Apr 05

\"\"Berkemeja Biru dan berjas putih, tampak asyik berdiskusi dengan John Battele, seorang pengamat Terkenal di bidang Search Engine Internet, dalam sebuah acara Web 2.0 Summit 2010. Dia jelas bukan orang amerika, tetapi dari asia, atau tepatnya Cina, yaitu Robin Li, Pendiri Baidu,com, Baidu baru-baru ini menempati peringkat pertama sebagai situs yang paling banyak dikunjungi di China dan satu dari sepuluh laman paling sering dikunjungi di dunia. Karena itulah tidak heran kalau Robin menjadi orang terkaya kedua di China versi Forbes. Kekayaannya mencapai US$ 7,2 miliar.

Kita FlashBack, siapa seh Robin Li ini ?, Keluarga Robin Li bisa dibilang bukanlah dari keluarga berada, tetapi hanya keluarga buruh pabrik di daerah Yangquan, Shanxi, China, Robin lahir pada 17 November 1968. Di daerah itulah Robin menghabiskan sebagian besar masa kecilnya.

Meski Robin merupakan anak keempat dari lima bersaudara, sebagai satu-satunya anak laki-laki, ia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Apalagi, saat masih kecil, ada satu pesan yang cukup membekas dari ibunya yaitu Ibunya bilang \”Keluarga kita bukanlah keluarga kaya, karena itu kalau kamu ingin memiliki pekerjaan yang bagus kamu harus belajar keras dan sekolah sampai ke perguruan tinggi!

Pesan ibu inilah yang melecut semangat Robin kecil untuk selalu rajin belajar. Meski keluarganya tak kaya, namun usaha belajar Robin Li tidak sia sia dan berhasil masuk ke sekolah menengah atas (SMA) favorit di daerahnya, Yangquan First High School dengan meraih nilai tertinggi ke-2 saat ujian masuk.

Di sekolah ini, Robin pun mulai berkenalan dengan pelajaran komputer dan bahkan beberapa kali berpartisipasi pada perlombaan pemrograman tingkat kota.

Pada 1987, ia mengikuti ujian perguruan tinggi tingkat nasional. Robin berhasil meraih nilai tertinggi dibandingkan peserta lain di Yangquan. Dia lantas memilih Universitas Peking di jurusan Manajemen Informasi.

Di China, seperti halnya Korea Selatan dan Jepang, masa depan seseorang ditentukan dari universitasnya. Karena perusahaan-perusahaan hanya mau memperkerjakan lulusan dari perguruan tinggi ternama.

Di Universitas Peking, Robin menghabiskan waktu selama empat tahun dan lulus pada 1991. Tetapi, berbarengan tahun lulusnya Robin, pecahlah tragedi berdarah di Tianmen. Situasi politik dan ekonomi di China pun memburuk sehingga dia gagal memperoleh pekerjaan.

Akhirnya Robin pun bertahan hidup dengan hanya bekerja secara serabutan sambil menunggu lamaran sekolah ke sebuah universitas di Amerika Serikat (AS). \”Saya memang mendambakan bisa melanjutkan sekolah ke AS, karena situasi di China saat itu kurang baik,\” ujarnya. Ia mengajukan berpuluh-puluh lamaran ke bermacam universitas dengan harapan bisa diterima.

Akhirnya, di pengujung tahun 1991, sebuah panggilan datang dari State University of New York. Awalnya, ia ingin langsung meraih gelar doktoral. Namun, Robin membatalkannya niatnya dengan hanya mengambil master dan meraihnya pada 1994.

Robin kemudian mendapatkan pekerjaan di IDD yang merupakan bagian dari Dow Jones. Di sini, ia memperoleh pencerahan. Ternyata, pentingnya informasi bisa diperingkat berdasarkan berapa banyak informasi itu dikutip, atau dalam kasus situs dari berapa banyak situs yang terhubung dengan informasi itu.

Lantas, pada 1996, Robin menciptakan algoritma untuk menilai suatu situs buat Dow Jones yang diberi nama Rank Dex. Untuk temuannya ini, Robin memperoleh hak paten.

Di saat yang sama, dua mahasiswa program doktoral Stanford, Larry Page dan Sergey Brin bereksperimen dengan algoritma yang mirip. Mereka menamakannya BackRub yang merupakan cikal bakal Google.

Disini Robin mempunyai karier yang bagus sebagai senior consultant di IDD, tetapi pada Juli 1997, ia malah loncat ke Infoseek, yang merupakan salah satu pemain awal di bisnis mesin pencari, ini mungkin berkaitan dengan minatnya pada bidang Search engine dan Penemuannya Rank dex. Tetapi, ternyata Disney sebagai pemilik Infoseek kurang memiliki komitmen untuk mendukung pengembangannya, sehingga menyebabkan Robin menjadi frustasi dan kecewa.

Di tengah rasa frustasinya itu, pada 1998, Robin memutuskan melakukan perjalanan ke Silicon Valley untuk menyelesaikan bukunya yang berjudul Silicon Valley Business War.

Dari penelusuran itu, timbul keinginan Robin untuk membangun website search engine sendiri. Bersama temannya Eric Xu yang seorang ahli biokimia, Robin mulai mencari modal dan berhasil mendapatkan modal sebanyak US$ 1,2 juta dari perusahaan patungan asal Amerika Serikat, Integrity Partners dan Peninsula Capital. Perusahaan lain, Draper Fisher Jurvetson dan IDG Technology menyuntikkan dana US$ 10 juta setahun kemudian. Seperti yang dialami Google, Ketika awal beroperasi, banyak pihak meragukan Baidu karena situs pencari ini harus bersaing dengan Yahoo! dan Google yang lebih dulu eksis di China.

\"\"Dalam pengakuannya Robin Li bilang bahwa ada tiga hal yang mendorongnya mendirikan Baidu. Pertama, dorongan istrinya Melissa untuk mendirikan usaha sendiri. Sang istri mengatakan, bahwa dia ingin suaminya menjadi pendiri perusahaan internet.

Peristiwa ini terjadi di Universitas Stanford pada 1999 ketika Robin dan Melissa menonton film dokumenter yang memuat wawancara dengan Jerry Yang, pendiri Yahoo!. Setelah itu, Robin memutuskan untuk membangun mesin pencari internet untuk China.

Kedua, perubahan arah bisnis Infoseek tempat Robin bekerja. Perusahaan milik Disney ini mengubah haluan bisnisnya dari mesin pencari ke penyedia konten. Alhasil, Robin yang memang sudah tidak betah di Infoseek memutuskan hengkang. Pilihan ini tepat karena tahun 2000, Infoseek menjadi korban gelembung perusahaan dotcom.

Ketiga, pada 1999, Pemerintah China mengundang Robin ke Beijing untuk perayaan ulang tahun rezim komunis ke-50. Pemerintah China terkesan dengan buku Business War in Silicon Valley yang ditulisnya pada 1998. Di sini Robin melihat potensi besar dari mengintegrasikan jaringan internet di China.

Adapun alasan kenapa dipilih nama Baidu. Nama ini terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song (960-1279 Masehi).

Nama Baidu, yang secara literal berarti ratusan kali, bagi Li memiliki makna pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan.

Secara garis besar, misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna, sebut Li dalam sebuah kesempatan.

Saat awal operasional Baidu, Robin dan Eric menjual Baidu sebagai aplikasi berbayar ke situs-situs portal China. Meskipun sudah mendapat pelanggan yang besar, Baidu masih belum menguntungkan. Robin merasa kesal karenanya. \”Saya ingin meningkatkan kemampuan pengalaman mesin pencari, tapi portal tidak mau membayar untuk itu,\” katanya.

Akhirnya, di 2001, Robin melakukan langkah berani dengan mulai mengabaikan portalpelanggan portal. Langkah ini tentu saja menghapus sumber rezeki Baidu dan membuatnya menjadi perusahaan independen. Akhir tahun itu, ia mengesampingkan perannya sebagai CEO untuk sementara. Robin mengambil alih kontrol pengembangan mesin pencari Baidu melalui proyek bernama Shan Dian yang berarti petir dan guntur dalam bahasa China.

Robin melipatgandakan rapat mingguan mereka. Ia pun sering tidur di kantor. Usaha kerasnya pun berbuah manis karena pada akhir 2002 jumlah situs yang bisa dicari melalui Baidu 50% lebih banyak ketimbang para kompetitornya. Pada 2003, Baidu sudah menjadi mesin pencari terbesar di China.

Kesuksesannya tidak berjalan mulus. Eric malah hengkang dari Baidu lantaran merasa tanggung jawabnya sering di campurtangan oleh tindak otoriter Robin. Eric kemudian memutar haluan untuk mengejar mimpinya di bidang bioteknologi.

\"\"

Saat menggelar IPO pada 2005, Baidu baru mencatat omzet sebesar US$ 13,4 juta. Baidu mencetak kenaikan harga saham IPO tertinggi pada perdagangan saham hari pertama dalam 10 tahun terakhir. Saham Baidu yang tercatat di Nasdaq dijual di harga US$ 27 per saham. Pada pembukaan perdagangan, harganya sudah naik ke posisi US$ 66 per saham dan ditutup US$ 122,54.

Kenaikan harga yang luar biasa ini sebagian besar dipicu Googlemania, julukan yang diberikan pengamat saham terhadap pemain saham yang percaya munculnya Google-Google lain, karena saat itu .

Suksesnya penjualan saham perdana alias IPO Baidu di tahun 2005 sebenarnya melebihi harapan Robin Li sendiri. \”Ini adalah sebuah kejutan bagi saya yang tak pernah menduga performa seperti ini,\” ujar Robin. tak heran peristiwa ini langsung mendongkrak kekayaan Robin Li hingga mencapai US$ 600 juta.

Fenomena harga saham Baidu di hari pertama perdagangan nan fantastis itu jelas menyadarkan semua orang bahwa Baidu adalah mesin pencari terbesar di China. Dalam sebuah wawancara dengan tabloid The Guardian, Robin pun tak ragu kalau Baidu suatu saat nanti akan mampu mengalahkan Google di China.

Salah satu entry point dari keberhasilan Robin adalah kemampuannya untuk menerapkan pelbagai pengalamannya saat bekerja di Dow Jones yang berada di New Jersey dan Infoseek di Silicon Valley. Meskipun berada dalam satu negara, New Jersey merupakan pusat bisnis yang menuntut mobilitas tinggi; sementara Silicon Valley sangat menghargai proses kreativitas.

Selama mengoperasikan Baidu, Robin pun belajar bahwa keragaman budaya yang terlalu besar antara China dan negara-negara Barat membuat perusahaan sekaya apa pun susah memasuki pasar China.

Keyakinan Robin pun makin bertambah setelah melihat tiga portal teratas di Negeri Tembok Raksasa ternyata juga dimiliki oleh warga asal China. Ia menunjuk Yahoo! yang dimiliki oleh orang China dan perusahaan game online milik China lainnya, seperti Shanda dan Netease.

Robin pun menyelipkan fitur tambahan chatting room di mesin pencarinya. Soalnya, ia menyadari orang-orang China sangat senang menggosipkan bintang-bintang terkenal. Alhasil, ketika seseorang mencari situs seorang selebritis, ia langsung bisa bergosip ria soal bintang itu dengan sesama penggemar lainnya.

Selain itu, bagi pengguna internet di China, informasi bukanlah hal yang sangat penting. Pengguna internet yang mayoritas berusia kurang dari 30 tahun, lebih banyak menggunakan internet untuk bermain.

Robin pun menyulap Baidu supaya lebih cepat mencari situs permainan. Sebab, kebutuhan informasi penggunaan internet selalu berubah setiap saat. \”Karena kami perusahaan lokal, kami mampu menangkap perubahan dengan sangat cepat. Kami mengerti bahasa dan budaya China dengan baik,\” ujarnya.

\"\"Bagi perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa bahasa selama ini menjadi kendala terbesar untuk bisa berkembang di negara-negara Asia Timur. Nah, keunggulan mesin pencari Baidu yaitu kemampuan untuk membedakan nama-nama China yang terdiri dari dua huruf hingga tiga huruf. Sehingga, hasilnya lebih relevan daripada para rivalnya.

Dalam sebuah artikelnya, majalah Forbes menuliskan kesuksesan Baidu yang seakan menegaskan bahwa di dunia web yang tanpa batas, bisnis lokal tetap akan lebih unggul.

Majalah Business Week pernah mengulas, cepat atau lambat Baidu akan rontok. Para analis skeptis ini membandingkan booming bisnis internet di Cina dengan gelembung dotcom di Amerika Serikat (AS) yang pecah tahun 2000.

\"\"Tetapi dalam perkembangannya Baidu semakin menunjukkan perbedaan antara bisnis mesin pencari dengan gelembung dotcom di AS. Apalagi, perusahaan-perusahaan internet China yang terdaftar di Nasdaq bisa menghasilkan keuntungan. \”Pasti ada orang yang memuji atau mengkritik, tapi saya benar-benar tak punya waktu untuk memikirkannya,\” tegas Robin.
Tapi alih alih kebal dari krisis DotCom justru tantangan muncul dari hasil kebijakan Robin Li sendiri dalam membangun kerajaan bisnis Baidu. Salah satu tuduhannya sangat serius. Baidu disebut sebagai pemimpin dari pembajakan besar-besaran di China. Maklum, awal berdiri, Baidu memang menawarkan situs-situs yang langsung membuat pengguna dapat mengunduh semua lagu dari band atau penyanyi mana pun.

DI tahun 2005 saja ternyata sebanyak 25% lalu lintas di Baidu adalah mengunduh lagu-lagu. Hal ini yang membuat Baidu di tuntut Raksasa musik EMI di tahun yang sama, sejak itu Baidu mengurangi link ke situs-situs MP3. Hingga pada tahun 2009, angka pengunduh tinggal 5%.

Kemudian masalah timbul pada sistem pay for performance di baidu, yaitu situs-situs harus membayar untuk mendapatkan prioritas penempatan link di Baidu. Mereka yang tidak setuju pun lantas membentuk aliansi yang disebut Fanbaidu yang dalam bahasa China berarti anti-Baidu.

Puncaknya di tahun 2008. DI tahun itu, Baidu banyak diterpa skandal yang merusak citranya sebagai mesin pencari. Sanlu Group, produsen susu yang mengandung melamin, pada September 2008 ternyata membayar Baidu agar menyaring situs-situs yang dapat merugikan Sanlu dari pencarian.

Aib ini terbongkar dari sebuah dokumen internal Baidu yang beredar luas di internet. Dokumen ini beredar luas di kalangan blogger sebelum dimuat oleh Alibaba di situsnya. Baidu dipaksa mengalokasikan waktu yang sangat berharga untuk mengontrol kerusakan imej mereka.

Saat sedang memperbaiki citranya yang hancur lebur, sebulan kemudian, sebuah stasiun televisi milik Pemerintah China menayangkan dua seri pemberitaan tentang iklan kesehatan di Baidu. Berita ini mengungkap, bahwa banyak iklan kesehatan yang ada di Baidu dipasang oleh dokter gadungan, rumah sakit fiktif, dan apotek ilegal.

Stasiun televisi pelat merah itu menyebut, ada batas yang sangat tidak jelas dalam Baidu antara iklan dan hasil pencarian. Ini lantaran iklan hanya diberi label kecil bertuliskan promosi. Tentu saja, ini sangat membingungkan pengguna. Dan praktik ini selalu dihindari Google dan mesin pencari internet lain.

Tiga hari setelah penayangan pemberitaan itu, saham Baidu langsung anjlok 38%. Dalam hitungan hari, Robin pun dengan sigap mengeluarkan kebijakan Baidu akan membuang semua iklan kesehatan yang menipu, yang tiap tahunnya ternyata menyumbang 15% pendapatannya atau sekitar US$ 70 juta per tahun.

Sebuah survei di 2008 juga mengambil kesimpulan bahwa pengguna Baidu menghabiskan waktu dua kali lebih banyak ketimbang pengguna Google sebelum menemukan situs yang dicari. Penyebabnya, Baidu mencampurkan antara iklan dan hasil dari pencarian.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, Robin lalu menjalankan sistem pengiklanan baru yang disebut Sarang Phoenix, yang hanya akan menempatkan iklan pencarian tertentu di kiri atas dan kanan hasil pencarian.

Tetapi, beberapa pengiklan menemukan bahwa dibutuhkan waktu empat kali lebih banyak untuk meraih hasil yang dicapai dibandingkan sistem sebelumnya. Dan, pengguna biasa mengacuhkan iklan di sebelah kanan.

Akhirnya sedikit demi citra Baidu mulai pulih kembali, hingga memungkinkan untuk mulai kembali mengalahkan Google di China.

Sementara itu Google China ternyata juga sedang bermasalah dengan pemerintah China. Google menyatakan bahwa para hacker China telah melakukan penyerangan dan mencuri karya intelektual miliknya, yang dilanjutkan dengan ancaman mengakhiri sensor atas konten yang diterapkan pada Google China.

Menurut Google, para hacker bertujuan mengakses akun milik para aktivis hak asasi manusia China di laman surat elektronik Gmail. Serangan cyber juga terjadi pada laman milik 20 perusahaan besar di sektor keuangan, teknologi, media, dan kimia.

\”Kami sadar bahwa kebijakan ini akan menutup laman Google.cn dan berpotensi menutup kantor-kantor kami di China,\” David Drummond, Kepala Eksekutif Pengembangan Korporat dan Urusan Hukum Google. Dia menegaskan bahwa keputusan ini berdasarkan arahan dari para eksekutif Google di Amerika Serikat dan \”tanpa sepengetahuan atau keterlibatan para staf di China.\”

\"\"Akhirnya, Google menyerah dan meninggalkan China dengan mengalihkan server-nya ke Hong Kong. Walau Google hengkang dengan alasan memegang prinsip kebebasan, kepergiannya jelas merupakan kesempatan Baidu untuk memonopoli bisnis mesin pencari internet di Negeri Tembok Raksasa.

Sebenarnya, Google bisa memiliki Baidu pada IPO tahun 2005, tapi mereka tidak mendengar penasihat keuangan untuk menaikkan tawaran US$ 2 miliar. Keputusan Google pada Maret 2010 untuk mengalihkan server-nya ke Hong Kong membawa angin baik bagi Baidu. Perpindahan itu didasari keinginan Google untuk tidak lagi menyensor berita sesuai prinsip kebebasan pers yang dianut pendirinya.

Namun, keputusan ini diperkirakan akan membuat dominasi Google sebagai mesin pencari di China semakin mengecil. James Mitchell, analis Goldman Sachs, mengatakan, akses internet dari China ke server Google di Hong Kong akan lambat atau lebih buruk, tidak ada sama sekali.

Inilah yang membuat Baidu bisa menikmati monopoli mesin pencari berbahasa China. Kompetitor lain tak ada yang menguasai lebih dari 1% pasar. Erick Schmidt, Chief Executive Officer (CEO) Google saat itu, sebenarnya sudah menyadari, keluarnya Google dari China akan membawa konsekuensi negatif. Oleh karena itu, ia berusaha membujuk dua pendiri Google, Sergei Brin dan Larry Page untuk memikirkan kembali keputusannya. Tapi, melalui Chief Legal Officer (CLO) David C. Drummond, Google bergeming.

\”Setelah beberapa tahun mencoba mematuhi hukum di China, kami menilai tidak konsisten dengan nilai yang kami anut,\” tandas Google. Sebetulnya, Baidu dan Google sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan, pada 2004, Google menginvestasikan US$ 5 juta di Baidu. Ini adalah strategi Google agar ke depan situs pencari internet paling populer sejagad itu bisa mengakuisisi Baidu.

Pada saat Baidu melakukan penawaran saham perdana alias IPO pada 2005, sebenarnya Google mengajukan tawaran akuisisi sebesar US$ 1,6 miliar. Tawaran Google itu pun mendapat sambutan dari Draper Fisher Jurvetson yang merupakan salah satu investor awal Baidu. Ia secara agresif melobi Baidu agar melepas sahamnya ke Google.

Tetapi, Robin Li bekerja keras meyakinkan para anggota dewan direksi Baidu untuk tidak menerima pinangan Google. \”Saat itu adalah periode yang membuat saya sangat stres,\” ungkap Robin. Akhirnya, anggota dewan direksi setuju dengan Robin. Apalagi, terdengar kabar Robin akan mundur demi menggagalkan lamaran Google.

Menurut Asad Jamal, salah satu anggota dewan direksi Baidu, akuisisi Google akan berhasil jika mereka mengerek tawarannya menjadi US$ 2 miliar seperti yang disarankan penasihat keuangannya. Setelah gagal mengakuisisi Baidu, persaingan Google dan Baidu semakin keras.

Bahkan, saat Brin dan Page ke Baidu pada akhir 2005, Robin sengaja menjadwalkan pertemuan tersebut pada hari libur nasional, sehingga mereka tidak mengetahui berapa insinyur yang dimiliki Baidu. Puncaknya, pada Februari 2010, Google mengalami percobaan hacking pada sistem surat elektronik atau email.

Namun, runtuhnya dominasi Google di China membuat Brin dan Page berang. Mereka menuduh ada kongkalikong antara Baidu dan Pemerintah China. Apalagi pengguna internet di China yang mengetik Google.cn dialihkan ke situs Baidu. Schmidt bahkan pernah menyatakan, Pemerintah China sangat berpihak dan menguntungkan Baidu. Sebab, dibandingkan dengan Google, Baidu adalah anak yang baik. Atas permintaan Pemerintah China, para pengguna Baidu tidak akan dapat menemukan berita-berita politik yang sensitif mengenai Taiwan, Dalai Lama, peristiwa berdarah Tianmen, dan pornografi.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google

Catatan Kaki Teknologi Informasi