May 17

Facebook dan Twitter, dua kata yang sangat populer saat ini dalam bisnis dotcom, persepsi orang tentang suksesnya kedua dotcom itu pasti akan terpaku pada Bosnya, yaitu Mark Zuckerberg dan Jack Dorsey. Tetapi kalau mau jujur siapakah orang yang sangat berjasa pada mereka sehingga bisa berhasil ? tak banyak yang tau..

Baiklah kita mulai dengan Facebook, yaitu Sean Parker, mantan programmer di Napster. Dialah orang yang berhasil membesarkan Facebook pada 2004. Saat itu situs bikinan Zuckerberg sudah terkenal di Universitas Harvard, tapi belum di universitas lain. Eduardo Saverin, kawan Zuckerberg yang jago algoritma saat membuat Facebook, malah sibuk mencari iklan ke sana sini.

Sean Parker datang menertawakan yang dilakukan Saverin. Katanya, mencari iklan itu hal kecil. Iklan apa yang bisa dicari di New York untuk Facebook? tanyanya. Dengan wajahnya yang santai dan urakan, dia mengejek Saverin, yang selama ini bermimpi membesarkan Facebook dengan mencari iklan, (Dapat) sejuta dolar itu bukan hal keren. Kamu tahu yang disebut keren? (Dapat) semiliar dolar!

Beberapa hari setelah ejekannya itu, Sean Parker benar-benar mendatangkan US$ 500 ribu (Rp 4,5 miliar) ke Facebook. Peter Thiel, pendiri situs pembayaran lelang nomor satu di online, PayPal, sudi menjadi investor situs jejaring sosial tersebut, meski saat itu sudah ada Friendster atau MySpace. Thiel rela uang Rp 4,5 miliar itu ditukar dengan 10 persen saham Facebook!

Mungkin kalau di Indonesia orang akan bilang, Thiel sudah sinting. Perusahan kemarin sore itu terlalu pede dengan harga sahamnya. Padahal, saat itu Facebook belum banyak dikenal oleh warga Amerika sendiri. Tapi, Thiel adalah salah satu Raja Midas di bisnis dotcom. Dia investor yang kalem, bertangan dingin, dan bukan orang yang suka campur tangan. Dia tahu, Facebook bisa menjadi raksasa bila diserahkan kepada orang gila seperti Zuckerberg. Itu yang dia lakukan saat membesarkan PayPal. Benar, suntikan Thiel inilah yang kemudian membuat Facebook menggelembung.

Para penyihir seperti Sean Parker dan Peter Thiel di Amerika Serikat jumlahnya ribuan. Mereka adalah orang-orang yang memburu dotcom (perusahaan online) yang baru tumbuh (start up), lalu menggerojoknya dengan dolar sehingga perusahaan itu mengkilap. Setelah itu, mereka akan memetik keuntungan saat nilai saham perusahaan tersebut melambung atau diakuisisi raksasa Internet lainnya.

Nah bagaimana dengan Twitter, Evan Williams adalah salah satu contoh penyihir dotcom. Dia berhasil membesarkan Blogger lewat perusahaannya, Pyra Labs, dan menjualnya kepada Google. Punya sekarung duit, Evan keluar dari Google setahun kemudian dan mendirikan Odeo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang rekaman audio di Internet (podcasting). Di perusahaan ini, bisnis Evan tak terlalu menonjol. Namanya baru melejit lagi setelah membesarkan Twitter bersama pendirinya, Jack Dorsey. Twitter sekarang jumlah anggotanya sudah 200 juta orang atau sepertiga dari jumlah anggota Facebook. Saya adalah lelaki beruntung. Dalam 12 tahun ini ada dua proyek besar yang berhasil, kata Williams. Saya berhasil karena didukung orang-orang brilian.

Di Amerika Serikat, orang-orang seperti Evan Williams, Sean Parker, dan Peter Thiel inilah yang membuat dunia dotcom hidup. Kreativitas liar para programmer disambar oleh tangan-tangan bisnis andal, hasilnya adalah ledakan-ledakan dotcom baru, seperti Facebook, Twitter, Blogger, dan YouTube.

Orang-orang seperti Evan William atau Sean Parker itulah yang langka di Indonesia. Faktor entrepreneurship di Indonesia selalu terbentur dalam hal urusan modal. Sangat sulit bagi pejuang-pejuang IT di Indonesia yang punya jiwa kreatif untuk bisa mengimplementasikan hasil karyanya menjadi sebuah bisnis yang akan mendatangkan uang. Belum banyaknya Venture Capital (semacam perusahaan pemodal sekaligus inkubator bisnis) yang bersedia menanggung resiko besar untuk para mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ingin menjajal ide kreatifnya untuk dibisniskan. Ini di perparah dengan sedikit yang mau atau mengerti skema investasi di bidang DotCom.

Padahal Untuk seperti lahirnya Dotcom seperti Facebook dan Twitter Kita butuh orang seeprti Evan William dan Sean Parker. Selama ini tak banyak kisah akuisisi dotcom di negeri ini yang sukses. Pada awal 2000-an ada akuisisi Satu.net dan Astaga.com. Tapi, nama itu kini sudah terkubur. Kini, kita melihat akuisisi bayi-bayi dotcom seperti Koprol oleh Yahoo! atau Kaskus oleh grup Djarum. Mudah-mudahan saja tangan para pemodal itu sedingin Peter Thiel. Indonesia memimpikan Raja-raja Midas dotcom.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Jan 15

Klout merupakan sebuah aplikasi yang memungkinkan user untuk melakukan pengukuran atas pengaruh mereka di social web. Dengan Klout user bisa melakukan pelacakan atas pengaruh dari opini, link, serta rekomendasi yang user lakukan lewat tweet mereka. Klout mengumpulkan berbagai data dari konten yang user buat, kemudian melakukan analisa untuk menemukan indikator-indikator dari pengaruh yang user berikan ini pada lingkungan sosial mereka di web.

Belum lama ini Klout mendapatkan suntikan dana dari para investor dengan jumlah total sebesar $1,5 juta dan mempersiapkan berbagai perkembangan baru dari aplikasi mereka. Investasi yang didapatkan oleh Klout merupakan investasi round A yang mereka dapat dari berbagai investor antara lain ff Asset Management, Bobby Yazdani, Allen Morgan, Nova Spivack, Zelkova Ventures, Grape Arbor,Paige Craig,Tom McInerney, Michael Yavonditte, Shervin Pishevar, Ofer Ronen, dan seperti yang diumumkan lewat blog mereka, Klout juga sedang mempersiapkan pengembangan baru dari berbagai layanan yang telah ditawarkan Klout sekarang.

Dengan tingkat perkembangan Twitter serta penggunaannya yang semakin luas, aplikasi seperti Klout ini cukup berguna dalam memberikan data bagi para user untuk melakukan pengukuran posisi diri mereka di social web, bagaimana mereka mempengaruhi orang lain maupuan siapa saja yang mempengaruhi diri mereka.

Belum lagi berbagai aplikasi social network client juga menggunakan API mereka, salah satunya HootSuite yang memberikan fitur yang memungkinkan user untuk melihat skor Klout langsung dari HootSuite. Selain itu juga ada sekitar 300 perusahaan yang menggunakan layanan Klout.

Jika anda pengguna Klout mungkin anda menyadari ada beberapa perubahan tampilan seperti logo dan dibeberapa bagian ada warna-warna baru di situs mereka, tapi yang paling saya sukai dari Klout adalah kemudahan dalam penggunaannya, anda tinggal mengetikkan nama user, topik atau list untuk melihat seberapa jauh kadar pengaruh yang anda miliki.

Klout juga dilengkapi dengan berbagai keterangan tentang istilah yang ada di berbagai fitur mereka yang membuatnya mudah untuk dipelajari, meski untuk penggunaan lebih lanjut memang harus menyediakan waktu untuk mempelajari berbagai fitur yang ada di Klout.

Selain untuk penggunaan, pertumbuhan para developer yang memberikan nilai tambah bagi perkembangan Twitter seperti Klout ini juga menarik untuk terus dipantau, sejak akuisi atas Tweetie yang membuka mata para developer tentang kemungkinan Twitter untuk mengembangkan atau mengakuisi apa yang dikembangkan oleh developer, maka melihat pertumbuhan Klout bukan hanya melihat fitur yang disediakan Klout saja tetap juga melihat ekosistem, dari Twitter itu sendiri, apalagi pengukuran menjadi salah satu unsur utama dari penggunaan social media, dan layanan yang diberikan Klout bisa jadi akan menarik bagi Twitter.

Dana investasi biasanya memang digunakan untuk pengembangan, semoga saja investasi yang diterima Klout bisa membuat fitur-fitur ada menjadi lebih lengkap dan menarik lagi, dan pengguna social web bisa terus menggunakan layanan Klout untuk mengukur tingkat kehadiran dan peran mereka di social web termasuk user dari Indonesia. Jadi tunggu apa lagi, coba aja buka aja klout.com

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Mar 03

Sering baca status Twitter atau status FB atau juga tahu tentang Situs Kaskus.us, Forum Komunikasi terbesar di Indonesia, kalau kita baca isinya tak jarang ada kalimat yang sangat kasar.. dan ada juga yang sopan. Rata-rata yang ikut di forum kaskus terbesar adalah Generasi muda, yang terhitung sekarang duduk di bangku SMP dan SMA, dan mungkin sudah ada yang kuliah dan bisa memberikan gambaran tentang bagaimana wajah generasi muda Indonesia, dan mereka adalah generasi yang dibesarkan oleh kultur media kotak ajaib atau televisi yang setiap hari selalu menyajikan mimpi dan budaya instan. Juga sinetron yang isinya tampar-menampar, hujat-menghujat, pukul-memukul, dan ekspos wilayah private menjadi liputan utama padahal prinsip jurnalistik hanya meliput ranah publik.

Karena itu, tak mengherankan jika anak-anak muda kita punya kemampuan mencaci maki dengan kecepatan sekian kata jorok per detik. Untuk mengetahui isi kepala anak-anak kita, yang baca aja di Forum Kaskus, atau lihat aja update status mereka di Facebook, Twitter, blog, situs web pribadi, dan situs jejaring pertemanan lainnya. Tapi tak jarang juga masih ada mereka yang tak masuk dalam orang-orang yang menyia-nyiakan teknologi canggih ini untuk nyampah, kita sebut saja netizen.

Hidup dengan sampah-sampah konten sudah lama dialami di dunia internet. Namun, sebagai netizen yang cerdas tentunya kita tak akan keblinger. Jadilah netizen yang beretika dan bertanggung jawab karena dunia online seharusnya dunia penuh keceriaan dan kenyamanan. Tunjukkan kalau dunia internet kita punya kontrol mandiri terhadap konten yang ada

Kenapa kita harus peduli etika? Berinternet ria bukanlah lepas sama sekali dari dunia nyata. Jati diri kita tetap akan dibawa di dunia maya mengingat saat ini dunia maya adalah tempat yang efisien untuk menelusuri rekam jejak seseorang.

Para wartawan sering menggunakan internet untuk mengetahui rekam jejak seorang narasumber. Jadi, kalau Anda seorang psikolog anak, misalnya, tetapi tak pernah berkontribusi menulis yang baik di internet soal psikologi anak, ya Anda tak punya rekam jejak yang baik di internet.

Jika sebuah perusahaan menerima lamaran pekerjaan Anda, dan Anda mengaku sebagai ahli komputer atau hacker yang sudah berpengalaman, salah satu cara mengetahui jejak Anda adalah dengan Googling nama Anda.

Jika nama Anda banyak memberi kontribusi dan banyak dipuji rekan-rekan, itulah iklan gratis yang akan menolong Anda untuk diterima kerja. Jika rekam jejak Anda ternyata menemukan nama Anda ternyata seorang cracker jahat yang sering mengusili situs web orang lain, maka selesai sudah karier Anda.

Etika adalah sesuatu yang filosofis yang seharusnya di atas segalanya, di atas regulasi pemerintah yang ada. Jadi, jika Anda sudah menerapkan prinsip etika dan sopan santun, regulasi konten pemerintah bukanlah persoalan dan Anda tak punya urusan dengannya.

Etika ini termasuk tidak mengunggah materi pornografi dan materi ilegal yang ada hak ciptanya di situs web yang bukan tempatnya. Kenapa? Kelak jika Anda sudah punya anak atau Anda sudah menghasilkan karya yang ada hak ciptanya, pasti punya jawaban atas konsep ini.

Sumber :

 http://koreanwithajenk.wordpress.com/200…

 http://media-ide.bajingloncat.com/2010/0…

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 06

Kita semua tahu tentang mulai naik daunnya Twitter di jagad Maya ini, tapi tidak semua tahu siapa orang di balik Twitter, yang tak lain adalah anak muda yang Kuliahnya tak tamat. Kerja luntang-lantung. Hidup pun dia harus berpindahpindah dari Nebraska, Florida, dan Texas, California, untuk mencari kerja.
“Setiap musim panas saya harus mengairi tanaman,” kata Evan Williams. Itu 10 tahun sebelum namanya berkibar sebagai pendiri Blogger.com dan Twitter.com.

Sekarang 55 juta pengguna Twitter dan puluhan juta pengguna Blogger akan berterima kasih kepada anak muda ini. Twitter dan Blogger telah menjadi denyut rutinitas sehari-hari. Siapa sangka dia begitu berpengaruh. Perusahaan-perusahaan hebat, seperti IBM, Dell, dan Jetblue, pun memakai Twitter–peranti pengirim pesan yang berisi 140 karakter. Petenis kondang Serena Williams, musisi John Mayer, sampai sutradara Joko Anwar serta pendeta-pendeta di Amerika banyak yang kecanduan Twitter. Bahkan pemilu di Iran pun bisa ditekan dunia internasional berkat Twitter–peranti yang tak bisa diblok pemerintah Iran.

Siapa sangka temuan ini lahir dari pemuda yang mengaku hidupnya berantakan. Sepuluh tahun hidupnya adalah sepuluh tahun yang sia-sia. Pada 1994, selepas SMA dia hidup bergantung pada kebodohan orang terhadap Internet. Saat Internet mulai tumbuh–apakah Anda sudah kenal Internet saat itu?–Williams memproduksi CD-ROM. Isinya video tentang cara menggunakan Internet. Dia juga menyewakan server untuk web hosting.

Tapi William bukanlah Soicihiro Honda, kapitalis Jepang pintar membuat bisnis mobil Honda. Williams merekrut beberapa temannya dan bermimpi menjadi konglomerat. Tapi ternyata temannya tak pintar mencari uang. Segudang “penyakit” pengusaha amatir melekat padanya.
“Saya tak bisa bernegosiasi, kehilangan fokus, dan tak punya disiplin,” kata Williams. Bisnisnya amburadul. Sampaisampai dia punya utang pajak dan membuat karyawannya marah.

“Hidup saya adalah rangkaian orkestra kecelakaan,” ujar Williams. “Saya selalu mengidap halusinasi optimisme yang akut.” Pernah, dia sampai melek semalam suntuk di perusahaan pertamanya.
Tapi esoknya dia kebingungan mencari recehan yang tersisa sekadar untuk sarapan.

Sejarah mulai berpihak kepadanya setelah akhirnya dia bekerja di O’Reilly Media pada 1997. Ia mulai belajar teknik membuat web. Penyakit halusinasi optimistis menghinggapinya lagi. Dia melahirkan Pyra Labs dengan temannya, Meg Hourihan, membuat proyek Blogger, sebuah teknik mudah untuk membuat web.
Enam tahun kemudian, situs itu dibeli Google dan dia bekerja selama dua tahun untuk Goliath Internet itu.

Sejak itu hidup William senikmat orkestra. Dia lalu mengajak Jack Dorsey–insinyur di perusahaan barunya, Odeo. Mereka mendirikan Twitter. Dorsey sejak dulu memang terobsesi pada status. Tapi bukan status sosial. Dia terobsesi melahirkan peranti yang memungkinkan orang membaca status komputer. Contohnya, “Habis dimarahi bos”, atau “Rindu pada tom yam gung”.

Twitter tiba-tiba saja menjadi demam baru di Amerika Serikat, menyusul kesuksesan Facebook. Sekarang pengguna Twitter sudah 55 juta orang. Bahkan, saat Barack Obama hendak dilantik pun, dia–atau mungkin orang suruhan dia-sempat menulis status di Twitternya. “Terima kasih telah mempercayakan amanah kepada saya.” Para pakar Internet juga memprediksi, “Twitter adalah koran masa depan, karena status pengguna adalah berita.”

Kini anak luntang-lantung itu telah memetik sukses. Meski belum untung, Twitter telah meraup US$ 55 juta atau Rp 0,5 triliun dari investor. “Ibu saya sekarang tak khawatir lagi, terutama sejak saya menikah 1,5 tahun lalu.”

Sekalian mau lihat kantornya Twitter coba aja ke sini http://asroelsani.wordpress.com/2010/07/…

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
Dec 01

nbsp;Asrul.blogdetik.com - Twitter akan mulai memberlakukan penarikan biaya pada beberapa layanannya mulai tahun depan. Hal ini disampailan oleh salah satu investor Twitter, DG Mobile pada konferensi Mobidec2009 awal minggu ini.

Sistem pemungutan biaya ini dikenakan pada pengguna Twitter yang hendak melihat tweet-tweet yang datang dari pemilik akun premium. Pemilik akun premium adalah mereka yang setuju untuk melakukan langganan berbayar yang dibuka mulai Januari 2010 nanti.

Dengan memilih opsi berlangganan, maka sang pemilik akun bisa menarik bayaran pada pengguna Twitter yang ingin mengakses tweet mereka, termasuk juga link ke website dan foto yang diposting. Dan bagi user yang ingin membayar akses penuh pada akun premium ini, mereka bisa melakukannya dengan cara membayar bulanan lewat kartu kredit atau tagihan biaya ponsel.

Harga yang dipasang mulai dari US$ 1,15 hingga US$11,60 dan Twitter akan mengambil 30% dari biaya yang terkumpul.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google

Catatan Kaki Teknologi Informasi