Apr 20

Open Source atau Linux selalu di identikkan dengan kata Gratis, sehinga Sering timbul pertanyaan bagaimana open source bisa dibisniskan, ini akibat dari salah kaprah dan kurang pahamnya tentang open source. Selain itu adalah karena di Indonesia pada umumnya adalah pengguna software Close Source (mis. Microsoft) bajakan baik itu Umum, Kampus atau Pemerintah, sehingga persepsi yang tumbuh adalah perangkat lunak tinggal install dan pakai, selesai. Jika ada masalah maka dibilang perangkat lunak tersebut tidak berkualitas. Perangkat lunak yang bagus adalah perangkat lunak yang bisa memenuhi semua kebutuhan dan tanpa kesalahan atau bisa dikatakan sempurna.

611867302f003c16b2305e07bb6eced4_immagine_opensourceKelebihan dari open source software adalah penyertaan source code sebuah program selain programnya itu sendiri. Efeknya adalah ketika ada kekurangan dari perangkat lunak yang dipakai, perangkat lunak tersebut bisa dimodifikasi tanpa perlu membangun ulang dari awal. Tentu saja ada syarat di sini bahwa pengguna tersebut bisa memodifikasi source code dan membangun ulang perangkat lunak tersebut, jika tidak tentu hal ini tidak berguna. Ada peluang di sini bagi pihak-pihak yang bisa memodifikasi perangkat lunak open source dengan membantu pihak-pihak yang tidak bisa memodifikasi sendiri open source software.

Apa itu Open Source?

Open Source Software (OSS). OSS atau kadang juga ditulis FOSS adalah program yang lisensinya memberi kebebasan kepada pengguna menjalankan program untuk apa saja, mempelajari dan memodifikasi program, dan mendistribusikan penggandaan program asli atau yang sudah dimodifikasi tanpa harus membayar royalti kepada pengembang sebelumnya.

Selama 20 tahun terakhir, perkembangan OSS secara signifikan telah merubah bagaimana perangkat lunak dikembangkan dan didistribusikan. Ini bisa dilihat dari perkiraan IDC (International Data Corporartion) tahun 1997 bahwa Linux telah menguasai 25% sistem operasi server dan memiliki pertumbuhan 25% per tahun. Pada 1999, perusahaan distributor GNU/Linux Red Hat berhasil go public atau IPO (Initial Public Offering) dengan meraup dana dari pasar saham senilai US$ 4,8 milyar (sekitar Rp 43 trilyun jika 1US$ = Rp 9.000,). Sukses lain IPO perusahaan FOSS saat itu adalah VA Linux (US$ 7 milyar atau Rp 63 trilyun), Cobalt Networks (US$ 3,1 milyar atau Rp 28 trilyun), dan Andover.net (US$ 712 juta atau Rp 6,4 trilyun).

Selain itu bahkan mulai banyak negara yang menerapkan kebijakan penggunaan FOSS secara luas di badan pemerintahan dan di masyarakat luas. Kalau kita cari di Google banyak artikel-artikel yang memberitakan semakin banyak negara yang menggunakan open source. Misalnya

1. Jepang yang mulai bermigrasi ke Open Source.
2. Korea Selatan yang mengikuti Jejak Jepang.
3. Venezuela dan Bolivia yang menjalankan linux di komputer-komputer lingkungan Pemerintahannya
4. Lebih dari setengah perusahaan-perusahaan di Jerman menggunakan Open Source.

Motivasi yang sering didengar kenapa memilih FOSS adalah untuk mengurangi/membrantas pembajakan software proprietary, tetapi sebenarnya masih ada beberapa faktor yang mendorong negara-negara tersebut memilih FOSS:

  1. Faktor Keamanan (Security), aspek keamanan telah mendorong banyak organisasi publik untuk bermigrasi, atau mempertimbangkan untuk migrasi, dari Windows ke solusi FOSS. Lembaga pajak dan kepabeaan Perancis migrasi ke Red Hat Linux secara besar-besaran karena alasan keamanan ini.
  2. Faktor Ketersediaan/Kestabilan (Reliability/Stability), Sistem FOSS sangat dikenal dengan kestabilan dan ketersediaannya (tidak mudah hang atau minta restart)
  3. Faktor Standar Terbuka dan Tidak Bergantung Vendor, Standar terbuka memberikan fleksibilitas dan kebebasan kepada pengguna, baik individu, perusahaan, atau pemerintahan. Pengguna dapat berganti paket software, berganti platform, atau vendor yang berbeda, tanpa menimbulkan masalah. Standar proprietary yang biasanya bersifat rahasia mengunci pengguna untuk menggunakan software hanya dari sebuah vendor. Alasan utama menentang implementasi proprietary software di sektor publik adalah ketergantungan terhadap vendor software tersebut.
  4. Faktor Pengurangan Ketergantungan terhadap Produk Impor, alasan utama yang mendorong negara negara berkembang untuk mengadopsi sistem FOSS adalah biaya lisensi yang sangat besar jika memilih perangkat lunak proprietary. Karena secara virtual perangkat lunak proprietary di negara berkembang adalah impor. Belanja perangkat lunak itu akan menghabiskan mata uang berharga dan cadangan devisa. Cadangan devisa ini lebih dapat digunakan untuk mensupport pengembangan FOSS yang lebih berorientasi jasa dan hanya dikeluarkan untuk bisnis dalam negeri, tidak harus menggunakan perusahaan multinasional. Ini berdampak positif terhadap masalah tenaga kerja, investasi dalam negeri, pemasukan dari pajak, dan lain-lain.
  5. Bahasa dan Budaya Local (Localization), Lokalisasi merupakan salah satu bidang yang membuat FOSS bersinar karena keterbukaannya. Pengguna dapat mengubah FOSS agar sesuai dengan kebutuhan budaya lokal, termasuk sesuai dengan skala ekonominya.

Malaysia vs Indonesia

70840e71404da21655ff66ad52da5930_opensource_02Perkembangan OSS di Asia Tenggara sebenarnya bisa kita lihat secara garis besar di Singapura, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Filipina dan Singapura yang terlebih dulu mempelopori pengembangan OSS di negaranya masing-masing. Filipina memiliki satu kota besar yang menjadi basis pengembangan teknologi atau dijuluki Silicon Valley yang terletak di Davao City. Di sinilah kota tempat tumbuh dan berkembang industri berbasis teknologi informasi. Di Davao City ini pula dulunya sempat menjadi kantor pusat regional dari perusahaan-perusahaan teknologi seperti Oracle, Unix, IBM, dan lain sebagainya. Di Filipina sendiri sudah terdapat sejumlah nama-nama distributor GNU/Linux lokal di mana salah satu di antaranya telah resmi menjadi sistem operasi untuk lingkungan pemerintahan. Sayangnya, tingkat adopsi OSS di lingkungan pemerintahan mereka sendiri terbilang lambat, sehingga Filipina masih termasuk ke dalam daftar negara-negara yang diawasi karena kasus penggunaan software ilegal.

Singapura nampaknya bukan merupakan surga bagi para pengembang OSS. Dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, kasus penggunaan software ilegal relatif minim. Singapura tidak masuk ke dalam daftar negara-negara yang diawasi. Tingkat adopsi OSS di lingkungan pemerintahan terbilang rendah, karena pemerintah Singapura tidak bermasalah dengan penggunaan software legal. Sekalipun demikian, pemerintah Singapura masih memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan OSS. Seperti halnya dengan Filipina, di Singapura telah terdapat sejumlah distributor lokal GNU/Linux, termasuk yang telah menjadi software resmi pemerintahan.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk paling besar di Asia Tenggara. Terdapat sekitar lebih dari 25 juta jumlah pengguna komputer yang telah tersambung dengan koneksi internet. Indonesia memiliki pangsa pasar yang cukup menjanjikan bagi masuknya piranti-piranti lunak di dunia. Sayangnya tingginya tingkat pemakaian software ilegal sehingga Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara-negara di Asia yang paling banyak menggunakan software bajakan.

Malaysia mungkin bisa menjadi model Negara yang sukses melakukan implementasi OSS sehingga berhasil mengurangi ketergantungan pada Vendor Software Asing. Tapi tidak halnya dengan Indonesia yang ternyata masih sangat bergantung pada vendor Software Asing.

Padahal pemerintah indonesia melalui Menristek sejak tahun 2004 telah mencanangkan program Indonesia Go Open Source (IGOS). Deklarasi IGOS ini ditandatangani oleh 4 menteri: Menristek, Mendiknas, Menkeham dan Menkominfo. Lebih jauh lagi OSS juga telah tercantum secara eksplisit dalam PERPRES no 7 th 2005, tentang RPJM 2004 -2009.

Dalam Perpres tersebut pada Bab 33 halaman 68 tertulis 7. Peningkatan penggunaan open source system ke seluruh institusi pemerintahan dan lapisan masyarakat. Dan yang terbaru pada IGOS SUMIT-2 tahun 2008, program IGOS telah didukung dan ditandatangani oleh 18 KeMenterian dan lembaga pemerintah non departemen (LPND). Dimana Pada prinsipnya, ditargetkan paling lambat tanggal 31 Desember 2011 seluruh kantor pemerintah, termasuk kepolisian RI dan pemerintahan daerah hingga ke tingkat kecamatan telah seluruhnya menggunakan OSS. Tetapi pada prakteknya sangat jauh dari yang diharapkan. Kekuatan hukumnya dirasakan masih terlalu lemah, karena tidak ada payung hukum yang memadai untuk menggerakkan kampanye IGOS di seluruh jajaran kantor pemerintahan di Indonesia.

Hingga Januari 2013 sebagai sampling acak saja terdapat 5 kecamatan di lingkungan Pemkot Yogyakarta yang masih menggunakan software Microsoft Windows dan Microsoft Office. Bahkan Kantor KPUD Jawa Barat begitu jelas diperlihatkan masih menggunakan OS Windows 7 dan Microsoft Office 2010. Ironisnya, ketika beberapa bulan lalu Kementrian Keuangan RI Menyampaikan presentasi dalam acara Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR RI justru begitu jelas memperlihatkan tampilan dengan latar belakang aplikasi Microsoft Office 2010. Ini tentu saja merupakan sebuah pemborosan biaya. Ironisnya pula, sejumlah besar perguruan tinggi dan sekolah di Indonesia masih belum memperlihatkan ketergantungannya dengan software ilegal. Tidak mengherankan apabila Indonesia masih masuk ke dalam daftar 5 negara besar yang dalam pengawasan penggunaan software ilegal.

Sedangkan Malaysia baru mulai mengkampanyekan Go Open Source di tahun 2008. Pemerintah Malaysia mencanangkan untuk mengadopsi Free Open Source Software (FOSS) di sektor publik (kantor pemerintahan) melalui kampanye Malaysian Public Sector Open Source Software Program. Langkah yang diambil oleh pemerintah Malaysia bertujuan untuk mengejar ketertinggalan implementasi dan adopsi teknologi sumber terbuka di Asia Tenggara. Di masa itu, Malaysia masih masuk ke dalam daftar negara-negara yang diawasi dari pemakaian software ilegal.

Alasan dan pertimbangan utama Malaysia beralih ke OSS berawal dari masalah efisiensi anggaran. Sebelum 2008 Pemerintah Malaysia dikabarkan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk tetap dapat menggunakan piranti lunak berbayar. Kemudian Malaysia juga masuk ke dalam daftar negara-negara yang diawasi (Watch List), maka akan sulit bagi sektor pemerintah maupun swasta mendapatkan kepercayaan dengan pihak internasional. Piranti lunak berbayar relatif dianggap membatasi ruang gerak di sektor publik. Sebagai contoh, tentu akan tidak relevan bagi kantor seperti tingkat kelurahan untuk membayar mahal paket Microsoft Windows dan Microsoft Office. Gerakan OSS ketika itu difokuskan pada aplikasi perkantoran yang mengimplementasikan secara luas format dokumen terbuka (open document format) di seluruh instansi pemerintahan dan pelayanan publik. Alhasil, belum sampai setahun, tepatnya pada tahun 2011, Malaysia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara, bahkan di level Asia yang memiliki tingkat adopsi format dokumen terbuka paling luas.

Ternyata Malaysia hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 tahun sampai akhirnya mencapai tingkat adopsi OSS (Open Source Software) sebesar 97%  Opensource.Org, Michael Tieman, Friday, 9 September 2010). Angka 97% merupakan persentase adopsi dari keseluruhan departemen dan keagenan pemerintah yang telah mengadopsi OSS. Cukup fantastis, mengingat waktu pencapaiannya yang relatif pendek. Target angka yang dikehendaki sebesar 100% untuk adopsi OSS memang belum tercapai, tetapi Malaysia barulah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mencapai adopsi OSS paling tinggi dan paling cepat.

Agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, pemerintah Malaysia mendorong kalangan masyarakat untuk turut berpartisipasi menjadi pengembang FOSS (free open source software). Lagi-lagi pemerintah Malaysia mempelopori dengan mengeluarkan distributor GNU/Linux (Government Official Edition) yang bernama Myrinix. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah Malaysia bahkan turut mendanai ataupun memberikan insentif bagi para pengembang distro Linux di dalam negerinya. Sebut saja nama seperti Otakux yang mendapatkan insentif tidak sedikit dari pemerintah Malaysia untuk mengembangkan distro berbasis Ubuntu. Komunitas-komunitasnya itu pun mendapatkan sponsor dari pemerintah Malaysia. Dukungan pemerintah tersebut diberikan untuk terus menggairahkan pengembangan OSS di negeri mereka.

Sementara di Indonesia , komunitas maupun pengembang distro GNU/Linux cenderung mengalami pasang dan surut. Beberapa di antaranya sudah tidak lagi memperlihatkan aktivitas pembaharuan atau telah tamat riwatnya. Jumlah pengembangnya dari pihak ketiga pun terbilang masih sangat minim. Ini tentu saja akan semakin menyulitkan distro GNU/Linux meraih popularitas dan dipercaya oleh kalangan pengguna OSS berbasis GNU/Linux. Minimnya dukungan nyata dari pemerintah pula menyebabkan sejumlah distro utama enggan melebarkan sayapnya di Indonesia.

Pemerintah Indonesia semestinya bisa belajar dari pengalaman Malaysia yang memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan OSS dan menjadi tuan rumah OSS di negeri mereka sendiri. Pemerintah Malaysia bahkan dikabarkan mendanai riset dan pengembangan, termasuk jasa konsultasi publik yang berkaitan dengan adopsi OSS di masyarakat. Sementara itu, pemerintah Indonesia mesti mengalokasikan anggaran sebesar Rp 40 miliar lebih hanya untuk membiayai ongkos penggunaan software-software legal. Ongkos yang sesungguhnya dibayarkan justru semakin besar, karena selain membayarkan devisa, pemerintah Indonesia pula mesti kehilangan kesempatan untuk mengefisienkan sumber daya dan sekaligus mengoptimalkan sumber daya di dalam negeri.

Model Bisnis Open Source

Dengan dasar surat edaran oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dengan nomor SE/01 /MPAN/3/2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS), jelas ada peluang bisnis yang akan terbuka luas yaitu jasa Migrasi OSS di instansi dan lembaga pemerintah. Karena banyaknya perangkat lunak bajakan yang beredar, yakni mencapai 80% dari jumlah perangkat lunak yang digunakan di Indonesia. Selain itu mulai diterapkan UU HAKI secara tegas yang membuat banyak perusahaan menengah ke bawah yang masih menggunakan perangkat lunak bajakan, mulai beralih ke OSS.

Bisnis Jasa Migrasi OSS jelas punya entry point di negara seperti Indonesia. Free dan bersifat open source tidak hanya menjadi modal utama dan pokok tetapi secara cepat telah menjadi subyek yang handal dalam perkembangan bisnis open software di masa depan.Terutama di negera-negara berkembang di mana akses internet masih/tetap dikatakan terbatas. Tutorial dan supporting adalah salah satu derivasi bisnis yang dapat dilakukan dengan banyak cara.

Di dalam bisnis open source usaha tidak harus dimulai dari minus atau nol bisa di mulai dari pengembangan produk yang sudah ada atau menciptakan produk local yang yang disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Dr. Reed United Nation University, percaya bahwa linux dan open source solution akan mempunyai pasar yang cukup besar di Negara negara berkembang, khususnya china, Asia, India, dan Amerika latin.

Dengan asumsi menjadi passive consumer dari pada menjadi active participant merupakan mimpi buruk bagi pembangunan kebangsaan, baca nationalism. Teknologi yang bersifat self determination merupakan kunci utama untuk menciptakan masyarakat yang maju di masa masa depan.

Dalam bahasa ekonomi yang mudah dicerna dalam menangkap key message dari open software adalah value added atau nilai tambah yang ada dalam software tersebut, bersifat embedded. Tugas adalah mengembangkan, dan mengembangkan seoptimal mungkin FOSS.

Nilai tambah atau value added yang ada pada setiap software maupun program merupakan potential power yang dapat diberdayagunakan secara optimal dengan tidak ada kekhawatiran sedikitpun dengan masalah pembajakan, karena semuanya bersifat open source. Kendala utama adalah ketidakmampuan dari kita untuk memahami dan membuka pikiran kita tentang betapa dasyat-nya bisnis open source yang dikelola secara professional dan transparan.

The role of play atau the role of the game merupakan kunci utama dalam pengembangan technology self determination yang berdasarkan philosophy open source. Apakah the rule of the game tersebut?, yaitu kesepakatan yang dapat diciptakan berdasarkan keterbukaan dan kejujuran. Sama dengan semangat open source yang telah didengung-dengungkan selama ini.

Indonesia merupakan pasar yang sangat cocok untuk perkembangan open source, baik secara model struktur perekonomian maupun masyarakatnya, dan karena tidak ada kendala lisensi serta minimnya faktor biaya, teknologi transfer open source sangat mudah dilakukan.

Pada akhirnya penggunaan FOSS untuk memenuhi kebutuhan perangkat lunak di berbagai bidang dengan sendirinya memberi citra pada bangsa ini sebagai bangsa yang mandiri dan bukan bangsa pembajak. Penggunaan dan pengembangan FOSS yang ditopang oleh political will pemerintah serta good will rakyatnya akan menjadi kekuatan besar dalam membangun industri nasional dan mampu menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan di bidang IT dan Bangkit menjadi bangsa yang mandiri di bidang TI.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Mar 22

271cd77d77f33d7c7564b119ed870f04_winrar3901Jika di diwindows biasanya bila kita membuka File Kompres bertipe Rar, cukup dengan menggunakan Winrar kita bisa membukanya. Tetapi di Linux kita bisa mengekstrak File tersebut dari Console dengan menggunakan Program Unrar.

Sebelumnya kita install dahulu unrar di console

sudo apt-get install unrar

Setelah unrar terinstall kita mulai bisa mengekstrak file rar dengan perintah

sudo unrar x [filename].rar

Unrar juga mendukung file rar multiple, artinya menyatukan file rar yang terpisah dalam ebberapa bagian file.

Misalkan saya kasih contoh saya

sudo unrar x tyod-part1.rar

Setelah mencoba beberapa kali, saya rasa cara ini lebih efektif dan efisien.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 11

shareDI lingkungan Windows, Server yang digunakan pastinya adalah Windows Server, Fungsi yang paling sering dipakai dalam jaringan Komputer adalah Sharing File di Server yang bisa di akses oleh Client. pada bagian pertama sudah saya jelaskan Ketika Migrasi dilakukan tentunya tidak semua langsung bisa diubah 100% menjadi Linux semua, karena biasanya ada beberapa fungsi dari perusahaan yang sudah/sementara ini terlanjur terikat dengan produk Microsoft atau propietary lainnya.

Jadi yang saya bahas disini bagaimana cara menjembatani Sharing File antara dua OS yang berbeda, Data ada di Windows , tapi mau di akses dengan linux, jawabannya adalah Samba.

Samba Server melakukan sharing data atau program aplikasi secara bersama sama oleh Client atau Server yang berbeda OS.

Untuk bisa agar Client Linux bisa mengakses Data di Windows terlebih dahulu kita menginstall package Samba yaitu

sudo apt-get install samba samba-common samba-common-bin samba-dbg samba-doc samba-doc-pdf

sudo apt-get install smbclient smbfs smbnetfs smb-nat libpam-smbpass

Setelah selesai semua package terinstall maka kita ke langkah selanjutnya, supaya lebih mudah di mengerti saya akan buat skenario Misalnya : Kita ingin membuat sharing folder morningreport yang ada di server windows 2003 ke komputer client linux dengan hostname it2.

Sisi Server

OS : Window Server 2003

Username : morningreport

password : morningreport

Folder Share : MorningReport,

Ip Server : 192.168.1.88

WorkGroup : rskbgroup

Sisi Client

OS Client : Linux Mint

Username : it2

Pada komputer client buka file fstab di /etc/fstab dengan menggunakan perintah nano

nano /etc/fstab

Lalu ketik script di bawah ini

//192.168.1.88/morningreport /home/it2/Desktop/morningreport smbfs username=morningreport, password=morningreport, workgroup=rskbgroup,rw,uid=it2,gid=it2

Jika berhasil maka akan ada Drive baru di Tampilan Desktop Komputer Client Linux yang kalau kita akses maka data sharing di Windows Server bisa terbuka.

Pada kasus kedua adalah jika kita ingin melakukan Sharing data antar sesama Desktop Linux atau antara Linux Server dengan Desktop Linux, tentunya bukan Samba lagi yang kita pakai, tetapi kita pakai NFS untuk melakukannya.

Pada prinsipnya NFS sama dengan Samba tetapi bedanya NFS hanya untuk PlatForm sesama Linux bukan jembatan antara Windows dengan Linux.

Supaya mudah dimengerti kembali saya akan skenario misalnya : Kita ingin melakukan sharing folder dari Linux Server ke lima komputer Linux Client.

Sisi Server

Folder Share : morningreport

IP Server : 192.168.1.5

Username : admin

Sisi Client

Ip Client : 192.168.1.11

Username : it

Ip Client : 192.168.1.12

Username : personalia

Ip Client : 192.168.1.13

Username : logistik

Ip Client : 192.168.1.14

Username : akunting

Ip Client : 192.168.1.15

Username : purchasing

Terlebih dahulu pada server kita install dahulu Package nfs-kernel-server, caranya kita ke console command line.

sudo apt-get install nfs-kernel-server

Lalu kita masukkan konfigurasi pada /etc/exports

sudo nano /etc/exports

Tambahkan konfigurasi Folder yang akan di sharing dan daftar Ip Client seperti ini

/home/admin/morningreport/ 192.168.1.11(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.12(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.13(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.14(rw,sync)
/home/admin/morningreport/ 192.168.1.15(rw,sync)

Setelah itu simpan konfigurasi tersebut, lalu restart service NFS dengan

sudo /etc/init.d/nfs-kernel-server restart

Sekarang kita melakukan konfigurasi pada sisi Client, misalnya kita dari komputer dengan IP 192.168.1.11 dengan user name it.

Install package NFS Client di command Line dengan perintah

sudo apt-get install portmap nfs-common

Lalu kita masukkan konfigurasi pada /etc/fstab

sudo nano /etc/fstab

Tambahkan konfigurasi Folder yang akan di mount dari Sharing Folder Server

192.168.1.5:/home/admin/morningreport /home/it/Desktop/morningreport nfs rw 0 0

Setelah itu simpan konfigurasi tersebut lalu restart Komputernya, maka pada Desktop akan muncul Icon Drive baru yang kalau kita klik akan masuk ke Folder Sharing di server.

Cara ini dilakukan juga pada 4 komputer berikutnya yaitu milik personalia, logistik, akunting dan purchasing.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 11

Migrasi Microsoft Office ke Open Office

Hampir semua pengguna Windows pasti telah biasa menggunakan MS Office, tetapi seiring dengan berubahnya OS Windows menjadi OS Linux maka berpindah juga aplikasi perkantoran dari Microsoft Office ke Open Office bawaan Linux. Mengingat fitur-fitur standar yang ada pada Microsoft Office sudah ada pada Open Office, meskipun ada beberapa perbedaan namun sebenarnya perbedaan tersebut dapat dipelajari.

Tetapi dalam kenyataan di lapangan pelaksanaan migrasi dari Microsoft Office ke Open Office ternyata lebih susah daripada migrasi system operasi itu sendiri (migrasi dari Windows ke Linux). Kendala pertama biasanya karena ketakutan user pertama kali ketika menggunakan Open Office. Takut data tidak terbaca/kacau, takut kesulitan, dan takut harus belajar lagi dari Nol, yang akan berefek pada tingkat produktivitas dan mendapat ?semprotan? dari atasan kalau lagi disuruh mengejar Dead Line mencetak laporan.

Kendala berikutnya harus dijelaskan kepada user ketika migrasi menggunakan Open Office pasti akan ada beberapa data dari Microsoft Office yang terlihat kacau sehingga mau tidak mau user harus melakukan editing ulang. Kekacauan tersebut terjadi karena;

Perbedaan jenis font, hal ini dapat diatasi dengan memasukkan font-font Microsoft Office ke system Linux, solusinya dengan menambahkan font windows pada system.
Cara menambahkan Font windows sebenarnya cukup dari command line

sudo apt-get install ttf-mscorefonts-installer
sudo apt-get install font-manager

Tabel dan gambar, penanganan gambar dan tabel pada Microsoft Office dan OpenOffice memang berbeda. Kemungkinan ketika membuka dokumen doc yang mengandung tabel dan gambar akan terlihat sedikit berantakan di Open Office. Tapi dengan meluangkan sedikit waktu, sebenarnya kita dapat memperbaiki dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format OpenOffice

Menu dan interface yang berbeda. Open Office dan Microsoft Office memiliki perbedaan mendasar pada peletakan menu-menunya. Bagi pengguna yang sudah sangat familiar dengan Ms.Office tentu akan merasa tidak nyaman dengan perubahan tersebut. Dalam hal ini sangat bergantung dengan kemauan (willingnes) dari pengguna untuk mempelajari dan beradaptasi dengan perubahan .

Untuk melihat dari dekat mungkin akan sangat sulit sekali karena pada dasarnya berbagai aplikasi ini sangat mirip satu sama lain. Jadi perbedaan yang ada kemungkinan akan sangat sedikit sekali, beberapa yang ada adalah,

Word Processor

Beberapa cuplikan fitur MSWord yang tidak di nikmati oleh Writer:

  • Grammer checker. Walaupun sebetulnya Writer mempunyai fasilitas plug-in dimana kita dapat memasukan LanguageTool, proyek open source indepeden lainya, sebagai grammer checker.
  • Word Marco. Writer tidak mendukung Word Marco, mungkin karena terlalu riskan karena ini merupakan sumber virus.
  • Animated Text. Word dapat membuat animasi text.

Fitur Writer yang tidak dinikmati oleh MSWord.

  • Membuat file PDF.
  • Kesederhanaan.
  • Membuat HTML untuk Web.
  • Writer Macro. Writer mempunyai Macro sendiri yang mempunyai struktur pohon.
  • Penggunaan Find-and-Replace.
  • Besar File. Besar file ODT yang dibuat menggunakan Writer biasanya lebih kecil daripada Word.

Spreadsheet

Fitur Excel yang tidak dinikmati Calc.

  • Hampir tidak ada. Memang ada laporan bahwa Calc kadang kala tidak berhasil membuat grafik yang persis sama dengan grafik yang dibuat oleh Excel.

Fitur Calc yang tidak dinikmati oleh Excel.

  • Membuat PDF.
  • Interface yang lebih sederhana.

E-Mail Client

Fitur Outlook yang tidak dinikmati oleh Thunderbird

  • Integrasi ke Calender.
  • Cek Spelling & Grammer.

Fitur Thunderbird yang tidak dinikmati oleh Outlook

  • Keyword search.
  • RSS Support.
  • Plain text mail.

Kalender

Fitur Outlook yang tidak dinikmati oleh Sunbird

  • Sharing Kalender. Memang agak rumit proses-nya karena harus mengkonfigurasi Microsoft Exchange.

Melihat sedemikian banyak keuntungan yang dapat di peroleh dari solusi open source yang tidak berbeda terlalu jauh dengan Microsoft. Sebetulnya saat ini mungkin akan jauh lebih baik menggunakan solusi open source daripada Microsoft Office yang harganya mendekati US$300-400.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 06

screenshot-2Driver Printer di Linux

Sekarang kita membahas soal bagaimana menginstall Printer di Linux Desktop, di Windows menginstall Driver Printer tergolong cukup mudah, karena tiap tiap printer punya File Executable untuk menginstall drivernya, tinggal ikuti Kotak Dialognya , Next lalu Next, selesai sudah, ini berbeda sekali jika kita menginstall di Driver Printer Linux.

Sebagai pemula saya sarankan membaca dahulu dokumentasi nya di website www.linuxprinting.org.

kita ambil kasus Printer yang kita HP Laserjet 1020 dan Printer Network HP Laserjet 1566 dengan IP 192.168.1.5, Printer tersebut di Linux menggunakan driver foo2zjs. Kita bisa lihat dokumentasinya di Website foo2zjs.rkkda.com, setelah kita sudah membaca dan memahami barulah kita mulai beraksi.

Pertama yang kita harus memastikan kalau Package Cups telah terinstall, untuk menginstall kita ketik di command line

sudo apt-get install cup cups cupsddk cups-bsd cups-client cups-dbg <enter>

Kemudian pastikan Package Database Printer milik Cups yaitu cups-driver-gutenprint terhapus, karena ini agar tidak bentrok dengan Database foo2zjs yang akan kita install,

sudo apt-get remove Cups-driver-gutenprint <enter>

Kedua kita mulai menginstall Package printer HP yang ternyata sudah ada juga di Package Manager Linux, Perintahnya adalah,

sudo apt-get install hpijs hpijs-ppds hplip hplip-cups hplip-data hplip-dbg hplip-doc <enter>

Sekarang kita beralih ke website foo2zjs.rkkda dan Download driver printer tersebut

wget -O foo2zjs.tar.gz http://foo2zjs.rkkda.com/foo2zjs.tar.gz <enter>

Lalu Ekstrak File Driver jika download telah selesai

tar zxf foo2zjs.tar.gz <enter>

masuk ke direktori file tersebut

cd foo2zjs <enter>

Kemudian Kompile Driver tersebut dan ikuti instruksi di bawah ini

make

Langkah selanjutnya kita ekstrak file .ICM profiles untuk koreksi warna dan firmware. Pilih nomror model untuk printer yang kita mau install

./getweb 1020 # Get HP LaserJet 1020 firmware file

Selanjutnya Install driver, foomatic XML files, dan extra files:

sudo make install
make install

konfigure port USB karena Hp 1020 pastinya pakai kabel USB.

sudo make install-hotplug <enter>
sudo make cups <enter>

Jika tidak ada pesan kesalahan maka berarti driver Printer telah terinstall, apakah sudah selesai? masih ada step berikut nya yaitu ketik

system-config-printer

Akan muncul jendela GUI Printers. Printernya di-nyalain aja pada langkah ini.
atur setting dengan “new printer’ atau “add printer”. ikuti saja step by step dengan klik ‘forward”.
Di step 2 jelas terlihat data printer :
Manufacurer : Hp
Model : Laserjet 1020
Driver : foo2zjs (seperti yang mas tarmin bilang 1020 menggunakan foo2zjs)
Klik aja “forward”
Masuk ke step 3 klik aja “apply”. setelah itu jendela add printer akan tertutup. dan ada ikon printer di Laserjet-1020 di jendela GUI Printer. Klik kanan ikon itu trus pilih propertis. klik “print a test page”. Jika semua langkah langkah di atas sudah benar pastinya akan berhasil. Selamat mencoba

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 06

AdobeAdobe Reader, dan Adobe Flash

Selain MS Office yang merupakan Aplikasi Standar adalagi aplikasi Adobe yang sering digunakan oleh User Windows yaitu Adobe reader, Adobe Flash dan Adobe AIR, saya akan jelaskan satu persatu

Acrobat Reader adalah salah satu perangkat lunak dari keluarga Adobe Acrobat yang dikembangkan oleh Adobe Systems. Acrobat Reader sekarang bernama Adobe Reader. Pengguna Acrobat Reader dapat membaca, memberi notasi, mencari, verifikasi, menandai secara digital dan mencetak data dengan format Portable Document Format atau PDF.Acrobat Reader didesain dengan layout menyerupai kertas konvensional. Adobe Reader telah hadir lebih dari satu dekade dan merupakan aplikasi pembaca data PDF pertama sehingga mudah digunakan.

Adobe Flash (dahulu bernama Macromedia Flash) adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan produk unggulan Adobe Systems. Adobe Flash digunakan untuk membuat gambar vektor maupun animasi gambar tersebut. Berkas yang dihasilkan dari perangkat lunak ini mempunyai file extension .swf dan dapat diputar di penjelajah web yang telah dipasangi Adobe Flash Player. Flash menggunakan bahasa pemrograman bernama ActionScript yang muncul pertama kalinya pada Flash 5.

Sebelum tahun 2005, Flash dirilis oleh Macromedia. Flash 1.0 diluncurkan pada tahun 1996 setelah Macromedia membeli program animasi vektor bernama FutureSplash. Versi terakhir yang diluncurkan di pasaran dengan menggunakan nama Macromedia adalah adalah Macromedia Flash 8. Pada tanggal 3 Desember 2005 Adobe Systems mengakuisisi Macromedia dan seluruh produknya, sehingga nama Macromedia Flash berubah menjadi Adobe Flash.Adobe Flash merupakan sebuah program aplikasi pembuat animasi yang popular untuk saat ini, dimana semua pekerjaan yang berhubungan dengan animasi 2D bahkan 3D pada Flash versi terbaru saat ini, dapat dilakukan dengan mudah melalui program aplikasi ini.

Sedangkan Adobe AIR sendiri adalah singkatan dari Adobe Integration Runtime. Software ini memungkinkan kita untuk membuat aplikasi (yang udah jadi dan siap publish) jadi berbasis web ataupun desktop (pilihan ditangan kita). Aplikasi desktop dari AIR bisa kita buat terhubung dengan internet. Contoh sederhana misalnya ada aplikasi kamus yang diinstall didesktop, tapi bisa ngambil contoh penggunaan kalimatnya dari internet atau sebuah mp3 player (desktop juga) yang bisa nyari lirik lagu secara online.

Untuk menginstall di Linux ternyata cukup mudah cukup ketik saja di command line

sudo apt-get install adobe-flashplugin adobeair adobereader-enu <enter>

maka ketiga aplikasi tersebut sudah terpasang..

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 31

Tentang Wine,

wineYang tersulit dalam proses Migrasi adalah Migrasi Aplikasi ketimbang OS. tetapi berkat Wine, jika ada user yang ingin tetap memakai Aplikasi Windows di Linux maka adalah adalah sebuah program di Linux Mint/Ubuntu yang memungkinkan Anda untuk menjalankan program-program yang berbasis Windows (memiliki extensi .exe atau .msi).

Untuk menginstall Wine terlebih dahulu kita tambahkan repository PPA Wine melalui Terminal. Ini sangat berguna terutama untuk Kubuntu, Xubuntu dan distro turunan Ubuntu lainnya yang tidak memiliki Ubuntu Software Center. Langkah-langkahnya adalah seperti ini:

sudo add-apt-repository ppa:ubuntu-wine/ppa
sudo apt-get update
sudo apt-get install wine1.3

Untuk menginstall program Windows di Ubuntu menggunakan Wine cukup dengan double-klik pada installer nya (.exe atau .msi), selanjutnya menu instalasi akan muncul seperti biasanya. Kalau menu instalasi tidak muncul, coba install dari Terminal.

Copy dulu program yang ingin Anda install ke Desktop, kemudian buka Terminal dan jalankan perintah berikut:

cd ~/Desktop
wine nama_program.exe

Kalau installernya memiliki ekstensi .msi maka:

cd ~/Desktop
wine start nama_program.msi

Menurut pengalaman tidak semua program Windows yang diinstall dengan Wine bisa berjalan mulus dan lancar seperti layaknya di Windows. Beberapa aplikasi membutuhkan trik untuk membuatnya berjalan lancar.

Wine sudah dilengkapi dengan uninstaller yang berguna untuk menghapus program yang diinstall melalui Wine, mirip dengan fitur Add/Remove Programs pada Windows.

Jalankan perintah berikut ini pada Terminal:

wine uninstaller

Saat menu uninstaller sudah muncul, pilihlah aplikasi apa yang ingin Anda hapus.

Menghapus Wine dari Ubuntu

Jika Anda ingin menghapus Wine beserta program-program Windows yang telah terinstal, ikuti langkah berikut ini:

Hapus dulu Wine dari Ubuntu:

sudo apt-get remove wine1.3

Kemudian hapus folder instalasi dari Wine:

rm -rf $HOME/.wine
rm -f $HOME/.config/menus/applications-merged/wine*
rm -rf $HOME/.local/share/applications/wine
rm -f $HOME/.local/share/desktop-directories/wine*
rm -f $HOME/.local/share/icons/????_*.xpm
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 24

0505covdcDi Indonesia ditengah dominannya monopoli Microsoft harus diakui telah mencengkeram ranah teknologi dan informasi (TI). Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tahun 1975 itu agaknya telah memberikan pengaruh dahsyat dan menggurita dalam penggunaan komputer di berbagai belahan dunia. Demikian kuat pengaruh Microsoft dalam dunia TI, sampai-sampai orang mengindentikkan komputer dengan windows.

Walau begitu bersyukur walaupun bersifat low profile dan tidak diketahui secara luas, ternyata beberapa perusahaan besar sedang/telah melakukan migrasi dari Platform Windows ke Linux dalam skala yang cukup besar.

Di sini saya mau sharing pengalaman saya Migrasi Windows ke Linux, dengan harapan curahan pengalaman ini dapat memberikan inspirasi atau gambaran bagi kita yang ingin melakukan penghematan biaya lisensi. Sudah saatnya manajemen melihat migrasi ke Linux ini sebagai hal yang logis, feasible, dan sudah sepantasnya dilakukan oleh manajemen yang care terhadap bisnisnya.

Di tempat saya bekerja semula memakai Windows dan MS Office, Program Client Server aplikasinya di tulis dengan Visual Basic yang tentunya berbasis Windows. Fakta dilapangan ditenggarai lebih dari 80% perangkat lunak yang beredar di masyarakat, termasuk yang digunakan di tempat saya bekerja itu, merupakan perangkat lunak ilegal. Yang dimaksud dengan perangkat lunak ilegal adalah perangkat lunak yang tidak berlisensi dari produsen, dalam hal ini produsen yang mendominasi dunia adalah Microsoft. Dengan kekuatan Microsoft, pada tahun 2012 seluruh perangkat lunak yang di gunakan di Indonesia harus memiliki lisensi resmi.

Jadi gak heran selama beberapa bulan terakhir ini Microsoft Indonesia dan rekannya BSA (Business Software Alliance) getol mengejar2 perusahaan di Indonesia untuk membayar lisensi atas penggunaan produk2nya. Lisensi paling murah dari MS Office basic yang hanya meliputi Word, Excel, dan Powerpoint adalah sekitar $150 dollar (atau Rp. 1,5 juta). Kalau misalkan sebuah perusahaan memiliki 100 PC, maka dia harus membayar sekitar Rp. 150 juta. Belum lagi lisensi OSnya seperti WinXP yang sekitar $140 dollar. Berarti total harga adalah sekitar Rp. 3 juta per PC, dikali 100 berarti Rp. 300 juta. Belum lagi lisensi servernya, CAL (client access license), dll. Itu belum termasuk biaya tambahan untuk upgrade ke versi terbaru. Pada akhirnya Manajemen pun mulai mempertimbangkan mengambil langkah tersebut karena ada kemungkinan tidak ada peningkatan kapasitas layanan dan dukungan sumber daya manusia, dan diperlukan biaya tambahan yang sangat mahal untuk aplikasi pendukung lainya (Adobe Photoshop, Corel DRAW, Anti Virus dan lain lain.

Adapun jika menggunakan Open Source Sotfware, biaya untuk Operating Sistem Linux dan Open Office Suite adalah Gratis, Cost yang paling banyak mungkin adalah pada Biaya Pelatihan dan Biaya Development Web Aplikasi untuk menggantikan Aplikasi Client Server Windows, yang tentunya tidak Sampai 300 juta lebih, beberapa perusahaan yang telah migrasi ke Linux, mengatakan bahwa perusahaan-perusahan tersebut telah menghemat sebagian biaya dalam jangka pendek, dan akan terus menghemat biaya dalam jangka panjang. Bahkan ada pula sebuah rumah sakit yang memperkirakan penghematan mencapai lebih dari 50 persen akibat memilih pemakaian Linux dan software open source lainnya daripada memilih sistem operasi dan aplikasi yang berbasis software bukan open source atau proprietary.

Dari situ terbukti bahwa pemakaian linux yang gratis lebih murah daripada biaya pembelian lisensi. Sekadar untuk gambaran, dapat dihitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk semua lisensi software proprietary yang sebenarnya dapat digantikan dengan seluruh isi DVD Distro Linux.

Kembali ke pokok masalah, jadi akhirnya perusahaan tempat saya bekerja pun mengambil kebijakan untuk segera dilakukan Migrasi dari Windows-MS Office-Aplikasi Client Server ke Linux-OpenOffice-Web Aplikasi. Namun tentu saja, migrasi ini tidak semudah yang kita bayangkan. Walaupun OpenSource itu Gratis tetap ada cost and benefit yang perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, strateginya adalah:

Pertama Kami melakukan analisa penggunaan PC dan aplikasinya secara detail atas seluruh PC yang ada. Disini kita mesti melakukan investigasi atas program2 apa saja yang selama ini digunakan. Mana PC yang hanya digunakan untuk fungsi2 administratif seperti mengetik, spreadsheet, bikin tabel. Mana PC yang dipakai untuk menjalankan program2 tertentu. Program2 apa saja itu, platform dan bahasa pemrograman apa yang digunakan, dll.

Dari analisa itu jadi ketahuan PC mana yang dapat dilakukan 100% migrasi, baik dari sisi OSnya, ataupun aplikasi officenya, PC mana yang dapat dilakukan 50% migrasi, apakah hanya officenya saja, PC mana yang karena kebutuhan, tidak dapat dilakukan migrasi sama sekali, alias 0%.

Berdasarkan 3 skenario di atas, kita buatkan juga analisa biayanya untuk kita persentasikan ke manajemen. Tentu alangkah baiknya bila seluruh PC dapat kita migrasi 100%, tapi dari pengalaman, hal ini sulit dicapai karena biasanya ada beberapa fungsi dari perusahaan yang sudah/sementara ini terlanjur terikat dengan produk Microsoft atau propietary lainnya.

Dengan menggunakan tahapan analisa diatas, didapatlah hasil sebagai berikut:

  1. Sekitar 40% PC yang ada, hanya digunakan untuk keperluan aplikasi office, yaitu word processor dan spreadsheet dimana Filenya sebagian di Share di Server.
  2. Sekitar 60% PC yang ada menjalankan program accounting, dan Kasir yang ditulis menggunakan VB yang dishare di server.

Baik, disini kita telah dapat mulai dapat fokus atas apa yang dapat kita migrasikan. Karena waktu yang mendesak, maka kita konsentrasi ke PC2 yang benar2 dapat dimigrasi.

Dari penjelasan di atas memang terbersit harapan bahwa kita dapat melakukan penghematan sampai beberapa ratus juta rupiah dari biaya lisensi. Hal ini tentu bukan jumlah yang kecil dan perusahaan dapat sedikit bernafas lega.

Namun begitu, berdasarkan pengalaman, masih ada beberapa analisa yang harus dilakukan demi keberhasilan proses migrasi ini, yaitu:

  1. Perlu diperiksa lagi sampai sejauh mana penggunaan feature2 yang spesifik milik MS Office yang digunakan oleh user di dalam dokumen officenya. Sebab walaupun OpenOffice telah dapat mengakomodasi sebagian besar fungsi dan feature dari MS Office, tetap saja tidak 100% compatible. Bila ternyata kita menemukan fungsi2 yang tidak berjalan di OpenOffice, maka kita mesti memikirkan solusinya, apakah memang tidak dapat dilakukan sama sekali di OpenOffice, ataukah OpenOffice telah dapat melakukannya namun mesti dari file yang murni native dalam format OpenOffice.
  2. Dan yang tentunya tidak kalah pentingnya adalah melakukan backup terlebih dahulu terhadap semua file yang akan dipakai. Sehingga ketika sewaktu2 ditemukan masalah, maka versi awalnya masih ada.
  3. Hal terakhir yang saya alami juga penting adalah, memberikan pengertian kepada user, mengapa migrasi ini dilakukan. Berikan penjelasan yang dapat diterima user, dan juga bimbinglah dan sertai user di dalam menggunakan program2 yang baru tersebut. Berikanlah perbandingan2 yang dapat dilihat langsung oleh user, misalnya untuk print di MS Office kita kan buka menu ini dan ini…, nah di OpenOffice kita bukanya menu ini dan ini…
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google

Catatan Kaki Teknologi Informasi