapi bukan berarti Linux Mint aman atau bebas dari virus/malware/worm dsb, namun setidaknya ?programmer? program ?jahat? untuk OS Linux Mint belum sebanyak pada OS Windows, selain karena arsitektur n karakteristik dari OS Linux Mint lebih secure dibandingkan dengan OS Windows.
  4. Performance baik dari sisi tampilan maupun kecepatannya bisa dibandingkan dengan OS Windows (XP/Vista/7). Jika kita masih merasa lebih nyaman menggunakan tampilan sama karakteristik OS Windows maka kita bisa menggunakan theme OS Windows pada OS Linux Mint, sehingga kita akan merasakan atmosfir OS Windows yang akan membuat kita tidak canggung lagi.
  5. Fitur yang dimiliki OS Linux Mint sudah selengkap dan secanggih OS Windows bahkan lebih. Sepertinya apapun fitur yang kita jumpai di OS Windows maka fitur sejenis juga akan kita jumpai di OS Ubuntu. Bahkan beberapa fitur justeru lebih baik daripada OS Windows.
  6. Dukungan terhadap hardware komputer sudah cukup bahkan sangat memadai. Jadi kalau punya LAptop jangan ragu buat install Linux Mint.
  7. Jika ada masalah atau yang ingin ditanyakan tentang OS Linux Mint maka kita bisa menemukan sejuta solusi atau jawaban di internet (website official/unofficial,forum,milis,web pribadi) atau bahkan pada komunitas-komunitas di dunia nyata.
  8. Karena gratis sehingga saya tidak perlu mengeluarkan dana terlalu banyak untuk aplikasi pada komputer saya. Meski bisa saja pakai bajakan, namun kelihatannya sudah tidak tren lagi menggunakan yang bajakan, apalagi sudah ada solusinya yaitu menggunakan OS Linux Mint jadi tidak ada istilah darurat lagi.
  9. OS Linux Mint memiliki aplikasi bernama WINE, yaitu sebuah aplikasi yang bisa menjalankan ?semua? aplikasi OS Windows, misal kita ingin menggunakan Ms Office, maka kita bisa menginstall MS Office kita menggunakan aplikasi WINE, aplikasi-aplikasi OS Windows lain juga bisa seperti : Dreamweaver, Firework, Winamp, dsb.

Cara Install Aplikasi di Linux

Sampai saat ini Instalasi software di Linux masih dianggap sesuatu yang sulit bagi user Windows pemula karena terlalu banyak dependency yang diperlukan untuk program aplikasi yang kita inginkan. Terkadang saling keterkaitan antar dependency membuat pengguna Linux sakit kepala hanya untuk masalah instalasi program aplikasi. Inilah istilah yang disebut Dependencies Hell.

Dependency adalah library external yang dipakai untuk menjalankan program. Sama seperti DLL (Dynamic Linking Library) di program aplikasi Windows. Tetapi tidak seperti aplikasi Windows yang mana setiap kita menginstalnya maka semua DLL yang diperlukan akan ikut diinstal sehingga duplikatnya memenuhi ruang harddisk. Di Linux, program aplikasi akan memeriksa apakah library yang diperlukan sudah ada? Jika belum maka kita akan diberitahu dependency apa saja yang diperlukan untuk menginstal dan menjalankan program yang dimaksud.

Linux Minth, Ubuntu dan distro linux lain dengan kernel modern masa sekarang umumnya sudah mempermudah pengguna dengan program Package Manager. Dengan Package Manager pengguna hanya tinggal mengklik atau mengetikkan nama program aplikasi apa yang akan diinstall maka aplikasi berikut dependency yang dibutuhkan akan ikut diinstall ke dalam komputer. Cukup mudah bukan? Di Ubuntu package Manager itu bernama APT (Advanced Packaging Tool) yang berbasis command line atau Synaptic Package Manager (Frontend GUI).

Synaptic Package Manager Instalasi melalui frontend GUI Synaptic sangat menyenangkan. Hanya dibutuhkan 3 langkah mudah: Search, Mark, Apply dan program aplikasi idaman akan segera dinstalasikan ke dalam komputer. Anda dapat mengaktifkan Synaptic di System-Administration-Synaptic Package Manager.

Pertama, search program aplikasi yang diinginkan. Kedua klik kanan program yang diinginkan dan pilih Mark for Installation. Ketiga klik Apply pada toolbar. Dan program aplikasi akan langsung diinstalasi berikut dependency-nya.

Selain cara di atas, ada juga cara yang lebih efisien, mudah dan cepat untuk update dan instalasi melalui command line. Buka terminal dan ketikkan perintah berikut.

* apt cache search
misalnya: apt cache search chess3d.
* sudo apt-get install
misalnya: sudo apt-get install chess3d.

Cara ini digunakan untuk distribusi turunan Debian seperti Ubuntu. Selain perintah di atas, terdapat perintah yang umum digunakan.

* apt-get autoclean
untuk menghapus file-file instalasi aplikasi lama.
* apt-get update
untuk update source list repository Ubuntu.
* apt-get remove
untuk menghapus program aplikasi yang diinginkan.
* apt-get remove –purge
untuk menghapus program aplikasi beserta konfigurasinya.nager.
* apt-get -help
untuk bantuan pemakaian Apt-get.

Jangan lupa untuk menyertakan Sudo di depan perintah Apt-Get untuk mendapatkan hak menjalankan perintah tersebut. Kemudian masukkan password Anda ketika diminta. Hal ini untuk mempraktekkan cara berkomputer yang aman.

Untuk aplikasi sudah di download untuk Linux Mint / Ubuntu selalu ber ekstense .deb, untukinstal file .deb di Linux ada beberapa cara. Yang pertama dingan double click/Open. Akan tetapi cara ini biasanya sering eror maka jika eror silahkan menggunakan cara yang lain.

Cara yang lain yaitu melalui terminal :

1. Buka Terminal
2. Letakkan file di folder Document
3. ketik : $ sudo dpkg -i namafile.deb
4. masukkan password root
5. tunggu loading/proses hingga selesai.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 24

0505covdcDi Indonesia ditengah dominannya monopoli Microsoft harus diakui telah mencengkeram ranah teknologi dan informasi (TI). Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tahun 1975 itu agaknya telah memberikan pengaruh dahsyat dan menggurita dalam penggunaan komputer di berbagai belahan dunia. Demikian kuat pengaruh Microsoft dalam dunia TI, sampai-sampai orang mengindentikkan komputer dengan windows.

Walau begitu bersyukur walaupun bersifat low profile dan tidak diketahui secara luas, ternyata beberapa perusahaan besar sedang/telah melakukan migrasi dari Platform Windows ke Linux dalam skala yang cukup besar.

Di sini saya mau sharing pengalaman saya Migrasi Windows ke Linux, dengan harapan curahan pengalaman ini dapat memberikan inspirasi atau gambaran bagi kita yang ingin melakukan penghematan biaya lisensi. Sudah saatnya manajemen melihat migrasi ke Linux ini sebagai hal yang logis, feasible, dan sudah sepantasnya dilakukan oleh manajemen yang care terhadap bisnisnya.

Di tempat saya bekerja semula memakai Windows dan MS Office, Program Client Server aplikasinya di tulis dengan Visual Basic yang tentunya berbasis Windows. Fakta dilapangan ditenggarai lebih dari 80% perangkat lunak yang beredar di masyarakat, termasuk yang digunakan di tempat saya bekerja itu, merupakan perangkat lunak ilegal. Yang dimaksud dengan perangkat lunak ilegal adalah perangkat lunak yang tidak berlisensi dari produsen, dalam hal ini produsen yang mendominasi dunia adalah Microsoft. Dengan kekuatan Microsoft, pada tahun 2012 seluruh perangkat lunak yang di gunakan di Indonesia harus memiliki lisensi resmi.

Jadi gak heran selama beberapa bulan terakhir ini Microsoft Indonesia dan rekannya BSA (Business Software Alliance) getol mengejar2 perusahaan di Indonesia untuk membayar lisensi atas penggunaan produk2nya. Lisensi paling murah dari MS Office basic yang hanya meliputi Word, Excel, dan Powerpoint adalah sekitar $150 dollar (atau Rp. 1,5 juta). Kalau misalkan sebuah perusahaan memiliki 100 PC, maka dia harus membayar sekitar Rp. 150 juta. Belum lagi lisensi OSnya seperti WinXP yang sekitar $140 dollar. Berarti total harga adalah sekitar Rp. 3 juta per PC, dikali 100 berarti Rp. 300 juta. Belum lagi lisensi servernya, CAL (client access license), dll. Itu belum termasuk biaya tambahan untuk upgrade ke versi terbaru. Pada akhirnya Manajemen pun mulai mempertimbangkan mengambil langkah tersebut karena ada kemungkinan tidak ada peningkatan kapasitas layanan dan dukungan sumber daya manusia, dan diperlukan biaya tambahan yang sangat mahal untuk aplikasi pendukung lainya (Adobe Photoshop, Corel DRAW, Anti Virus dan lain lain.

Adapun jika menggunakan Open Source Sotfware, biaya untuk Operating Sistem Linux dan Open Office Suite adalah Gratis, Cost yang paling banyak mungkin adalah pada Biaya Pelatihan dan Biaya Development Web Aplikasi untuk menggantikan Aplikasi Client Server Windows, yang tentunya tidak Sampai 300 juta lebih, beberapa perusahaan yang telah migrasi ke Linux, mengatakan bahwa perusahaan-perusahan tersebut telah menghemat sebagian biaya dalam jangka pendek, dan akan terus menghemat biaya dalam jangka panjang. Bahkan ada pula sebuah rumah sakit yang memperkirakan penghematan mencapai lebih dari 50 persen akibat memilih pemakaian Linux dan software open source lainnya daripada memilih sistem operasi dan aplikasi yang berbasis software bukan open source atau proprietary.

Dari situ terbukti bahwa pemakaian linux yang gratis lebih murah daripada biaya pembelian lisensi. Sekadar untuk gambaran, dapat dihitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk semua lisensi software proprietary yang sebenarnya dapat digantikan dengan seluruh isi DVD Distro Linux.

Kembali ke pokok masalah, jadi akhirnya perusahaan tempat saya bekerja pun mengambil kebijakan untuk segera dilakukan Migrasi dari Windows-MS Office-Aplikasi Client Server ke Linux-OpenOffice-Web Aplikasi. Namun tentu saja, migrasi ini tidak semudah yang kita bayangkan. Walaupun OpenSource itu Gratis tetap ada cost and benefit yang perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, strateginya adalah:

Pertama Kami melakukan analisa penggunaan PC dan aplikasinya secara detail atas seluruh PC yang ada. Disini kita mesti melakukan investigasi atas program2 apa saja yang selama ini digunakan. Mana PC yang hanya digunakan untuk fungsi2 administratif seperti mengetik, spreadsheet, bikin tabel. Mana PC yang dipakai untuk menjalankan program2 tertentu. Program2 apa saja itu, platform dan bahasa pemrograman apa yang digunakan, dll.

Dari analisa itu jadi ketahuan PC mana yang dapat dilakukan 100% migrasi, baik dari sisi OSnya, ataupun aplikasi officenya, PC mana yang dapat dilakukan 50% migrasi, apakah hanya officenya saja, PC mana yang karena kebutuhan, tidak dapat dilakukan migrasi sama sekali, alias 0%.

Berdasarkan 3 skenario di atas, kita buatkan juga analisa biayanya untuk kita persentasikan ke manajemen. Tentu alangkah baiknya bila seluruh PC dapat kita migrasi 100%, tapi dari pengalaman, hal ini sulit dicapai karena biasanya ada beberapa fungsi dari perusahaan yang sudah/sementara ini terlanjur terikat dengan produk Microsoft atau propietary lainnya.

Dengan menggunakan tahapan analisa diatas, didapatlah hasil sebagai berikut:

  1. Sekitar 40% PC yang ada, hanya digunakan untuk keperluan aplikasi office, yaitu word processor dan spreadsheet dimana Filenya sebagian di Share di Server.
  2. Sekitar 60% PC yang ada menjalankan program accounting, dan Kasir yang ditulis menggunakan VB yang dishare di server.

Baik, disini kita telah dapat mulai dapat fokus atas apa yang dapat kita migrasikan. Karena waktu yang mendesak, maka kita konsentrasi ke PC2 yang benar2 dapat dimigrasi.

Dari penjelasan di atas memang terbersit harapan bahwa kita dapat melakukan penghematan sampai beberapa ratus juta rupiah dari biaya lisensi. Hal ini tentu bukan jumlah yang kecil dan perusahaan dapat sedikit bernafas lega.

Namun begitu, berdasarkan pengalaman, masih ada beberapa analisa yang harus dilakukan demi keberhasilan proses migrasi ini, yaitu:

  1. Perlu diperiksa lagi sampai sejauh mana penggunaan feature2 yang spesifik milik MS Office yang digunakan oleh user di dalam dokumen officenya. Sebab walaupun OpenOffice telah dapat mengakomodasi sebagian besar fungsi dan feature dari MS Office, tetap saja tidak 100% compatible. Bila ternyata kita menemukan fungsi2 yang tidak berjalan di OpenOffice, maka kita mesti memikirkan solusinya, apakah memang tidak dapat dilakukan sama sekali di OpenOffice, ataukah OpenOffice telah dapat melakukannya namun mesti dari file yang murni native dalam format OpenOffice.
  2. Dan yang tentunya tidak kalah pentingnya adalah melakukan backup terlebih dahulu terhadap semua file yang akan dipakai. Sehingga ketika sewaktu2 ditemukan masalah, maka versi awalnya masih ada.
  3. Hal terakhir yang saya alami juga penting adalah, memberikan pengertian kepada user, mengapa migrasi ini dilakukan. Berikan penjelasan yang dapat diterima user, dan juga bimbinglah dan sertai user di dalam menggunakan program2 yang baru tersebut. Berikanlah perbandingan2 yang dapat dilihat langsung oleh user, misalnya untuk print di MS Office kita kan buka menu ini dan ini…, nah di OpenOffice kita bukanya menu ini dan ini…
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google

Catatan Kaki Teknologi Informasi