Revolusi 2.0 = Revolusi Tunisia dan Mesir, Model Revolusi lewat Facebook, Twitter dan YouTube
Di tahun 1979 di iran, terjadi Revolusi dimana Pemerintahan Shah Iran di tumbangkan oleh Ayatullah Khomenei, dengan dukungan rakyatnya, Shah Iran pun lengser dan Iran pun berganti menjadi Negara Republik Islam Syiah. Pengaruh Revolusi Iran ini pun merebak ke negara negara bermayoritas Islam tetapi hanya berhenti menjadi Inspirasi revolusi baru saat itu.
Kemudian Di Indonesia sebagai negara Muslim Terbesar di Dunia Tahun 1998 terjadi Gelombang unjuk rasa mahasiswa yang akhirnya berhasil menumbangkan kekuasaan Suharto selama 32 tahun, dan akhirnya Indonesia pun bertransisi dari negara Otokrasi menjadi negara Demokratis. Dampak dari model demokrasi di Indonesia ke Timur Tengah sebagai sesama negara Islam ternyata tidak mau di tiru oleh negara negara ISlam Timur Tengah dan tetap mempertahankan sistem Otokrasinya.
Kisah Revolusi Iran 1979 dan Indonesia 1998 adalah kisah model revolusi 1.0. Dimana untuk menumbangkan penguasa, orang perlu berkumpul di satu tempat. Mereka berunjuk rasa bersama-sama meniru demo ala Mahasiswa di DPR atau Tragedi Tiananmen. Lalu menggabungkan energi kemarahan sehingga menghasilkan tuntutan yang meledak-ledak.
Tapi sejak kemajuan Internet di era Web 2.0, orang tak perlu berkerumun di satu tempat untuk menggerakkan people power. Sejak meluasnya Pemakaian Facebook dan Twitter kini orang bisa menyuarakan pendapatnya dengan lantang . Facebook dan Twitter jauh merasuk ke relung-relung kantor, kampus, juga tempat-tempat nongkrong. Cukup teriakkan kepedihan bersama di Facebook, maka “Teman teman” akan mendukungnya spontan.
Lihat saja Revolusi Tunisia dan Revolusi Mesir. Hanya dalam hitungan hari, para pengunjuk rasa sudah terkumpul kerumunan yang terdiri atas lebih dari jutaan pendukung. Bermula dari peristiwa seorang tukang sayur berusia 26 tahun, Mohamed Bouazizi, melakukan aksi bakar diri karena barang dagangannya disita polisi di kota Sidi Bouzid pada 17 Desember 2010. Berita ini menyebar lewat Facebook dan Twitter dengan cepatnya dan menyulut kemarahan Rakyat. Akhirnya Revolusi Jasmine pecah 14 Januari 2011. Momen itu berhasil menggulingkan Presiden Zine al-Abidien Ben Ali yang lalim. Ben Ali menjadi orang Nomor 1 di Tunisia selama 23 tahun.
Gelombang Revolusi Tunisia itu akhirnya menyentuh Mesir. Rakyat Mesir yang saat itu merasakan suburnya korupsi membuat tingkat kesejahtaraan rakyat yang berada di luar lingkar kekuasaan sangat rendah, sehingga angka pengangguran dan kemiskinan sangat tinggi, berita dari Tunisia mendorong Mereka menuntut perubahan dengan tuntutan mundurnya Presiden Mesir Hosni Mubarak. Ribuan demonstran terus menggelar unjuk rasa dan mengabaikan kebijakan jam malam. Gelombang unjuk rasa menuntut perubahan politik di Mesir sejauh ini telah mengakibatkan ratusan orang tewas. Presiden Mubarak yang sudah bercokol 30 tahun, walau berusaha menolak mundur dari kekuasaan, dan merombak kabinetnya habis-habisan, tetap saja akhirnya berhasil diturunkan paksa dari kursi Presiden.
Kini akibat pengaruh Revolusi Tunisia dan Mesir bagai gelombang Tsunami reformasi itu menjalar ke semenanjung Arab lainnya Sudan, Yaman , Bahrain dan Libya.
Di Yaman Ribuan demonstran memenuhi jalanan Sanaa, Ibu Kota Yaman. Serupa di Tunisia dan Mesir, rakyat Yaman menghendaki perubahan total dalam pemerintah. Mereka menyatakan mosi tidak percaya pada rezim yang berkuasa saat ini. Warga Yaman kecewa. Pemerintah tak mampu memenuhi kesejahteraan rakyat. Selama lebih 30 tahun Yaman dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh. Itu dimulai saat Yaman masih menjadi Republik Yaman Utara.
DI Libya ratusan demonstran turun ke jalan berdemonstrasi menentang rezim pemerintah Muammar Khadafi yang telah berkuasa selama 42 tahun di Libya. Hal ini memaksa pemerintah Libya tidak membolehkan wartawan asing masuk ke negara itu. Saluran internet berulang kali diputus oleh pemerintah, yang menyensor informasi terkait peristiwa di Libya dan seruan demonstrasi yang dipublikasikan lewat facebook atau portal internet lainnya.
DI Bahrain berita Revolusi Tunisia dan Mesir mendorong Warga Bahrain meminta tampuk pimpinan pemerintahan yang didominasi Islam aliran Sunni diserahkan kepada kaum Syiah. Alasannya, 70 persen warga Bahrain merupakan umat Syiah.
Ada kesamaan dari semua Gerakan Unjuk Rasa di Timur Tengah ini, yaitu mereka semua menggunakan media Internet seperti Facebook, Twitter, Google, YouTube dan Media Sosial lainnya di Internet. Dalam gerakan ini, tak ada yang disebut superinfluential people, seperti teori Malcolm Gladwell dalam bukunya, The Tipping Point. Dulu setiap perubahan selalu membutuhkan orang berpengaruh. Polandia butuh Lech Walesa. Filifina Butuh Qory Aquino dan Kardinal Sin, Iran Butuh Ayatullah Khomenei, Gerakan reformasi 1998 di Indonesia butuh orang-orang seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Sri Sultan Hamengku Buwono, juga para orator mahasiswa.
Revolusi Model Timur Tengah sekarang ini tidak membutuhkan superinfluential people. Mereka tak butuh koordinator lapangan atau orang-orang yang mencari donasi untuk membeli nasi bungkus. Saat orang merasakan kepedihan yang sama, orang pun berkerumun di Facebook dan Twitter serta situs jejaring sosial lainnya. Tak peduli siapa yang meneriakkannya. Siapa yang kenal dengan Mohamed Bouazizi si Tukang Sayur di Tunisia? Mungkin 99 persen pendukung gerakan ini dipastikan tak mengenalnya.
Dulu betapa repotnya mengumpulkan sejuta orang. Kini bisa terkumpul dengan beberapa klik komputer. Inilah Revolusi 2.0. Yaitu Revolusi Model Tunisia dan Mesir. Mungkin sekarang ini para pemimpin Sudan, Bahrain, Libya, Yaman, Arab Saudi dan Iran akan bilang, Ah, itu kan cuma di Facebook atau Ah, itu kan bukan gerakan kaum elite, bukan gerakan rakyat. Tapi keadaan bisa berbalik. Perubahan memang selalu dipelopori dari kalangan kelas menengah, baru kemudian menetes ke masyarakat kelas bawah atau atas. Sekarang sudah terbukti, gerakan lewat Jejaring Sosial dan MicroBlog di Internet bisa menjatuh dua Rezim yang sudah lama berkuasa.
Dalam Teori Revolusi bahwa bila pemerintah tidak bisa memberi keadilan, rakyat akan mencari keadilan sendiri dengan penuh amarah, unjuk rasa akan terus bergulir, membesar bak bola salju, dan akhirnya Revolusi.





